Kamis, 08 Oktober 2015

Songket Khas Lombok di Sukarara



 Songket Khas Lombok di Sukarara

Sukarara adalah nama sebuah desa tepatnya berada di kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Desa ini berpopulasi sekitar 150 kepala keluarga yang semuanya memiliki alat tenun tradisional. Karena menggunakan alat penenun yang tradisional maka kemampuan produksi mereka tidak terlalu banyak. Proses pembuatan kain songket memakan waktu lama. Setidaknya membutuhkan waktu 1 bulan untuk menghasilkan 1 lembar kain dengan lebar 1,2 meter dan panjang 2 meter. Tingkat kerumitan dan motifnya menentukan harga kain yang rata-rata berkisar antara Rp. 100 ribu hingga Rp. 5 juta perlembar.

Kain songket yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk pakaian namun juga mempunyai fungsi dekoratif sebagai pelengkap ornamen interior rumah. Songket Sukarara memiliki ciri khas dengan pola tradisional timur dan penggunaan benang songket emas. Pola dan pewarnaan yang digunakan oleh wanita-wanita Desa Sukarara merupakan nilai yang diberikan turun temurun dan lestari generasi sebelumnya. Biasanya keahlian menenun didapatkan dari ibu yang diwariskan ke anak perempuan. Begitu seterusnya sehingga tak ayal lagi motif dan warnanya terjaga sekaligus menjadi ciri khas songket Lombok.

Menenun kain songket menjadi kebutuhan utama warga Lombok khususnya Desa Sukarara karena dalam pesta pernikahan perempuan wajib memberikan kain tenun buatan sendiri kepada pasangan. Kepercayaan masyarakat setempat adalah perempuan yang tidak bisa menenun akan kesulitan mendapatkan jodoh. Bahkan ada semacam peraturan, wanita yang belum bisa menenun dilarang menikah. Kegiatan menenun dilakukan oleh wanita sembari menunggu para suami mereka pulang bertani dari ladang.

Daya tarik desa ini tidak hanya dari hasil home industry-nya yang menawan. Atraksi pada wanita dalam menggerakan alat tenun tradisional diminati oleh wisatawan domestik maupun asing. Para wanita dengan pakaian adat Sasak ini selalu siap mendemonstrasikan keahlian mereka. Pembuatan kain tenun dengan cara tradisional adalah dengan mempersiapkan pembuatan benang pakan serta pembuatan zat warna. Pebuatan benang secara tradisional menggunakan pemberat yang diputar dengan jari tangan. Pemberat tersebut berbentuk seperti gasing yang terbuat dari kayu atau terakota. Bahan membuat benar selain kapas, kulit kayu, serat pisang, serat nanas dan daun palem. Pembuatan zat warnanya terdiri dari 2 warna yakni biru dan merah. Warna biru didapatkan dari indigo atau mengkudu. Motif kain songket Lombok bermacam-macam, ada motif ayam, motif kembang delapan, motif kembang empat. Masing-masing motif punya makna sendiri.

Desa Sukarara juga memproduksi tenun ikat. Bahan tenun ikat sangat sederhana yakni terbuat dari bahan katun. Waktu produksi tenun ikat tidak selama tenun songket. Cukup satu hari, pengrajin Sukarara mampu menghasilkan tenun ikat sepanjang 3 meter. Harga tenun ikat bervariasi tergantung bahan pewarna kainnya. Jika berasal dari pewarna kimia, dibanderol dari harga Rp. 100 ribu sedangkan jika dari pewarna alami berharga mulai Rp. 150 ribu.

Ya, selain menarik, Sukarara juga menjadi destinasi utama bagi wisatawan yang ingin membelikan oleh-oleh kain songket dan tenun ikat untuk kerabat di rumah. Di sepanjang jalan desa ini banyak sekali toko-toko yang menjual kain songket. Anda bebas memilih mencari motif dan warna yang paling menarik. Bagi Anda yang ingin mengunjungi Sukarara, sebaiknya menyewa kendaraan karena angkutan umum jarang ditemui.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar