Jumat, 27 November 2015

GONG SULING


                                    GONG SULING DESA LEMBUSARI NARMADA




Kelestarian seni dan budaya terancam mengalami masa transisi bahkan terancam punah, jika tak ada yang memiliki kepedulian untuk melestarikannya secara baik dan bahkan generasi penerus seni dan budaya itu diketahui banyak yang tak memiliki minat bagi upaya mengapresiasi seni dan budaya itu sendiri. 
Di Lombok misalnya, pulau yang selain dikenal akan keindahan alamnya, juga kesyaratan budayanya yang masih kental dan bercorak ragam, jika produk atau tampilan suatu seni dan budaya tak ada pelestarian, maka tinggal menunggu kepunahannya saja dan tentu saja akan mengalami kesulitan dalam menawarkan nilai jual kepada wisatawan. Karena esensi seni dan budaya ini sangat bertaut erat dengan media wisatawan sebagai nilai lebih.
Salah satu item seni dan budaya masyarakat Lombok yang nyaris punah adalah gong suling. Gong suling merupakan atraksi seni dan budaya di Lombok yang masih dilestarikan saat ini. Sanggar seni budaya Lembusari, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat adalah salah satu sanggar seni dan budaya yang masih melestarikan gong suling ini.
Gong suling pada zaman perkembangannya, memang cukup mendapat tempat dari para penikmatnya. Alasannya, suara suling yang mendayu-dayu, turun rendah bak angin melambai dikombinasi dengan suara pukulan gong yang bergetar membahana membawa inspirasi pikiran penikmatnya menjadi seakan terbawa dalam suara musik atau gamelan yang membuat pikiran menjadi lebih jernih dan bersih.
Namun dalam perkembangannya, kesenian ini menjadi kurang begitu bersahabat atau familiar. Ini ditandai dengan peminatnya yang makin berkurang dan para skehanya (pemainnya) yang cukup berumur bahkan ada yang sudah uzur. Ini artinya upaya pelestariannya oleh generasi saat ini tak memiliki harapan.



Profil gong suling bisa dikatakan terbagi dalam tiga jenis. Diantaranya, suling saling sahut-menyahut menciptakan suatu irama etnikyang harmoni. Dentuman dua buah gong pertanda ketukan akan perpindahan nada. Sementara rincik dan petuk menyelaraskan sajian musik tersebut dengan utuh. Gong suling merupakan seni musik yang focus pada seruling dan gong sebagai pelengkap sajian musiknya.
Terdapat tiga jenis suling yang digunakan, pemetik berukuran kecil, penegar berukuran sedang dan yang paling besar disebut barangan. Dalam satu kelompok gong suling itu terdiri dari 25 orang. Dua buah gong dipegang oleh satu orang pemain. 21 orang meniupkan tiga jenis suling. Sementara tiga orang selebihnya masing-masing memegang rincik, petuk dan seorang vokalis (penyanyi).
Kesenian  Gong Suling ini berasal dari Lembuak, kecamatan Narmada, Lombok Barat. Dahulunya di setiap desa di Narmada terdapat minimal satu kelompok gong suling. Ternyata hanya satu kelompok saja yang masih eksis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar