Jumat, 27 November 2015

MUSIK SEMPRONG


                                             MUSIK SEMPRONG





Di pulau Lombok, yang mayoritas dihuni oleh suku sasak, ada sebuah kesenian tradisional yang keberadaannya hampir punah, yaitu kesenian musik Semprong. Mungkin tak banyak yang tahu tentang kesenian yang satu ini.Pada dasarnya musik yang mempergunakan bambu sebagai alatnya.Ada tiga alat musik utama yang digunakan, yaitu semprong, suling dan pengkelek hujan. Ada dua jenis semprong yang digunakan yaitu berukuran besar dan kecil. Semprong kecil yang berukuran 80 cm dibuat dari kayu selelo, sementara semprong besar yang berukuran satu meter lebih menggunakan bambu sentul yang berbuku panjang. Bambu tersebut kemudian dibentuk seperti terompet. Dipilihnya bambu jenis selelo dan sentul ini, karena kedua jenis bamboo inilah yang mampu menghasilkan nada dengan baik. 


Tamborin alat musik Semprong ini dinamakan Pengkelek hujan, berbahan baku sama, bambu. Suara gemerincing yang dihasilkan bukan dari lempengan besi yang disatukan layaknya tamborin, tetapi dari tulang-tulang binatang buas yang dimasukkan kedalam bambu pengkelek hujan. Kumpulan tulang binatang seperti tulang buaya, macan, ikan hiu, dan berbagai tulang binatang buas lainnya itu, dipercaya sebagai mantra yang menyampaikan pesan ke langit agar hujan turun, karena bagi masyarakat sasak, dijaman dahulu, musik semprong merupakan musik pemanggil hujan.
“Semprong menghadirkan nada penghormatan kepada alam, sehingga mampu menghadirkan berbagai nada yang mencitrakan tunduk pada alam, seperti suara ombak, suara pemujaan, suara binatang seperti anjing, dan berbagai suara alam yang lain” terangnya kembali.Memang bila disimak alunan nada yang dihasilkan, mampu menggiring imajinasi untuk berkelana menembus ruang dan waktu. Seakan berjalan di tengah hutan seraya mendengarkan orkestrasi alam yang megah, hingga sesekali diajak untuk menembus lautan, mendengarakan lantunan nada dari gemericik ombak yang menghempas lautan, atau Susana pedesaan yang penuh dengan ketenangan dan sangat bersahaja. Sebuah visualisasi yang tercipta dari lantunan nada musik semprong.Mendengarkan musik semprong, tidak semudah memainkannya. Dibutuhkan kiat khusus untuk menghadirkan untaian nada. Hal inilah yang menjadi salah satupenghambat proses regenerasi di kesenian yang satu ini, walaupun hal tersebut bukanlah sesuatu yang vital, karena semua memang memerlukan proses pembelajaran.“Semprong menghasilkan nada bass di setiap tiupannya. Dan untuk meniup alat ini tidaklah gampang, karena menggunakan rongga diafragma, atau nafas dada dan tenggorokan, agar menbciptakan harmonissasi dengan alat lainnya, yaitu suling denngan pengkelek hujan,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar