Kamis, 26 November 2015

PESONA DESA SAPIT


                                                          PESONA DESA SAPIT



Keindahan dari Desa Sapit yang menjadi daya tarik utama wisatanya.Pertaniannya yang sangat maju namun dikerjakan dengan cara tradisional dan pemandangan pegunungan  yang memesona.   Di desa ini berdiri homestay sehingga para wisatawan dapat menginap lebih lama di Sapit sembari menikmati aneka keindahan alam yang tersaji.
Jika kita ke Sembalun dan memilih rute Masbagik – Aikmel – Swela – Pesugulan, kita akan melewati desa Sapit. Sebuah desa tradisional yang berada di kecamatan Swela. Jaraknya kira-kira 65 km dari kota Selong. Dari desa ini kita bisa melihat Samudera Indonesia dan Selat Alas sekaligus gunung Rinjani. Desa ini berada di ketinggian 1.100 mter dpl, sehingga udaranya dingin dan bersih. Sunrise di desa Sapit sangat indah karena kita bisa melihat matahari terbit dari arah daratan Sumbawa.
Turis yang tinggal beberapa hari di Sapit bisa mengagumi pesona alam desa ini dengan trekking di beberapa bukit yang ada di Sapit. Sekitar 5 kilometer di utara desa ini terdapat sumber air Lemor. Selain itu ada air terjun dan air Sebau yang mengandung belerang. Tidak hanya pemandangan saja yang mengesankan namun masyarakat Sapit yang sangat ramah dengan para pendatang. Mereka ini berprofesi sebagai petani. Uniknya, hingga kini mereka masih menerapkan cara bertani tradisional sehingga menambah kesan klasik di pedesaan ini.



Sebuah keunikan Sapit adalah keberadaan langgar Sapit yakni masjid peninggalan Wetu Telu yang berlokasi di Dusun Montong Kemong. Letaknya sekitar 500 meter dari pusat desa dengan terus mengikuti jalan. Langgar Sapit berada di pertigaan kedua setelah kita mengikuti jalan tersebut. Bangunan Langgar Sapit ini cukup menonjol karena berbentuk rumah khas suku Sasak yang saat itu tergolong cukup megah dan hingga kini masih terjaga kelestariannya. Namun begitu, ritual adat yang dulu sering dilakukan kini mulai jarang diteruskan. Sekarang, Langgar Sapit dijaga oleh pemangku adat karena dianggap sebagai tempat suci oleh warga setempat.


Wetu Telu adalah aliran falsafah yang pertama kali dianut oleh masyarakat Sasak. Kini, masjid ini hanya digunakan untuk peringatan hari besar agama seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Masjid juga digunakan untuk tempat pelaksanaan acara Ngayu-ayu yakni semacam ritual meminta hujan yang diiringi dengan musik tradisional Sasak yakni gamelan dan gendang Beleq. Selain itu ada ritual ada meminta doa kesuksesan dalam bertani dan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar