Sabtu, 10 Oktober 2015

Seni Drama Cupak Gerantang,Sasak Lombok

Seni Drama Cupak Gerantang

Lontar Cupak Gerantang yang ditulis dalam bentuk sekarang dengan pengantar bahasa Sasak Lombok ini membuka tuturannya dengan menceritakan penculikan terhadap putri Daha oleh raksasa Limandaru.Limandaru yang berarti raksasa bermuka gajah dengan sorotan mata bagai api adalah raksasa yang sangat sakti dan sudah lama mengidam-idamkan putri  Daha untuk dijadikan anaknya.  Hasrat Si Limandaru pun terwujud.   Putri Daha yang berhasil diculiknya disembunyikan di dalam goa.

Prajurit Daha kemudian dikerahkan untuk merebut kembali putri yang diculik itu. Prajurit kerajaan di bawah pimpinan Raden Panji (kekasih sang putri) juga ikut dikerahkan, akan tetapi  semuanya menemui kegagalan. Sang Putri tetap ditangan Limandaru.  Bahkan Raden Panji sendiri nyaris menemui ajalnya. Rasa malu dan kecewa karena kegagalan ini membuat Raden Panji memutuskan untuk pergi berkelana mencari kesaktian.

Tersebutlah seorang abdi kerajaan Daha yang lolos dari cengkraman maut bernama si Bosok. Ia bersedia mengikuti pengembaraan Raden Panji, asalkan diakui sebagai saudaranya. Kedua insan itu pun pergi bertafa ke gua Galagala. Berkat  kekuasaan Tuhan, keduanya menjelma kembali menjadi anak kecil. Si Bosok yang dimandikan di Pekuburan Keramat diberi nama Raden Cupak. Rupa wajah Raden Cupak sangat serem dengan kepala botak dan perut gendut. Sedangkan Raden Panji yang disucikan di sebuah mata air diberi nama Raden Gurantang yang wujud fisiknya sangat baik, tampan, serta dengan perangai halus dan budi pekerti luhur.

Selanjutnya diceritakan Cupak dan Gurantang melakukan pengembaraan. Pada suatu saat mereka bertemu dengan Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol.  Mereka mengangkat Raden Cupoak dan Raden Gurantang sebagai anak.

Pada lanjutan kisah, Selama menjadi anak angkat Inaq Bangkol, terlihat perbedaan perangai kedua tokoh ini. Raden Cupak yang bertampang buruk mewakili sifat-sifat yang buruk. Hatinya busuk, tidak jujur, pemalas, serakah, dan perbuatan culas lainnya. Sedangkan Gurantang dengan tampang yang bagus mewakili sifat-sifat yang bagus pula seperti jujur, tulus ikhlas, rela berkorban, rajin, rendah hati,dan sejenisnya. Meskipun ia memiliki kesaktian yang tinggi, tetapi tidak sombong.

Cerita dilanjutkan  dengan pengembaran Cupak dan Gurantang. Setelah Raden Cupak bertingkah laku tidak baik, terhadap Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol, Raden Gurantang merasa malu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan Mengembara tanpa tujuan keluar hutan masuk hutan.

 Pada bagian tengah cerita mengisahkan tentang adanya sayembara dalam rangka merebut kembali putrid Daha dari tangan raksasa Llimandaru. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Raden Gurantang alias Raden Panji. Ia memang sudah lama  bertekad merebut kembali kekasihnya dari tangan Limandaru. Tetapi  rupanya kehadiran Cupak sebagai saudara Gurantang bukan membantu, bahkan merupakan duri dalam daging. Ketika usaha Gurantang menyelamatkan Tuan Putri hamper berhasil, Cupak yang ternyata menaruh hati kepada Tuan Putri tak segan segan mencelakakan Gurantang dengan jalan menjatuhkannya kedalam dasar Gua. Daalam situasi seperti ini, peran Amaq dan Inaq Bangkol kembali dihadirkan untuk menyelamatkan sang Panji (Raden Gurantang). Pada akhir cerita dituturkan bahwa kebenaran dan kejujuranlah yang akhirnya memperoleh kemenangan walau terlebih dahulu mesti diuji dengan kekalahan, kesengsaraan, dan penderitaan. Di ujung cerita dikisahkan Cupak mengadu kepada Raja bahwa dialah yang membunuh raksasa itu. Untuk menguji kebenaran ceritanya, Cupak disuruh beradu perise melawan Gurantang. Akhirnya Cupak dapat dikalahkan dan Tuan Putri dikawinkan dengan Gurantang









Tidak ada komentar:

Posting Komentar