Senin, 23 November 2015

TENUNAN PRINGGASELA

                                                       TENUNAN PRINGGASELA



Jika Anda ingin melihat bermacam jenis tenunan dan songket, jangan ragu untuk berkunjung dan berkeliling di Desa pringgasela. Anda akan menemui wanita-wanita yang mengoperasikan alat tenun tradisional di depan rumah mereka. Hasil kerajinan mereka adalah kain tenun ikat dan songket tenun.
Bagi seorang gadis di Desa Pringgasela, menenun adalah sebuah kewajiban yang harus dikuasai. Kemampuan menenun merupakan salah satu bagian dari kebudayaan kearifan lokal Desa Pringgasela. Sebelum menikah, seorang gadis harus membuat sebuah tenunan untuk calon suaminya nanti. Selembar kain yang menjadi lambang cinta dan kepatuhan. Dengan menenun, seorang wanita bisa membantu suaminya dalam mencukupi kebutuhan hidup.
Di Desa Pringgasela ini, Anda bisa mengikuti proses penenunan yang dilakukan oleh seorang wanita. Mulai dari memintal benang, mengikat benang untuk mendapatkan motif, pewarnaan, hingga menenun. Semua itu dilakukan ketika seorang wanita mempunyai waktu luang, setelah menyelesaikan pekerjaan rutin di rumah.
Dalam menenun, wanita penenun Desa Pringgasela masih memegang nilai-nilai tradisional budaya. Anda akan menemui peralatan menenun yang masih sederhana, ada yang besar dan ada yang berukuran kecil. Untuk menghasilkan kain tenun ikat dibutuhkan alat tenun yang berukuran besar. Sebaliknya, untuk menghasilkan tenun songket biasanya menggunakan alat tenun yang berukuran kecil.


Peralatan tenun biasanya memiliki sekitar 15 alat yang digunakan untuk membuat motif yang rumit. Sedangkan untuk pewarnaan, para pengerajin tersebut masih menggunakan pewarna alami. Seperti dedaunan dan kayu-kayuan. Kombinasi antara bahan-bahan alami dan teknik menenun yang masih tradisional menghasilkan sebuah kain tenun yang berkualitas. Sehingga Anda jangan heran, bila produk dari Desa pringgasela ini terkenal sampai keluar Pulau Lombok.
Untuk mengerjakan sebuah kain tenun, seorang penenun membutuhkan waktu sekitar 3 minggu sampai 1 bulan. Tergantung dari ukuran dan kompleksitas motif. Kain tenun yang paling diminati para pengunjung yaitu tenun motif khas Suku Sasak. Seperti Primitif, Sarinadi, Songket Sunda dan Songket Lambe. Anda bisa mendapatkannya dengan harga yang bervariatif pula. Mulai dari Rp. 200.000,- sampai 3 juta rupiah.


Selain kain tenun yang baru saja selesai dikerjakan, Anda juga bisa menemui kain tenun yang berumur puluhan tahun. Kain tenun yang ini tebuat dari bahan bulu, yang sengaja disimpan oleh sang penenun. Kain tenun ini sangat cocok bagi Anda yang seorang kolektor. Anda juga bisa mendapatkan kain tenun yang bervariatif fungsinya. Tak hanya untuk pakaian adat saja, Anda juga bisa mendapatkan kain tenun untuk bed-cover, taplak meja, hiasan dinding, serta selendang. Kain tenun yang bervariatif tersebut sangat cocok untuk dijadikan oleh-oleh.
Desa Pringgasela berlokasi sekitar 54 Kilometer dari Kota Mataram, atau sekitar 1 jam perjalanan. Anda bisa mengunjunginya dengan menggunakan kendaraan pribadi. Dari Kota Mataram, Anda bisa menempuh rute Mataram-Cakranegara-Narmada-Sedau-Mantang-Kopang-Terara-Sikur-Masbagik-Pringgasela. Sedangkan dengan menggunakan angkutan umum, Anda bisa menaiki angkutan dengan jurusan Mataram-Bertais . Kemudian dilanjutkan dengan jurusan Bertais-Masbagik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar