Jumat, 09 Oktober 2015

Asal Usul dan Sumber Cerita Wayang Sasak Lombok

Asal Usul dan Sumber Cerita Wayang Sasak

Wayang Sasak adalah pemberian nama terhadap wayang kulit yang berkembang di Lombok, mungkin bersamaan datangnya dengan penyebaran agama Islam di Lombok.
Menurut ceritanya bersamaan pula dengan wayang golek di Jawa yang berkembang di Kudus pada abad ke 16 dengan mengambil cerita Wong Menak, sehingga wayang yang berkembang di Lombok disebut wayang Sasak/Menak.

Agama Islam masuk ke pulau Lombok pada abad ke 16 yang dibawa oleh Sunan Prapen putra dari Sunan Giri.
Sedangkan Sunan Giri juga dikenal sebagai penggubah wayang gedog dan konon juga beliau bersama Pengeran Trenggono (Sunan Kudus) menciptakan wayang "Kidang kencana" pada tahun 1477 sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa Sunan Prapen membawa wayang ke Lombok.

Disamping itu konon wayang di Lombok diciptakan pula oleh Pangeran Sangupati yaitu seorang Muballig Islam di Lombok.
Hanya saja data yang pasti tentang asal usul dan pencipta wayang di Lombok belum ada. Apabila kita bertanya, sejak kapan sebenarnya mulai berkembang wayang di pulau Lombok serta siapa pelopor pertama kali? Adalah sangat sukar untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Yang jelas keberadaan wayang di Lombok mempunyai peranan yang sangat penting bagi pengembangan masyarakat Lombok.

Cerita wayang di Lombok pada dasarnya mengambil cerita Menak yang sumber ceritanya dari Cerita Amir Hamzah yaitu paman Nabi Muhammad SAW. Versi lain mengatakan bahwa mungkin juga ceritanya berasal dari persi (Iran) yang masuk ke Indonesia melalui tanah Melayu, dari sana masuk ke Jawa dan tersebar ke Lombok.

Cerita-cerita pewayangan di Lombok di ambil dari serat Menak yang terdiri dari Tujuh jilid dan lontar-lontar yang ditulis dari bahasa Jawa dengan huruf Jejawen (huruf sasak) yaitu turunan dari Jawa. Cerita pewayangan Menak di Lombok ditulis sesuai dengan kawiannya (fragmennya) sehingga kita menemukan sebagai judul seperti:
1. Bang bari,
2. Gendit,
3. Birayung,
4. Ruham,
5. Bansinah,
6.Dan lain-lain.

Tetapi yang jelas dua (2) sumber tersebut menceritakan tentang Amir Hamzah yaitu Pamannya Nabi Muhammad SAW, putra ke dua belas (12) dari Abdul Muthalib.

Dalam cerita wayang Sasak Amir Hamzah mempunyai banyak nama lainnya (Jejuluk=Sasak) seperti:
- Wayang Menak = Orang yang menyenangkan Hati,
- Jayeng Rana = Kuat dimedan atau Arena,
- Jayeng Tinon = Berpandangan jauh ke depan,
- Jayeng palugon
- Jayeng palupi=Kuat memakai senjata berat, dan lain-lain.

Disamping nama lain (Jejuluk), Amir Hamzah juga mempunyai gelar yang diberikan oleh pertapa sakti yang awas yaitu Pandita Betal Jemur.
Adapun gelar-gelar tersebut Yaitu:
- Kelana Jaya Dimorti Pahlawan artinya menguasai jagat,
- Amiril Mukminin = yaitu pemimpin bagi orang mukmin.
- Hamidil Alam = yaitu gelar terakhir setelah kawin dengan putri Roman yang bernama Hisna Ningsih.

Sebagaimana halnya dengan cerita pewayangan lainnya maka, didalam cerita ini digambarkan sifat-sifat yang baik maupun yang buruk yang di gambarkan pada tokoh kanan dan kiri.

Tokoh kanan adalah:
- Wong Menak,
- Umar Maya,
- Maktal,
- Taptanus,
- Saptanus,
- Umar Madi,
- Dan Alam Daur (Selandir).

Tokoh kiri adalah
- Nursiwan,
- Baktak,

Didalam cerita pewayangan ini menggambarkan tokoh-tokoh perjuangan pada zaman Nabi Muhamad SAW, yang dipimpin oleh seorang paman Nabi yaitu Amir Hamzah digambarkan sebagai seorang tokoh yang luar biasa yang memiliki senjata sifat: Pemberani, Alim, Bijaksana, Jujur, Kesatria, dll.

Didalam cerita pewayangan ini selalu yang akhirnya menang adalah kebenaran atau tokoh-tokoh kanan. Bagi masyarakat Sasak cerita pewayangan ini sering dituturkan lewat cerita dengan membaca naskahnya kemudian diterjemahkan dengan bahasa Sasak. Namun siapapun penciptanya atau pembawa wayang ke Lombok tidak perlu kita permasalahkan. Akan tetapi yang pasti keberadaan wayang di Lombok mempunyai peranan yang sangat penting artinya dalam pengembangan masyarakat sasak Lombok.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar