Rabu, 16 Maret 2016

KERAJAAN PEJANGGIK

                                                     KERAJAAN PEJANGGIK
                                         (Oleh : Lalu Husnul Yaqien Juniansyah)




Pada abad ke-4 M di Kutai (Tenggarong), Kalimantan Timur berdiri sebuah kerajaan Hindu dengan Rajanya bernama Kudungga. Menurut beberapa ahli sejarah, Kudungga adalah penduduk asli, kepala suku Kutai. Ia mengawini seorang putri dari Campa (Muangthai) keturunan Raja Bhadawarman. Karena cintanya yang kuat, Kudungga mengikuti agama istrinya, dan ketika anak lelakinya lahir dinamai Aswawarman, mengambil nama marga “Warman” dari leluhur mertuanya di Campa.
Selanjutnya Aswawarman berputra tiga lelaki yakni: Mulawarman beristana tetap di Kutai (Tenggarong), sedangkan kedua adiknya yakni Purnawarman mendirikan Kerajaan Tarumanegara di Jawa-Barat (dekat Bogor) dan Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan (dekat Palembang). Pada abad ke-10 salah seorang keturunan Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa datang ke Bali, dan mengalahkan raja yang berkuasa saat itu: Sri Ratu Ugrasena yang dikenal dalam mitologi sebagai Mayadenawa.

Sri Kesari Warmadewa kemudian menobatkan diri sebagai Raja dengan gelar: Sri Wira Dalem Kesari. Selama kurun waktu hampir 100 tahun, dinasti Warmadewa memegang tampuk pimpinan, walaupun dibeberapa periode pernah direbut oleh Raja-Raja dari dinasti lain.Darma Udayana Warmadewa adalah keturunan Sri Kesari Warmadewa. Ia memerintah bersama-sama istrinya: Gunapria Darmapatni atau juga bernama Mahendradata, yakni putri Mpu Sindok, Raja Mataram (Jawa Tengah). Dari perkawinan ini mereka mempunyai dua anak lelaki yakni Erlangga dan Anak Wungsu. Anak Wungsu tetap di Bali menggantikan kedududkan ayahnya, sedangkan Erlangga pergi ke Jawa Timur dan pada tahun 1016 menikahi putri Darmawangsa (Raja Medangkemulan di Pasuruan). Pada tahun 1019 Erlangga menjadi Raja menggantikan mertuanya dengan gelar: Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Teguh Wikramottunggadewa.Adik Airlangga bernama Anak Wungsu kemudian menjadi raja di Bali menggantikan ayahnya. Karena Anak Wungsu tidak ada kaitan dengan keturunan arya di bali, maka di sini tidak diuraikan lebih lanjut.
Airlangga mempunyai putra mahkota dua orang; oleh karena itu kerajaan Kahuripan dipecah dua,

A-Kerajaan Kediri dipimpin Sri Jaya Baya/Sri Samarawijaya beribu kota di Daha dan memiliki putera bernama

1-Sri Dangdang Gendis
2-Sri Jaya Katowang ( yang memberontak kepada Singosari di zaman Prabu Kertanegara).
3-Sri Jayakatha

B- Kerajaan Jenggala dipimpin Sri Jaya Sabha/Mapanji Garasakan beribu kota di Kahuripan Sidoarjo.-memiliki putera bernama Adwaya Brahma yang menjadi seorang Mahamenteri pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara di Singosari yang menikah dengan Dara Jingga,

Pada prasasti Padangroco tertulis bahwa, arca Amoghapasa dikawal dari Jawa oleh 14 orang, termasuk Adwayabrahma yang ditulis paling awal. Adwayabrahma sendiri menjabat sebagai Rakryan Mahamantri pada pemerintahan Prabu Kertanagara. Pada zaman itu, jabatan ini merupakan jabatan tingkat tinggi atau gelar kehormatan yang hanya boleh disandang oleh kerabat raja.karena Adwayabrahman adalah merupakan kerabat raja Singosari yang berasal dari Kerajaan Kesari yang bergelar Sri Jayasabha adalah adik dari Prabu Jayabaya Raja Kediri,istilah “Dewa” dalam Pararaton adalah jabatan Rakryan Mahamantri pada sebuah Kerajaan.Dara Jingga adalah putri dari Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa, raja Kerajaan Dharmasraya dan juga merupakan kakak kandung dari Dara Petak. Dara Jingga memiliki sebutan Sira Alaki Dewa, dia yang dinikahi orang yang bergelar Dewa,oleh sebab itu maka Dara Jingga dinikahi oleh Adwaya Brahman yang disebut juga dengan nama Sri Jayasabha.Adwaya Brahman adalah pembesar Shingoshari dan pada zaman Kerajaan Majapahit juga berpangkat “Maha Menteri”.memperistri Putri Dara Jingga yang dalam lontar Arya Damar disebutkan : "Dara Jingga arabi Dewa Sang Bathara Adwaya Brahma yang selanjutnya menurunkan putra sebanyak enam orang laki-laki yaitu:
1-Sri Cakradara,( suami Tribuana Tunggadewi )
2-Arya Dhamar (yang disebut juga dengan Arya Teja alias Kiayi Nala yang melakukan exspedisi ke Lombok tahun 1343 M),
3-Arya Kenceng ( yang menurunkan raja Tabanan Bali },
4-Arya Kuthawaringin,
5-Arya Sentong
6--Arya Pudak

Dalam babad Arya Kenceng Tabanan disebutkan,Dara Jingga” dan adiknya “Dara Petak” (Putih), keadatangan Putri ini pada zaman Kerajaan Singhasari yaitu pada masa pemerintahan Sri Kerthanegara/Bathara Siwa tahun isaka 1190-1214 atau tahun (1268-1292 Masehi).Putri Dara Petak bergelar “Maheswari” diperistri oleh Sri Jayabaya atau Prabu Brawijaya I/Bhre Wijaya/Raden Wijaya, Raja Madjapahit pertama yang juga bergelar “Sri Kertha Rajasa Jaya Wisnu Wardana” pada tahun isaka 1216-1231 atau tahun (1294-1309 Masehi) yang selanjutnya menurunkan Prethi Santana/keturunan bernama “Kala Gemet” yang menjadi Raja Madjapahit kedua pada tahun 1309-1328 M, yang bergelar “Jaya Negara”. Sedangkan Putri Dara Jingga yang bergelar Indreswari atau Sri Tinuhanengpura (yang dituakan di Pura Singosari dan Madjapahit) diperistri oleh Sri Jayasabha yang bergelar Sri Wilatikta Brahmaraja I atau Hyang Wisesa. Sri Jayasabha adalah pembesar Singosari dengan pangkat “Maha Menteri”. Putri Dara Jingga dalam lontar dikenal, yang berbunyi: Dara Jingga arabi Dewa Sang Bathara Adwaya Brahma yang selanjutnya menurunkan putra sebanyak enam orang laki-laki yaitu: Sri Cakradara, Arya Dhamar (yang disebut juga dengan Arya Teja alias Kiyai Nala atau Adityawarman), Arya Kenceng, Arya Kuthawaringin, Arya Sentong dan Arya Pudak yang kemudian menjadi Penguasa/Raja Di Bali,dan putera puteranya Aditiyawarman menjadi Raja Kelungkung,Lombok dan Gowa.

Setelah itu Airlangga mengundurkan diri menjadi pendeta dengan bhiseka Rsi Jatayu.Dengan seorang gadis pegunungan Airlangga mempunyai putra bernama Sira Arya Buru (Arya Timbul). Arya Buru hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Nyi Gunaraksa, dikawini oleh Ki Pasek Tutuan, dengan syarat Ki Pasek Tutuan seketurunan menyembah roh Arya Buru.

Keturunan Erlangga yang datang ke Bali dan Lombok adalah: Sire Arya Buru, Sire Aryeng Kepakisan juga disebut Arya Kepakisan atau Nararya Kepakisan dan di Lombok dikenal dengan nama Bathara Indra Sakti( yang dilantik menjadi Raja Klungkung Bali oleh Gajah Mada tahun 1352 M), Sira Arya Kutawaringin, Sira Arya Gajahpara, Sira Arya Getas( salah satu keturunannya bernama Arya Sudarsana/Banjar Getas di Lombok ),sira Kebo Anabrang,Sira Arya Tunggul Nala ( yang dilantik oleh Gajahmada menjadi Raja Lombok tahun 1352 M ) ,Sira Arya Kertha Jala ( dilantik menjadi Raja Gowa ) Sira Arya Teja,dll
Sri Jaya Sabha Raja Jenggala dari cucunya  Aditiyawarman adalah putranya Adwaya Brahman dan Dara Jingga yang merupakan darah lurus dari Raja Erlangga dari dinasti raja raja Kesari memiliki tiga orang cucu buyut yang dilantik menjadi Raja di Klungkung Bali,Lombok dan Gowa yaitu

1-Sira Aryeng Kepakisan dilantik oleh Gajahmada menjadi patih agung di Puri Samprangan, sebagai tangan kanan raja Bali pertama yang diangkat oleh Majapahit pada tahun 1352 M yaitu Sri Aji Kresna Kepakisan yang dikenal dalam babad lombok dengan nama Bethara Indra Sakti .

2-Bethara Tunggul Nala yang dilantik oleh Gajahmada pada tahun 1352 M ketika Gajah Mada mengadakan inspeksi langsung ke Lombok menjadi Raja Lombok di Pelabuhan Kayangan Lombok .

3-Bethara Kertha Jala dilantik menjadi Raja Gowa ..

Jika kita kembali melihat Nama Arya Damar dikenal pada babad Arya Damar dari sekian versi babad tentang Arya Damar menyebutkan Arya Damar mempunyai nama lain yaitu Aditiyawarman,dan dalam babad Arya Kenceng di Tabanan Bali Arya Damar dikenal juga dengan nama Sira Arya Teja dan dikenal pula dengan nama Kiyai Nala. Dengan adanya nama Kiyai Nala yang mengadakan ekspedisi ke Lombok tahun 1343 M ,maka yang sebenarnya datang ke Lombok tersebut ialah Aditiyawarman sendiri yang bergelar Kiyai Nala,Di dalam babad Lombok disebutkan Kiyai Nala menjadikan tiga orang putera yang dijadikan sebagai Raja Klungkung Bali.Raja Lombok dan Raja Gowa.Dari sumber babad Erlangga,dikatakan bahwa Sri Krisna Kepakisan itu merupakan cucu buyut dari dari Sri Jaya Sabha raja Jenggala yang dilantik oleh Gajah Mada menjadi Raja Klungkung Bali pada tahun 1352 M.Dari sumber babad Lombok disebutkan Raja Klungkung Bali bersaudara dengan Raja Lombok dan Raja Gowa.Babad Lombok menyatakan bahwa Kiyai Nala dalam ekspedisinya ke Lombok tahun 1343 M menurukan tiga tokoh yang bersaudara tiga orang yang nantinya dilantik menjadi raja Klungkung Bali,Lombok dan Gowa oleh Gajah Mada tahun 1352 M.

Pada tahun 1343 M Aditiyawarman/ Kiyai Nala atau Sira Arya Teja atau di Bali lebih dikenal dengan Arya Dhamar/Adityawarman yang diberikan tugas untuk menaklukkan Nusantara bagian timur pulau Jawa , mengadakan ekspedisi ke Lombok dan menurunkan tokoh yang disebut Datu Besanakan Telu / Tiga Bersaudara yaitu :

(1)- Betara Mas Kerta Jala dilantik menjadi Raja Gowa
(2)- Betara Mas Indra Sakti/Aryeng Sri Krisna Kepakisan dilantik menjadi Raja Klungkung Bali,
(3) -Betara Mas Tunggul Nala dilantik menjadi Raja di Lombok.
.
Betara Mas Tunggul Nala menurunkan datu-datu Lombok seperti Bayan,
Selaparang Pejanggik.Langko,Sokong,Mambalan.
Betara Mas Tunggul Nala mempunyai dua orang putra yaitu

1.- Deneq Mas Muncul yang menurunkan datu-datu Bayan.Sokong dan Mambalan.
2.- Deneq Mas Putra Pengendengan Segara Katon mendirikan Kedatuan
Kayangan (Labuan Lombok) menurunkan datu-datu Selaparang dan Pejanggik yaitu

(a) Sri Dadelanatha,menjadi Datu Langko
(b) Deneq Mas Komala Dewa Sempopo menjadi Datu Pejanggik
(c) Deneq Mas Komala Jagat menjadi Datu Selaparang


KERAJAAN PEJANGGIK

A. BERDIRINYA PEJANGGIK

Selain kerajaan Selaparang yang memiliki jangkauan kekuasaan relatif luas di Gumi Sasak, terdapat pula kerajaanPejanggik. Di sisi lain, berdirinya kerajaan Pejanggik lebih disebabkan karena kerajaan Selaparang yang dianggap mampu mengayominya ternyata tidak mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan wilayah sekitar. Maka kerajaan Pejanggikpun melepaskan diri dari Selaparang.Berbeda dengan Selaparang yang merupakan daerah pesisir,maka Pejanggik merupakan kerajaan yang berada di wilayah pedalaman. Kerajaan Pejanggik yang terletak di daerah pedalaman memang cenderung statis, akan tetapi kondisinya lebih tenang dan penuh dengan kewibawaan. Daerah kekuasaan Pejanggik meliputi pantai barat sampai pantai timur pulau Lombok, dari Belongas hingga Tanjung Ringgit.

Dalam ekspedisinya ke Lombok Kiyayi Nala yang sudah berusia 49 tahun saat itu,menjadikan puteranya yang bernama Bethara Mas Tunggul Nala menjadi Raja di Pelabuhan Kayangan Lombok,dan pada tahun 1352 M ketika Mahapatih Gajah Mada mengadakan inspeksi ke Lombok melatik Bethara Mas Tunggul Nala yang saat itu berusia 35 tahun menjadi Raja Lombok,dan puteranya Bethara Mas Tunggul Nala yang bernama Deneq Mas Muncul yang baru berusia 18 tahun dilantik menjadi Raja Bayan,dan adiknya Deneq Mas Muncul yang bernama Deneq Mas Pengendengan Segara Katon yang masih kecil pada waktu itu yaitu masih berumur 3 tahun tinggal bersama bapaknya di Labuhan Kayangan Lombok .Selama 40 tahun Bethara Mas Tunggul Nala memerintah 1352-1394 M,dan digantikan oleh Puteranya Deneq Mas Pengendengan Segara Katon yang pada waktu itu berusia 43 tahun,( 1394 -1417 M ),disebut Deneq Mas Pengendengan Segara Katon,karena setelah lahirnya Deneq Mas Muncul pada tahun 1334 M sampai tahun tahun 1349 M Deneq Mas Muncul belum juga memilki adik,maka Bethara Tunggul Nala mengadakan persembahan untuk meminta berkah dari Tuhan Yang Maha Esa dengan mengadakan upacara di pantai untuk memohon agar dikarunia anak lagi,dan permohonan tersebut dikabulkan dan lahirlah seorang putera pada tahun 1349 M yang dinamakan Deneq Mas Pengendengan Segara Katon.Pada tahun 1417 M Deneq Mas Pengendengan Segara Katon melepaskan jabatannya,dan digantikan oleh Puteranya Deneq Mas Komala Jagat ( 1417-1462 M ).yang nantinya Deneq Mas Komala Jagat mendirikan Kerajaan Selaparang.

Dalam usia 63 tahun ( tahun 1417 M) Deneq Mas Pengendengan Segara Katon pergi menyepi ke Rembitan bersama seorang puteranya yang masih kecil bernama Deneq Mas Komala Sempopo berusia 7 tahun.Selama 35 tahun melakukan Tapa Brata di Rembitan dan usia 98 tahun ( 1453 M ) Deneq Mas Pengendengan Segara Katon tutup usia,sesuai dengan keyakinan agama yang dianut pada waktu itu maka Deneq Mas Pengendengan Segara Katon dipelebon dengan upacara ngaben.Pada tahun 1458 M dan 5 tahun sesudah wafatnya Deneq Mas Pengendengan Segara Katon ,Deneq Mas Komala Sempopo mendirikan Kerajaan Pejanggik,yang mempunyai urutan pemerintahan sebagai berikut :
1-Deneq Mas Komala Dewa Sempopo ( 1458-1518 M ) 
2-Deneq Mas Komala Sari  ( 1518-1586 M )
3-Deneq Mas Unda Putih ( 1586-1649 M )
4-Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari. ( 1649-1667 M )
5-Maspanji Meraja Sakti ( 1667-1696 M )

Kakak Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari yang bernama Pemban Mas Aji Komala dilantik sebagai raja muda dan mewakili Gowa di Sumbawa pada tangga13 November 1648 M.Dan Maspanji Meraja Sakti Putranya Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala dilantik menjadi Raja Pejanggik,pada tahun 1667 M dan seorang putranya lagi diangkat menjadi Mahamenteri bernama Maspanji Komala Patria, Sejak itulah tercatat bahwa kerajaan Pejanggik mulai mengalami perkembangan.

Jika kita melihat generasi Kerajaan Pejanggik terdapat Delapan Generasi yaitu:

1-Kiyai Nala /Aditiyawarman adalah generasi ke satu
2-Bethara Tunggul Nala generasi ke dua
3-Deneq Mas Pengendengan Segara Katon Generasi ke tiga
4-Deneq Mas Dewa Komala Sempopo Generasi ke empat
5-Deneq Mas Komala Sari Generasi ke lima
6-Deneq Mas Unda Putih generasi ke enam
7-Deneq Bekem Buta Intan Komala Sari Generasi ke tujuh
8-Maspanji Meraja Komala Sakti Generasi ke delapan

Apabila kita melihat dari ke delapan Generasi tersebut dapat ditentukan lama dari satu generasi memerintah dalam satu priode pemerintahan,jika kita kembali priode datangnya Kiyai Nala ke Lombok tahun 1343 M,dan runtuhnya Kerajaan Pejanggik 1696 M,maka dapat dihitung Kerajaan Pejanggik berkuasa di Lombok bagian tengah selama 1696-1343=353 tahun,dan 353 tahun dibagi oleh delapan Generasi atau tujuh generasi ,karena Kiyai Nala /Aditiyawarman kembali ke Majapahit dan menjadi Raja Damasraya di Hulu Sungai Batang Hari dekat Palembang,maka tiap tiap generasi rata rata memerintah selama 40 sampai 50 tahun.

Dengan melihat hal tersebut di atas berdirinya Pejanggik tahun 1458 M oleh Deneq Mas Dewa Komala Sempopo,yang bercorak Hindu .Pada zaman Deneq Komala Sari ( 1518-1578 M ),Agama islam mulai tersebar di Lombok pada permulaan abad ke 16 sekitar tahun 1506 M ,dengan melihat hal tersebut Islam masuk ke Pejanggik pada masa pemerintahan Deneq Mas Komala Sari,dan pusat Pemerintahan Pejanggik sudah dipindah ke Desa Pejanggik yang Sekarang.Adapun raja raja Pejanggik yang dulu masih beragama hindu mereka tidak memiliki bukti kuburan/makam ,karena mereka pada saat itu masih menggunakan pembakaran mayat/ngaben.Oleh sebab itu jejak tilas yang masih di makam Serewe adalah makam makam dari raja Pejanggik seperti Deneq Mas Komala Sari, Deneq Mas Unda Putih,Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari yang sudah memeluk agama islam,dan Maspanji Meraja Komala Sakti dimakamkan di Ujung Karang Asem Bali setelah Pejanggik runtuh tahun 1696 M.

B.BERKEMBANGNYA PEJANGGIK

Kerajaan Pejanggik mengalami perkembangan yang semakin pesat setelah bertahtanya Pemban Mas Meraja Sakti ( 1667-1696 M ). Beliau kawin dengan putri Raden Mas Pamekel (Raja Selaparang) bernama Putri Mas Sekar Kencana Mulya. Dewa Mas Pakel sebagai raja di Selaparang menyadari kekeliruannya selama ini yang terlalu banyak memperhatikan Sumbawa dan melupakan Pejanggik yangmerupakan saudaranya. Selanjutnya raja Selaparang menyerahkan berbagai benda pusaka dalem ke Pejanggik yang merupakan pertanda bahwa Pejanggik menjadi penerus misi pemersatu di Gumi Sasak.Hal ini membuat raja muda Raja Mas Kerta Jagat yang merupakan pengganti selanjutnya di kerajaan Selaparang semakin tersinggung.

Bergabungnya Arya Banjar Getas membuat Pejanggik semakin kuat. Tetapi hal ini justra menyebabkan semakin renggangnya hubungan antara Selaparang-Pejanggik. KerajaanPejanggik pun mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Langko, Sokong, Bayan, Tempit dan Pujut. Kerajaan lainnya dijadikan kedemungan dengan gelar kerajaan seperti Datu Langko, Datu Sokong, Datu Pujut dan lain-lainnya. Sedangkan raja Pejanggik sendiri memakai gelar yang sama dengan kerajaan Selaparang yaitu Pemban. Semua. itu juga merupakan basil kepiawaian Arya Bonjar Getas dalam menjalankan tugas-tugasnya dalam peperangan. la pun mendapat gelar tanirihan yaitu "Surengrana" dan "Dipati Patinglanga". Secara bertahap, strategi-strategi yang digunakan oleh AryaBanjar Getas adalah sebagai -berikut:

1.Melakukan konsolidasi ke dalam Pejanggik.

2Mengisolir Selaparang dengan mendekati kerajaan-kerajaan keluarga Bayan.

3Menggerogoti kerajaan Selaparang dengan menguasai wilayahseperti Kopang, Langko, Rarang, Suradadi, Masbagik, Dasan Lekong; Padamara, Pancor, Kelayu, Tanjung. Kalijaga, barukemudian masuk ke Selaparang.

Arya Banjar Getas melakukan sebuah strategi konsolidasi dengan menyerahkan keris sebanyak 33 buah kepada raja Pejanggik,lalu mengarak berkeliling dan menyerahkannya kepada para prakanggo untuk kemudian ditukar dengan keris pusaka masing-masing. Penukaran tersebut merupakan suatu bentuk kesetiaan dan loyalitas tunggal kepada raja Pejanggik. Keberhasilan Arya Banjar Getas melakukan berbagai gerakan tersebut langkah demi langkah disebut Politik Rerepeq. Bila ditinjau dari segi kekuasaan, kerajaan Pejanggik sangat solid, akan tetapi langkah-langkah yang ditempuholeh Arya Banjar Getas dianggap merombak tatanan hubungan yang sudah merupakan budaya turun-menurun.Pemban Maspanji Meraja Komala Sakti . Nampaknya beliau lebih banyak berperan sebagai seorang ayah yang baik ketimbang seorang raja yang mampu membawa Pejanggik menjadi kerajaan yang maju. Pemban Maspanji Meraja Komala Sakti  memang banyak memperingatkan putranya (Maspanji Meraja Kusuma) atas ancaman Selaparang karena terlalu kagum dan terpesona, dengan patih Arya Sudarsana yang datang membawa 33 keris sebagai tanda setia dan siap mengabdi untuk kebesaran Pejanggik.

C.RUNTUNYA PEJANGGIK

Pemberontakan Arya Banjar Getas terjadi pada tahun 1692-1696 M, dalam pemberontakan tersebut Arya Banjar Getas meminta bantuan kerajaan Karangasem Bali,pertahanan Pejanggik saat rapuh  tidak kuat, karena Patih Banjar Getas dan semua pasukan yang loyal kepada Banjar Getas membelot,Pejanggik dirongrong dari dalam negeri sendiri,keadaan Pejanggik pecah menjadi dua bagian yaitu :

1-Pasukan yang masih setia kepada Raja Pejanggik Maspanji Meraja Komala Sakti.
2-Pasukan yang membelot kepada Patih Banjar Getas

Hal tersebut menjadikan Pejanggik lemah,dan dari luar mereka diserang oleh Pasukan Banjar Getas dan pasukan Karang Asem,dari dalam Pejanggik diporak porandakan oleh pasukan yang pro kepada Banjar Getas,sehinggga pertempuran terjadi selama 4 tahun ( 1692-1696 ),pada akhirnya Pejanggik mengalami kekalahan di tahun 1696 M . Raja Pejanggik Maspanji Meraja Komala Sakti ditawan dan diasingkan ke Bali , kemudian meninggal dunia di Ujung Karangasem. Sedangkan para bangsawan banyak yang melarikan diri ke Sumbawa diantaranya Maspanji Meraja Kusuma dan membentuk Desa Jelenge di Kecamatan Jereweh Sumbawa,dan adiknya Maspanji Meraja Komala Sakti yaitu Maspanji Komala Patria mengungsi ke Penenges Batu Dendeng ,dan dari pernikahannya dengan putri Deneq Laki Ukir seorang Patih Kerajaan Pejanggik lahirlah Maspanji Turu di Kateng Lombok Tengah . Penyerangan Karangasem bukan hanya ke Pejanggik tetapi terus dilanjutkan ke kerajaan Parwa, Sokong, Langko, dan Bayan. Semua kerajaan menyerah tanpa perlawanan yang berarti.Setelah Anak Agung Karangasem bersekutu dengan Arya Banjar Getas, satu persatu kedemungan se-Lombok digempur. Akhirnya pada tahun 1740 M seluruh pulau Lombok dapat ditaklukkan.

SIAPAKAH SEBENARNYA PENULIS KITAB JANGKA JAYABAYA ?



                SIAPAKAH SEBENARNYA PENULIS KITAB JANGKA JAYABAYA ?





Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal usul utama serat ramalan Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keasliannya, tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yang menuliskan bahwa Jayabaya yang membuat ramalan-ramalan tersebut.

Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis dalam kitab-kitab mereka yang berjudul Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa, dan Kakawin Gatotkacasraya. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha, sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna ingin menikah dengan Rukmini dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.


Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak zamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Kitab "Jangka Jayabaya" pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak. Memang dia keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila dia dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu dia menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala zamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).

Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada zamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh putranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.

Jangka Jayabaya yang dikenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut "Kitab Asrar" Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.
Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak zaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedaton". Giri Kedaton ini nampaknya Merupakan zaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai zaman Sunan Giri ke-3.

Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo") ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.

Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.

Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah dia turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dizaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti dia dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).
Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "Jangka Jayabaya" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.
Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.

Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai zaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "Republik Indonesia". Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.

Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.


Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab

Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini.

Selasa, 15 Maret 2016

RAMALAN SERAT JANGKA JAYABAYA



                                                    SERAT JANGKA JAYABAYA





1-Mbesuk jen wis ana kreta mlaku tanpa turangga
Tanah Djawa kalungan wesi,
Prahu mlaku ing a duwur awang2.
Kali pada ilang kedunge, iku tanda yen jaman Jayabaya wis cedak
Terjemahan :
Besok jika ada kereta berjalan tanpa kuda ( tafsir= Mobil, kereta api)
Tanah Jawa berkalung besi ( tafsir= Rel Kereta api)
Perahu terbang diatas angkasa ( tafsir= pesawat terbang , pswt luar angkasa)
Sungai pada hilang danaunya / sumbernya (tafsir = sungai buatan)
Itulah pertanda jaman Jayabaya sudah dekat
2-Akeh janji ora ditepati.
Akeh wong wani nglanggar sumpahe dewe,
Manungso pada seneng nyalah, tan ngendah-ake hukum Allah,
Terjemahan :
Banyak janji tidak ditepati
Banyak orang melanggar sumpahnya sendiri
Manusia senang berbuat salah, tidak mengindahkan hukum Tuhan.
3-Akeh pangkat sing jahat lan jajil,
Hukuman ratu ora adil,
Terjemahan :
Banyak orang berpangkat yang jahat dan jahiliyah
Hukuman penguasa tidak adil, .
4-Wong sing apik kepencil,
Makarya apik luwih becik ngapusi,
Wong agung kesinggung wong ala kepuja-puja,
Terjemahan :
Orang berbuat baik terkucilkan
Berbuat baik malah merasa malu, lebih baik berbohong
Orang Besar tersinggung, orang jahat dipuja-puja/ dihormati
5-Wong wadon ilang wanitane ilang wirange,
Wong lanang ilang lanange,priya ilang prawirane,
Terjemahan :
Wanita hilang kewanitaanya, hilang malunya
Laki-laki hilang kelaki-lakianya, hilang keberaniannya
( Dalam arti harafiah = banci, homo, maupun perlambang laki2 tidak jantan, pengecut)
6-Akeh udan salah mangsa,
Akeh perawan tua,
Akeh randameteng,
Akeh bayi takon bapa
Agama akeh kang nantang, kamanungsan ilang,
Terjemahan :
Banyak Hujan tidak tepat /sesuai musimnya
Banyak perawan tua (banyak perawan tua, juga banyak wanita yang
kawin diusia tua)
Banyak janda hamil (hamil tanpa suami)
Banyak bayi bertanya siapa bapaknya (hamil diluar nikah)
Agama banyak ditentang, Rasa kemanusiaan makin hilang
7-Olah suci pada dibenci, olah ala pada dipuja,
Wanadya pada wani ngendi-ngendi,
Terjemahan :
Olah Kebaikan dibenci, Olah kejelekan di puja
Wanita pada berani dimana-mana (maksudnya sama pria)
8-Sing Weruh ketuduh, sing ora ya ketuduh
Terjemahan :
Yang tahu (bener atau salah) tertuduh , yang tidak tahu juga (cari kambing hitam)
9-Mbesuk yen ana prang saka wetan, kulon, lor lan wong cilik sengsara lan mbendul,
Wong jahat mlarat brekat,
Terjemahan :
10-Besok jika ada perang di Timur , Barat, Utara,Selatan, (=berbagai belahan dunia/negara) rakyat kecil semakin sengsara dan menderita
Orang Jahat miskin Berkat
11-Sing Curang makin garang ,sing jujur kojur, wong dagang keplanggang,
Terjemahan :
Yang curang berani, yang jujur hancur, orang berdagang kepalsuan.
12-Judi pada dadi,
Akeh barang haram, akeh anak haram, prawan cilik nyidam,
Wanita nglanggar priya, isih bayi pada bayi,
Terjemahan :
Judi semakin menjadi ,
Banyak anak haram, banyak gadis kecil yang hamil
Wanita berani sama laki-lakinya, Masih kecil (anak2) sudah punya anak
13-Sing Priya pada ngasorake drajade dewe,
Bumi saya suwe saya mengkeret,
Sekilan bumi dipajegi,
Jaran doran sambel,
Kretane roda papat satugel,
Yang laki-laki merendahkan derajatnya sendiri
Bumi semakin menyusut /mengecil ( dunia semakin tak ada batasan ruang dan waktu berkat teknologi modern spt : transpotasi, komunikasi )
Setiap jengkal tanah dipajak (apa2 sekarang dipajakin)
Kuda doyan sambal (tukang becak, ojek doyan sambel)
Kereta beroda empat terpotong (roda kereta api)
14-Wong wadon nganggo pakean lanang
Iku tandane yen bakal nemoni wolak-waliking jaman
Akeh manungsa ngutamakake real, lali kemanungsan
Lali kebecikan, lali sanak kadang
Akeh biyung lali anak,akeh anak nlandung biyunge
Perempuan berpakaian laki-laki
Itu pertanda akan menemui jaman yang serba terbalik
Banyak manusia mengutamakan harta, lupa rasa kemanusiaan
Banyak ibu melupakan anak, banyak anak berani sama ibunya
15-Akeh bapa lali anak.
Akeh anak wani nglawan ibu, nantang bapa
Sedulur padha cidra.
Kulawarga padha curiga, kanca dadi mungsuh.
Akeh manungsa lali asale.
Ukuman Ratu ora adil.Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak bapak melupakan anaknya.
Banyak anak melawan ibu dan bapaknya
Saudara saling menyakiti keluarga, teman jadi lawan
Banyak manusia lupa asalnya
Hukuman Penguasa tidak adil, banyak orang pangkat berkelakuan aneh
Banyak kejadian aneh
17-Wong apik-apik padha kapencil. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
Luwih utama ngapusi.
Wegah nyambut gawe.
Kepingin urip mewah.Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Orang baik terkucilkan. Banyak orang bekerja baik-baik /jujur yang malah malu
Lebih baik berdusta
Malas bekerja.
Ingin hidup mewah, mengumbar angkara murka/kejahatan, mengagung-agungkan kejahatan
18-Wong bener thenger-thenger. Wong salah bungah.
Wong apik ditampik-tampik. Wong jahat munggah pangkat.
Wong agung kasinggung. Wong ala kapuja.
Orang Benar terpaku. Orang Salah bergembira
Orang Baik ditolak di mana-mana. Orang Jahat naik pangkat
Orang Besar tersinggung. Orang Jelek dipuja
19-Wong wadon ilang kawirangane.
Wong lanang ilang kaprawirane.
Akeh wong lanang ora duwe bojo.
Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Akeh ibu padha ngedol anake.
Akeh wong wadon ngedol awake.
Akeh wong ijol bebojo.
Wong wadon nunggang jaran.
Wong lanang linggih plangki.
Orang perempuan hilang malunya
Lelaki hilang keberaniannya/ jadi pengecut
Banyak laki-laki tidak beristri
Banyak Wanita tidak setia/ berselingkuh
Banyak ibu menjual anaknya
Banyak wanita menjual diri, prostitusi (dalam berbagai bentuk)
Wanita naik kuda (wanita banyak menduduki posisi penting di pemerintahan)
Laki-laki duduk di belakang (lelaki hidup dibiayai wanita)
20-Randha seuang loro.Prawan seaga lima.
Dhudha pincang laku sembilan uang.
Janda seuang dapat 2 orang, Perawan dijual murah
Duda pincang laku 9 keping, (lebih mahal)
21-Akeh wong ngedol ngelmu.
Akeh wong ngaku-aku. Njabane putih njerone dhadhu.
Ngakune suci, nanging sucine palsu.Akeh bujuk akeh lojo.
Akeh udan salah mangsa.
Akeh prawan tuwa.Akeh randha nglairake anak.
Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
Agama akeh sing nantang.
Banyak orang menjual “ilmu” (agama) (banyak orang mencari popularitas, politik, uang berkedok agama)
Banyak orang mengaku-aku, luarnya “PUTIH” dalamnya “MERAH DADU” (serigala berbulu domba)
Mengaku “suci”, tapi “sucinya” palsu. Banyak yang menipu
Banyak hujan salah musim,
Banyak perawan tua, banyak bayi tanpa bapak (lahir diluar nikah)
Agama banyak yang menentang
22-Prikamanungsan ilang.
Omah suci dibenci. Omah ala saya dipuja.
Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Akeh laknat.Akeh pengkianat.
Anak mangan bapak. Sedulur mangan sedulur.
Kanca dadi mungsuh.
Guru disatru. Tangga padha curiga
Perikemanusiaan semakin hilang,
Tempat ibadah dibenci,
Tempat maksiat dipuja,
Prostitusi di mana-mana
Banyak laknat, pengkhianat
Anak mengorbankan bapak(berani), saudara tega dengan saudara
Teman jadi musuh,
Guru dilawan. Tetangga saling curiga
23-Kana-kene angkara murka.
Sing weruh kebubuhan.
Sing ora weruh ketutuh.
Besuk yen ana peperangan.
Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
Akeh wong becik saya sengsara.
Wong jahat seneng.
Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul.
Sana-sini semakin terjadi angkara murka
Yang tahu terjebak, yang tidak tahu tersentuh
Besok ada peperangan di timur,barat, utara ,selatan (berbagai belahan dunia dan negara)
Banyak rakyat kecil menderita, orang jahat semakin bergembira
Waktu itu banyak Dandang (tempat menanak nasi) dibunyikan oleh burung kuntul (sejenis burung sawah)
24-Wong salah dianggep bener. Pengkhianat nikmat,
Durjana sempurna.
Wong jahat munggah pangkat. Wong lugu kebelenggu.
Orang salah dianggap benar, pengkhianat nikmat, durjana semakin sempurna
Orang jahat naik pangkat, Orang lugu/jujur terbelenggu/ dipenjara
25-Wong mulya dikunjara. Sing curang garang.Sing jujur kojur.
Pedagang akeh sing keplarang.
Wong main akeh sing ndadi
Orang berhati mulya dipenjara. Yang curang semakin garang/ berani, yang jujur malah hancur
Pedagang banyak tertipu
Orang berjudi makin banyak (adanya tempat-tempat perjudian yang legal)
26-Akeh barang haram. Akeh anak haram.
Wong wadon nglamar wong lanang.
Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
Akeh barang-barang mlebu luang.
Akeh wong kaliren lan wuda.
Wong tuku ngglenik sing dodol.Sing dodol akal okol.
Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
Sing kebat kliwat. Sing telah sambat.
Banyak barang haram, banyak anak haram
Wanita melamar laki-laki
Lelaki merendahkan martabatnya sendiri (gigolo)
Banyak barang masuk lobang (jebakan)
Banyak orang kelaparan dan tak berpakaian
Orang mengandalkan “KLENIK” jika berbisnis
Yang berbisnis, menggunakan kekuatan dan kelicikan
Orang semakin susah mencari makan
Yang salah keterlaluan, banyak orang yang mengeluh
27-Pedagang akeh alangane.
Akeh buruh nantang juragan.
Juragan dadi umpan. Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Wong pinter diingar-ingar. Wong ala diuja.
Wong ngerti mangan ati.
Bandha dadi memala. Pangkat dadi pemikat.
Sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Pedagang banyak hambatan (berbisnis banyak halangannya)
Banyak buruh menentang juragan (pemilik perusahaan) (banyak demo-demo buruh yang memperjuangkan hak2nya)
Juragan jadi umpan (dimanfaatkan oleh penguasa), Yang banyak suara (pengaruh)
Orang pintar dibodohi, diliciki, orang jahat dimanjakan
Orang tahu (akan kebenaran) makan hati (sakit hati)
Harta jadi musibah, pangkat jadi pemikat ,
Yang berkuasa merasa menang
28-Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
Ana Bupati saka wong sing asor imane.
Patihe kepala judhi.
Wong sing atine suci dibenci.
Wong sing jahat lan pinter jilat derajat.
Pemerasan ndadra.
Yang mengalah merasa semua salah
Ada bupati (penguasa daerah), yang rendah imannya
Patihnya (Aparatnya) kepala judi (Mafia judi, maksiat)
Orang berhati suci dibenci, Orang jahat dan penjilat semakin dapat kedudukan
Pemerasan di mana-mana.
29-Maling lungguh wetenge mblenduk.
Pitik angrem saduwure pikulan.
Maling wani nantang sing duwe omah.
Begal pada ndhugal. Rampok padha keplok-keplok.
Wong momong mitenah sing diemong.
Wong jaga nyolong sing dijaga.
Wong njamin njaluk dijamin.
Akeh wong mendem donga.
Kana-kene rebutan unggul.
Maling duduk perutnya buncit (Kayak Gaya koruptor)
Ayam mengeram di atas pikulan (pemaksaan pekerja, TKW, ayam yang mengeram betina)
Maling berani nantang yang punya rumah (KORUPTOR BERANI MENANTANG YANG PUNYA HAK/RAKYAT DI PENGADILAN)
Begal/ Penjahat semakin menjadi, Perampok bertepuk tangan (BANYAK MAFIA YANG LOLOS DI PENGADILAN)
Yang mengasuh memfitnah yang diasuh, yang mengangkat pejabat tapi menjatuhkan (mencari kambing hitam)
Orang yang menjaga malah mencuri (banyak aparat yang “bermain”)
Orang yang menjamin minta dijamin (minta upeti)
Banyak orang yang mengubur doa
Sana-sini berebut kekuasaan
31-Angkara murka ngombro-ombro.
Agama ditantang.
Akeh wong angkara murka.
Nggedhekake duraka.
Ukum agama dilanggar.
Prikamanungsan di-iles-iles.
Kasusilan ditinggal.
Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
Wong cilik akeh sing kepencil. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.
Angkara murka meraja lela, agama ditentang
Banyak orang berbuat angkara murka, mengagungkan tindak durjana
Hukum agama dilanggar, Perikemanusiaan diinjak-injak
Kesusilaan ditinggalkan/diabaikan.
Banyak orang gila (keduniawian), Jahat dan kehilangan akal budi
Rakyat kecil makin terkucilkan karena menjadi korban yang jahat
32-Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
Negarane ambane saprawolon.
Tukang mangan suap saya ndadra.
Wong jahat ditampa.Wong suci dibenci.
Kemudian ada Ratu (penguasa) yang berpengaruh dan punya tentara (militer)
Negaranya seperdelapan (maksudnya luas sekali)
Tukang makan suap semakin menjadi . (banyak orang menggunakan kekuasaannya untukkepentingan pribadi dengan makan suap)
Orang Jahat diterima. Orang Suci dibenci
33-Mara den titenana,
Samangsa tanah Jawa wus mengku ratu,
Wus ora bapa pra biyung, titik-ane nganggo kethu bengi,asirah watu geni, Pangapesane wanodya ngiwi-iwi jejuluk sarwa ageng edi.
Maka ingatlah, ketika tanah Jawa mempunyai Pemimpin
Yang tidak berbapak dan beribu (tidak ketahuan asal-asulnya) tandanya pakai pada malam , ber”kepala api” (sangat berkuasa).
Kalahnya (kelemahannya) dengan wanita yang melambai-lambai, dikenal kebesarannya dan wibawanya.
34-Ratu digdaya ora tedas tapak palu ne pandhe sisane gurindha ning apese mungsuh setan tuyul, setan anu gundul,
Penguasa sakti, kebal, akan senjata ( sangat berkuasa, tidak mampu digulingkan secara militer, maupun politik)
Tapi pengapesannya/kalahnya dengan setan tuyul, setan gundul
(Setan gundul, tuyul = perlambang rakyat kecil, anak kecil /mahasiswa)
35-Bocah cilik pating pendelik ngubengi
Omah surak-surak kaya nggusah pitik.
Ratu atine dadi cilik, ngumdamana bala sabrang sing dojan ***.
Anak kecil memelototi rumah ,
Berteriak-teriak seperti mengusir ayam
Penguasa langsung berkecil hati (ciut nyalinya), memanggil bala bantuan dari seberang yang suka makan anjing. (meminta bantuan dari kekuatan asing)
37-Ana wong tuwa ahli tapa Ageng, muncul ing tengahing gunung Kendheng,
Ngrasuk sarwa cemeng, ambiyantu Ratu sing dirubung tuyul nggremeng,
Pandhita ajejuluk Condro siji Jawa.
Ada orang tua,pertapa agung, muncul dari gunung Kendheng (Gunung yang berada antara Jawa Tengah dan Jawa Timur)
Berpakaian serba hitam, membantu penguasa yang dirubung tuyul (kroni) yang bergumam
38-Pandita /pertapa yang bergelar : Candra Satu jawa
(Ketika pemerintahan sudah kacau balau, muncullah sosok yang akan membantu pemerintah mengatasi masalah, seorang yang tahu benar akan hukum-hukum agama (seorang sufi/pendita/pertapa), yang berpakaian serba hitam artinya sudah tidak mempunyai keinginan apa-apa, akan menuntaskan masalah pemerintahan dan membawa Nusantara ke arah kejayaan dan kemakmuran).

Minggu, 13 Maret 2016

PASCA RUNTUNYA KEDATUAN LOMBOK

                                          PASCA RUNTUHNYA KEDATUAN LOMBOK 



Pasca runtuhnya Kedatuan di Lombok seperti Selaparang,Pejanggik ,Langko dan  lain lain maka berdirilah Kerajaan Karang Asem bali di Lombok ,dalam babad Lombok disebutkan.

A-BERDIRINYA KERAJAAN SINGASARI LOMBOK.

Berkembangnya Karangasem (SIngasari) Bali Di Lombok Kerajaan Karangasem bali menunjuk wakilnya di Lombok yaitu kerajaan Singasari (Karangasem Sasak). Hubungan antara kerajaan-kerajaan berdasarkan asas kekeluargaan untuk mencapai kemakmuran dan kepentingan bersama. Untuk memperkuat persatuan ini raja Singasari mendirikan Pura Meru di Singasari pada tahun 1774 M Kerajaan Singasari bertindak sebagai ketua di dalam sebuah pemerintahan federasi. Pagesangan biasanya berposisi sebagai Patih sedangkan Kediri dan Sekongo dilebur menjadi bagian dari Pagutan,sedangkan Kuripan terpencil sendirian.Adapun pemerintah kerajaan Singasari (1740-1838M) berturut-turut diperintah oleh tiga raja dengan gelar yang sama yaituI Gusti Made Karangasem           (I, II, dan III). Pada masa inilah terjadi gelombang perpindahan orang Bali ke Lombok secara besar-besaran.Dalam menjalankan pemerintahannya, untuk urusan ke bawah diserahkan kepada para punggawa. Sedangkan untuk menarik pajak kepada rakyat Sasak diserahkan kepada pejabat yang  berasal dari suku Sasak untuk memerintah,mengatur dan mengkordinir suku sasak itu sendiri.. Sekongo' sebagai kota pelabuhan banyak dikunjungi pedagang luar. Hal ini dianggapnya sebagai penghalang. Untuk menambah kas perbendaharan dan kekuasaannya, Singasari menaklukan Sekongo' pada tahun 1803M. Singasari mengangap dirinya lebih mampu sehingga kerajaan yang lainnya tidak dibiarkan maju.Raja Singasari mempunyai empat orang anak, yang sulung bemama Dewa Cokorda, kemudian Anak Agung Bagus Oka, Anak Agung Bagus Karangasem dan yang bungsu bemama Agung Ayu Putri yang dikawinkan dengan anak Raja Mataram. Sebagai pengganti Raja Singasari, diangkatlah Dewa Cokorda yang didampingi oleh patihnya Gusti Gde Dangin.

B.PERLAWAN KEDIRI TERHADAP SINGASARI LOMBOK

Perlawanan Kediri Terhadap Kerajaan Karengasam (Singasari/Cakranegara)Kesewenang wenangan Singasari telah memancing amarahKediri, sehingga secara diam-diam Kediri menyusun kekuatan dan mempengaruhi Rincung Lilin, Penujak, Sakra, jerowaru, dan Kopang. Rencana pemberontakan ini dibocorkan oleh I Raspa. IRaspa adalah voorang kawula Kediri sebagai pemegang gadai sawah Gde Banawi dari kaula Singasari. Pada 1804 M   Singasari mengirim ekspedisi ke Kediri.Rakyat Kediri yang tidak mau berperang pindah   ke Pasengan. Kediri mendapat serangan arah utara, selatan, dan barat. Pasukan Kediri dipimpin oleh   Sura Tresna dan   Walamuka. sedangkan pasukan Singasari di bawah pimpinan Wiryalunglungan dan   Purusa     Pakasutan. Pasukan Singasari terdesak mundur sampai ke sungai Babak tetapi setelah    datangnya balabantuan     dari Mataram,     Pagesangan   dan Pagutan. Akhirnya Kediri dapat dikalahkan. SetelahKediri habis terbakar, Sura Tresna muncul dari utara dan mengangkat senjata. la rela mati demi membela kehormatan dan kemerdekaan negerinya.

C-PERLAWANAN SAKRA

Didudukinya kerajaan Karangasem oleh Bulelengmenyebabkan raja Karangasem I, Gusti Gde Ngurah Lanang, pergimenuju Lombok dan mendirikan keraton di Gunung Sari pada tahun1824 M. Hal ini menimbulkan kecurigaan pada pihak Mataram dan Pagutan karena menganggap Raja Karangasem tersebut akanmenempatkan seluruh Lombok di bawah kekuasaannya. Timbullah  saling curiga yang kemudian berlanjut menjadi perselisihan.Kondisi ini dimanfaatkan oleh pemimpin Sasak dari Sakra yaitu Mas Panji Komala. Pada tahun 1826 M, Raja Sakra mengumumkan perang melawan Singasari (kerajaan KarangasemSasak). Ada beberapa hal yang menyebabkan perlawanan Sakrayaitu: Pertama, Raden Suryajaya, seorang perkanggo merangkaptelik (mata-mata), melakukan korupsi dan sangat takut kalaurahasianya terbuka. Kedua, sebagian besar bangsawan Sakra gelisahkarena anak gadisnya akan diperistrikan raja-raja di Mataram.Ketiga, sejak lama Mas Panji Komala menantikan saat yang tepatuntuk mernaklumkan perang terhadap kekuasaan Bali (Singasari,Mataram, Pagesangan, dan Pagutan) Permakluman tersebut ditolak oleh Karaeng Manajai (ayahdari Mas Panji Komala). Penolakan tersebut karena memangsebelumnya Mas Panji Komala lebih berpihak kepada ibunya. Sepertitelah dikisahkan sebelumnya, salah seorang putra raja Goa bemamaKaraeng Manajai diperintahkan untuk mencari jodoh dari kalangankeluarganya yang ada di Lombok. Karaeng Manajai dibekali sebuahkeris pusaka dan sebuah cincin. Sesampai di Lombok, Karaeng Manajai menghadap kepada dua orang bersaudara Meraja Kusuma dan Dewa Laki Orpa dan mengeluarkan pusaka tersebut. Ternyatakeris dan cincin tersebut sangat cocok dimiliki.Akhirnya Karaeng Manajai dikawinkan dengan Dene BiniRinggit (Putri Dewa Laki Orpa, Pemban Mas Hang Pijot). Dari perkawinan tersebut, lahirlah dua orang anak bernama Dewa MasPanji Komala dan Dene' Binti Nyanti. Dewa Mas Panji Komalaterlahir sebagai penentang kekuasaan Bali di Gumi Sasak. Karaeng Manajai kawin lagi dengan orang Mate'naling yang bernama Bunga sehingga hubungan dengan Dene' Bini Ringgit semakin renggang.Oleh sebab itu, anak-anaknya memihak kepada ibunya. Inilah yangmenjadi latar belakang mengapa nasehat Karaeng Manajai tidak diindahkan oleh Mas Panji Komala yang berakhir dengankehancuran Sakra.Penolakan tersebut tidak menghalangi keinginan Dewa MasPanji Komala untuk tetap berperang melawan Singasari. Dewa Mas Panji Komala memproklamirkan diri terbebas dari Karangasem.Raden Suryajaya menggerakkan bala bantuan dengan mangajak dan mengintimidasi desa-desa Suradadi, Kopang, Rarang, Batukliang,dan Praya.Rencana penyerangan Sakra ke Singasari, Mataram, Pagutandan Pagesangan terdengar oleh Singasari. Akhimya perselisihan yangterjadi segera dihentikan untuk bersatu melawan kerajaan Sakra. Bala bantuan dari pulau Bali didatangkan. Pada saat itu, raja Singasari berjanji, bahwa apabila kerajaan Sakra dapat dikalahkan maka daerahLombok akan dibagi-bagi kepada kerajaan-kerajaan, desa-desa, danorang-orang yang membantunya. Pada tahun 1826 M pecahlah pertempuran antara Sakradengan Karangasem Lombok di Kopang. Pasukan Sakra terpukulmundur dan Kopang dijadikan lautan api oleh Singasari. Setelah itu pasukan Singasari beserta sekutunya bergerak ke pusat pertahananSakra. Bantuan dari Karaeng Manajai, Raja Abubakar dan Raja Menjeli dari Sulawesi tak kunjung datang karena tertahan oleh banyaknya penjagaan di masing-masing pelabuhan. Bantuan terpaksa mendarat di Labuan Lombok akan tetapi didesak mundur sampaiSumbawa. Sakra terkepung dari segala arah. Pemban Aji berusahauntuk membuka kepungan musuh dengan melakukan serangan kedesa-desa tetapi tidak berhasil dan terdesak, kemudian mengundurkan diri ke Patondang.Pada saat yang sangat kritis, Dewa Mas Panji Komala menyerukan jihad fisabilillah. Pasukan Singasari dan sekutunyaakhirnya dapat dihalau mundur sampai ke Masbagik. Dengan adanyakemenangan yang gemilang ini membuat Dewa Mas Panji Komala mabuk kemenangan dan membuat suatu kekeliruan. Semua prajuritnya menjadi pengecut dan tidak berani menghadapi musuh,sehingga pada penyerangan berikutnya, Sakra dapat dikalahkan.Dewa Mas Panji Komala menghilang dan ibunya Dene' Bini Ringgit ditangkap dan ditawan di Taman Kelepung Singasari (TamanMayura).Sesuai dengan janji yang diikrarkan oleh raja, setelah peperangan usai, maka daerah kekuasaan dibagi dengan perincian berikut: 
(1) Mataram diberikan desa-desa yang berada di sebelahtimur sungai Babak, 
(2) Pagesangan diberikan desa-desa Suradadi,Suralaga, Kembang Kuning, dan desa Surabaya, 
(3) Pagutandiberikan desa-desa seperti Batujai, Batukliang, dan Batutulis, 
(4)Sedangkan sisanya adalah wilayah kekuasaaan Singasari.

D-RUNTUHNYA KERAJAAN SINGASARI KARANG ASEM LOMBOK

Setelah Perang Sakra, ternyata perselisihan lama kembalitersulut yang mengakibatkan terjadinya perpecahan antar merekasendiri. Di sisi lain, ketikakerajaan Gunung Sari dipersatukan dengan kerajaan Mataram oleh kerajaan Singasari. Kerajaan Mataram tidak dapat menerima keputusan tersebut. Tindakan sewenang-wenangserta adanya gejala untuk menghapus kerajaan-kerajaan kecilm enyebabkan pihak Mataram mulai mendekati dan mempengaruhidesa Kopang, Batukliang, Praya, Sakra dan lain-lain untuk menggempur Singasari. Secara umum dapat dikatakan bahwa, penyebab keruntuhan kerajaan Singasari sebagai berikut :
1-Masing-masing kerajaan tersebut merasa paling baik.
2-Tindakan Dewa Cokorda yang kurang baik seperti: perbuatanyang tidak senonoh dengan saudara kandungnya sendiri.Kemudian, selalu merusak serta merampas daerah kerajaanMataram dengan membuat hutan perburuan baru yangmempersulit rakyat Mataram mencari kayu dan alang-alang.Pemerintahannya juga kurang adil sehingga menyebabkan Kopang dan Praya lebih dekat dengan pihak Mataram daripada Singasari.
3-Kebencian Pagesangan kepada Singasari karena hampir semua keluarga Raja Pagesangan tewas. Hanya seorang yang dapat lolosdan melarikan diri ke teluk di Sumbawa.Ketika terjadi perebutan wilayah antara Penujak (termasuk wilayah Singasari) dengan desa Kateng (termasuk wilayahMataram), maka pada tahun 1838M, raja Mataram memaklumkan perang kepada Singasari. Maklumat tersebut ikut mempengaruhi desa Batukliang, Kopang, Praya dan Sakra. Selanjutnya kerajaanMataram dibantu oleh kerajaan Pagesangan dan Pagutan. Mereka juga didukung oleh Kapten King, pedagang Inggris dan nakhoda kapal yang bernama Ismail. 
Kemudian Karangasem Bali jugamendatangkan 6.000 pasukan untuk membantu Mataram. Sedangkan pihak Singasari dibantu oleh Lange (pedagang Denmark) danseorang pedagang dari Skotlandia.Dalam peperangan tersebut, Mataram berada dalam keadaan kritis setelah tewasnya Raja Sepuh I Gusti Karangasem III di Rumak.Pada saat itulah Sakra bergabung dengan Kuripan membantuMataram dalam menggempur Singasari. Kerajaan Singasari dikepung dari segala jurusan, seluruh penghuni Singasari melakukan puputan di Sweta. Dalam peperangan ini, istana Singasari dibakar dan semua keluarga raja tewas kecuali dua orang anaknya yang masih kecil,seorang perempuan dan laki-laki, mereka kemudian dibawa keKarangasem Bali. Sedangkan Gusti Gde Dangkin, Patih Singasari,tewas di Pamotan. Kerajaan Singasari menyerah kalah terhadap kerajaan Mataram pada tahun 1839 M.

E-KERAJAAN MATARAM.

Kekalahan Singasari telah mengangkat derajat kerajaanMataram. Orang-orang yang membantu Mataram diberi hak otonom serta diangkat menjadi pejabat, seperti Gusti Wanasari,Gusti Gde Wanasara, Sang Wahayan Lebah yang diangkatmenjadi Punggawa dan.Sang Bonaha yang diangkat menjadiPatih.Pada tahun 1839 M SangBonaha dipengaruhi oleh Langesehingga berbalik melawanMataram. Sementara untuk membunuh sang Bonaha sangatlah sulit karena ia konon sakti mandraguna. Namun raja tidak kehilangan akal, ia mengancam bangsawan Batujai dan akan diturunkan kastanya jika dalam waktu tiga bulan tidak mampu membunuh Sang Bonaha. Sehari sebelum ancaman berakhir Mamiq Salim berhasil membunuh Sang Bonaha yang A. A. Ketut Karangasem dikatakan sakti mandraguna. Dari kalangan orang Sasak, Dene' Batu Laki dan Dene' Laki Galiran dari Kuripan diberikan hak otonomi di bagian sebelah timur sungai Babak dan sungai Belimbing. Begitupula Kopang, Mantang,Rarang, Praya diberi hak otonomi tanpa membayar pajak keMataram

F-BERKEMBANGNYA KERAJAAN MATARAM

Kerajaan Mataram sebagai penguasa tunggal di pulauLombok berturut-turut diperintah oleh tiga raja. Raja yang pertama Anak Agung Ketut Karangasem IV (1838-1850 M), yangmengkonsolidasikan Mataram sebagai kerajaan tunggal yang bercorak sentralistik dan represif. Raja kedua adalah Anak Agung Made Karangasem (1850-1872M), di bawah raja inilah dilakukanrenovasi atas Taman Kelepug menjadi Taman Mayura. Dibangun pula Pura Meru, Tamaiq Suranadi, Lingsar, dan dirintisnya pembangunan Taman Narmada yang diberi ukir kawi dan selesaitahun 1866 M. Kemudian Cakranegara (negara yang sudah bulat bersatu) ditata sebagai pusat pemerintahan. Raja terakhir yang paling bungsu adalah Anak Agung Gede Ngurah Karangasem (1872-1894M), yang dinobatkan sebagai raja dalam usia 70 tahun lebih.Raja Mataram mengawini Dende Aminah dan namanyadiganti manjadi Dende Nawangsasih (Nawang artinya tahu, Sasihartinya bulan). Perkawinan tersebut konon berdasarkan petunjuk gaib. Dende Aminah alias Dende Nawangsasih terkenal sangat taat menjalankan agamanya, dia sangat berpengaruh kepada suaminya, sehingga diizinkan untuk mendirikan sebuah masjid yang dibangun dekat Taman Mayura. Dia diperkenankan juga mendatangkan seorang guru agama.Gurunya bernama Guru Baok alias Haji Moh. Yasin dari Kelayu. Dende Aminah memiliki penasehat spiritual dari Arab bernama Sayid Abdullah. Dari perkawinan dengan raja Mataram ini kemudian lahir seorang anak bernama Gapul atau Imam Sumantri yang terkenal sebagai Datu Pangeran.Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaannya, karena dengan mudahnya memerintah orang Sasak untuk ngayah membangun berbagai tempat peribadatan tetapi banyak pula perkanggo Sasak menjadi kaya raya. Pada saat ini, Mataram mengubah nama Singasari menjadi Cakranegara (negara yang bulat).Orang Islam bebas beribadah bahkan di Ampenan dibangun sebuahmasjid. Selain itu, didatangkan pula guru qur'an dan hadits. Mataram menjadi penguasa seluruh Lombok, termasuk mempersatukan kerajaan-kerajaan yang dulu dibagi-bagikan, yaitu,kerajaan Pagesangan, Pagutan dan Kediri. Kemudian keraton baru dibangun di tempat bekas keraton kerajaan Singasari, dan dinamakan Puri Ukir Kawi yang dihuni oleh A.A. Gde Ngurah Karang Asem dibantu oleh seorang anaknya yaitu A.A. Made Karangasem, sedang Puri Mataram dihuni oleh anaknya yang lain yaitu A.A. Ketut Karangasem, sang putera mahkota calon pengganti ayahnya.

G-SISTEM PEMERINTAHAN MATARAM

Pada awalnya, susunan pemerintahan Mataram adalahsebagai berikut:Berbagai ketentuan yang berlaku:
1-Punggawa atau perkanggo diangkat dan diberhentikan oleh raja, berdasarkan keturunan disamping kecerdasan dan keberaniannya.
2-Pemekel dan keliang diangkat perkanggo oleh penggawa, berdasarkan keturunan dan wibawa di dalam masyarakat dan atasnasihat pemuka masyarakat.
3-Penghasilan perkanggo atau penggawa berasal dari pemberianizin tanah yang tidak terbatas kepada rakyat yang dikerjakansecara gotong royong atau sebagai penggarap

4- Bagi perbengkel dan keliang mempunyai tanah pecatu, yangdapat dibedakan atas pecatu pusaka dan pecatu mider.
5-Soal perselisihan antara wilayah masing-masing punggawa, perkanggo, perbekel, dan keliang, diberikan wewenang untuk menyelesaikannya sendiri. Jika tidak dapat diselesaikan sendirimaka harus diajukan ke struktur yang lebih tinggi.
6-Perkanggo dan punggawa diberikan wewenang untuk mengatur dan menyelenggarakan pemerintahan pada wilayah masing-masing.
7- Perkanggo juga diberikan wewenang dan diwajibkan untuk mengumpulkan upeti/ membayar pajak bentuk natura. Rakyatyang diwajibkan membayar upeti hanyalah golongan yangmemiliki tanah. Untuk pekerjaan pembuatan, perbaikan ataupun pemeliharaan jalan, rakyat Sasak jugalah yang diwajibkanmelakukan ngayah. Ngayah adalah sejenis kerja rodi. Rakyatdisuruh membangun berbagai tempat ibadah, jalan¬jalan, jembatan, rumah-rumah para raja maupun orang Bali. Selain itu juga sering kali diikutkan berperang membela/membantukerajaan bila diperlukan


H. PERANG PAGUTAN DAN MATARAM

Salah seorang putra raja Mataram yang sudah dewasadilamarkan seorang putri bernama Ayu Bulan dari Pagutan. Akantetapi lamaran tersebut ditolak oleh pihak Pagutan. KeberanianPagutan menolak lamaran tersebut karena dijanjikan bantuan olehKuripan. Apabila terjadi peperangan melawan Mataram, pihak kuripan bersedia membantu Pagutan. Kerajaan Mataram merasadilecehkan oleh peristiwa tersebut, akhirnya peperangan pun tak dapat dihindari. Pada tahun 1839 M, Raja Pagutan, Gusti Ketut Putradengan beberapa orang keluarganya tewas. Hingga perang usai, bantuan dari Raja Kuripan Dene' Laki Batu tidak kunjung datang.

J-PENGHANCURAN KEKUASAN SASAK

Peristiwa peperangantersebut sangat disesalkan olehMataram. Semua itu terjadikarena ulah Kuripan. AkhirnyaMataram mencabut hak otonomiyang diberikan kepada seluruhdesa-desa termasuk Kuripan,Praya, Kopang, Mantang, Rarangdan lain-lainnya. Mataram beranggapan bahwa pemberian otonomi itu pada akhirnya akanmenimbulkan malapetaka bagi pemerintahan Mataram Mataram menjadi sangat hati-hati karena ia menyadari betul apabilakekuatan Sasak bersatu di bawah kekuatan Islam maka bisamenimbulkan malapetaka bagi Mataram. Kemudian Mataram melakukan upaya adu-domba.
Peperangan Kuripan Siasat tersebut kemudian mulai dijalankan. Satu persatu kerajaan Sasak ditaklukan. Pertama diawali dari Kuripan. Kuripan diundang oleh Mataram akan tetapi Dene' Laki Batu dan Dene' BatuGaliran membawa para patih dan punggawa. Dalam pertemuantersebut pihak Mataram menyerahkan wilayah sebelah timur sungai Belimbing menjadi bagian dari kekuasaan Kuripan, sedangkan wilayah sebelah barat sungai itu akan dikurangi. Kuripan minta waktu untuk berpikir. Setelah pulang mereka sepakat untuk menolak permintaan tersebut. Pada undangan yang kedua Dene' Laki Batu dan Dene' Laki Galiran dapat dibunuh pada tahun 1840 M. Wilayah Kuripan diperintah langsung oleh kedua putri Dene' Laki Batu,masing-masing Dende Rada dan Dende Sumekar yang selanjutnyadibawa ke Mataram, sedangkan anak laki-laki Dene' Laki Batumenghilang.


K- PERANG PRAYA I

Penaklukan selanjutnya diarahkan ke Praya yang dipimpinoleh Raden Wiracandra. Berkali-kali Raden Wiracandra ke Mataram, tetapi setiap kedatangannya selalu membawa pengiring yang sangat banyak dan bersenjata lengkap. Praya sudah menyadari bahwa malapetaka bagi dirinya hanya menunggu giliran saja. Praya sudah tidak tahan lagi memelihara persahabatan dengan Mataram.Beberapa hal yang menjadi sebab perang Praya I ini antara lain:
1.Kerajaan Mataram merobek-merobek (melanggar) perjanjianantaraArya Banjar Getas dengan I Gusti Ketut Karangasem. 
2-.Daerah kekuasaan Banjar Getas sejak lama telah digerogoti sedikit demi sedikit dengan mendirikan desa-desa otonom dibawah perintah langsung dari Mataram 
3-.Dalam usahanya untuk menguasai seluruh Lombok, KerajaanMataram selalu menjalankan politik adu domba antara para pemimpin Sasak. 
4-. Raden Wiracandra difitnah akan menyerang Mataram.Usaha terakhir Mataram untuk menaklukkan Praya secarahalus, adalah dengan melamar putri Raden Wiracandra yang ditolak oleh Praya. 

Maka untuk menyerang Praya, raja Mataram menghasut desa-desa tetangganya untuk memusuhi Praya.Akibat hasutan Mataram itu, seolah-olah Kopang dan Batukliang itu menjadi musuh utama bagi Praya, maka Praya menyerang Batukliang dan Kopang. Kedua desa itu mendapat bantuan dari Mataram di bawah pimpinan Ratu Gde Wanasara yangdidampingi oleh I Made Rai dan Gusti Made Kaler. Untuk menghindari korban yang lebih banyak, terutama anak-anak dan wanita, maka raja Mataram memerintahkan supaya Praya ditunggu di perbatasan Praya dan Batukliang. Wilayah Praya dikepung oleh pasukan Batukliang, Kopang dan Mataram serta diperkuat pasukandari Batujai, Suradadi, Penujak, Jonggat Puyung, Rarang, dan Sakra.Hampir setengah tahun lamanya terjadi perang tiada berkesudahan,sehingga menimbulkan bencana kelaparan. Beberapa orang pasukanyang keluar untuk mencari makanan dibunuh oleh para musuh. Halitu menyebabkan Raden Wiracandra dan pembantunya gelisah.Mereka bertekad untuk perang fisabilillah. Pada peperangantersebut, Raden Wiracandra tewas. Pasukan rakyat yang fanatik,dibawah pimpinan Haji Umar menjalani perang fisabilillah.Semuanya gugur di medan perang. Raden Tunggul, putra dari RadenWiracandra dapat meloloskan diri dan pergi ke Bugis. Para putri- putri Raden Wiracandra dan tawanan yang lain dan sebagian lagi dibuang ke Bali dan Tanjung (Lombok Utara), beberapa dari merekaada pula yang dibunuh. Sejak itu Praya berada di bawah kekuasaanAnak Agung Gde Ngurah, raja Karangasem. Sedangkan di Praya diangkat seorang pimpinan dari keturunan Banjar Getas bernamaMamiq Sapian.Hancurnya kerajaan Praya menambah martabat Kopang dan Batukliang. Hal ini tidak menyenangkan raja Mataram. Politik pecah-belah terus dijalankan. Beberapa tahun setelah perang Praya pertama, Jero Wirasari pimpinan Kopang, dipanggil ke Mataram.Ketika Jero Wirasari berangkat bersama para pengiringnya, iadidakwa dan difitnah akan memberontak ke Mataram. Raja memerintahkannya untuk ke Pemenang (Lombok Utara) dan tanpadisadari kemudian dikeroyok dan dibunuh oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Gusti Ketut Ning. Jenazahnya dimakamkan oleh para pengiringnya di Pemenang. Sejak saat itu Kopang mengalamikemunduran.Rencana Raja Mataram untuk menguasai desa demi desasemakin menjadi jadi, sehingga ia tidak lagi membedakan kawanatau lawan, yang penting tujuannya tercapai dengan mudah dancepat. Satu-persatu sekutunya dihancurkan. Hal ini sangat menggelisahkan para pemimpin Sasak. Mereka tidak dapat bersatuakibat politik Mataram yang sangat cerdik.Lima bulan setelah Kopang, tiba giliran Batukliang menuaimasalah. Raden Sumintang diminta datang ke Mataram. Para bangsawan dan pembantunnya melarang beliau datang ke Mataram untuk memenuhi surat panggilan dari Anak Agung Mataram itu.Setelah tiga kali surat diterima dan tidak dihiraukan juga; maka Mataram mengirim pasukan di bawah pimpinan Gusti Made Sangkauntuk menangkap Raden Sumintang dalam keadaan hidup atau mati.Agar Batukliang tidak bernasib seperti Praya, Raden Sumintangmenyerahkan diri di Aik Gering kepada pasukan yang akanmenangkapnya. Disitulah beliau dibunuh oleh Gusti Made Sangka.Melihat Radennya dibunuh, para pengiringnya bernama Tati'Engkis tidak dapat menahan diri lalu mengamuk. Tetapi baru dapat menewaskan seorang musuh, ia pun tewas. Jenazah RadenSumintang dimakamkan di Batukliang.

L-PERANG KALIJAGA

Sebab-Sebab TerjadinyaSebelum dilantik menjadi raja, Anak Agung Gde Ngurah Karangasem berfikir bagaimana cara agar dua golongan yang berbeda agama bisa berdamai. Atas petunjuk gaib dalam pertapaan di Batu Bolong, ia bermimpi saat itu kejatuhan bulan di Kalijaga. Anak Agung Gede Ngurah Karangasem bersama Gusti Gde Wanasara kemudian melamar Dende Aminah dari Desa Kalijaga Lombok Timur. Dende Aminah dipercaya sebagai pemegang Wahyu Kedaton Selaparang.Dende Aminah merupakan putri dari Dea Guru, seorang pemuka Islam yang terkenal shaleh. Baliau adalah saudara dari DeaMeraja, pemimpin desa Kalijaga. Dea Guru dan Dea Meraja menolak lamaran itu karena sudah dijanjikan bantuan oleh Raja Amir dari Desa Mamben dan Raden Kardiyu dari Korleko bila nantinya diserang oleh Mataram.Anak Agung Gde Ngurah berkirim surat kepada Dea Gurudan Dea Mraja untuk datang ke Mataram, tetapi undangan itu ditolak, karena datang ke Mataram berarti mati. Penolakan surat tersebut sangat menyakitkan hati raja. Maka siasat lamapun dijalankan, "Pecah dan Kuasai".
Perlawanan Kalijaga Atas berbagai pertimbangan, akhirnya surat pemanggilan tersebut dipenuhi. Maka diutuslah Raden Kardiyu dim Raden Amir ke Mataram. Sesampainya di Mataram, mereka diterima oleh Patih Gusti Wanasara. Meskipun tanpa bukti, mereka dituduhmemberontak. Kemudian mereka diikat dan dibawa ke Sema(Kuburan Bali) untuk menjalani hukuman mati. Ternyata merekatidak mempan senjata. Gusti Wanara melaporkan kejadian yang sangat aneh ini kepada Raja. Rajapun mengampuni keduanya dengan syarat agar supaya mereka berdua bersedia menangkap Dea Raja dan Dea Guru dalam keadaan hidup atau mati. Demikianlah, Mamben dan Korleko pun menyerang Kalijaga. Namun serangan itu dapat ditahan oleh Kalijaga. Raden Amir dan Raden Kardiyu tersadar, bahwa mereka harus berpihak kepada Kalijaga. Akhirnya mereka pun berbalik melawan Mataram. Mereka berencana menyerang kedudukan Mataram di Pringgasela dengan beberapa strategi: -Dari Barat Daya dipimpin oleh Dea Mraja dibantu oleh Raden Kardiyu, Mamiq Lisah, Mamiq Putra, Pun Kebiandan Raden Nuna Darmasih.-Dari Arah Timur dipimpin oleh Dea Guru dibantu ol,eh Raden Amir, Pe Sumping, Mamiq-Dalu, Papuq Lokah, Amaq Kedian, Mamiq Mesir, dan Pe Rumah.Ketika peperangan berlangsung, RadenAmir dan RadenKardiyu ingat janjinya sehingga berbalik melawan Kalijaga. RadenAmir, Raden Kardiyu, Pe Sriyaman yang membela Mataram memukul mundur pasukan. Kalijaga untuk kemudian membakar Kalijaga. Dea Meraja dan puterinya Raden Muna Darmasih melarikan diri naik perahu ke Bima, sedangkan Dea Guru bersama putrinya, Dende Aminah dan beberapa orang pengiringnya bersembunyi di dalam sebuah goa di hutan Bungus Bawi, namun musuh dapat menemukannya, sehingga mereka dapat dibunuh.

M-MATARAM MENEGAKKAN KEKUASAANNYA

Sistem pemerintahari yangdigunakan pada masa itu adalah pemberian hak otonomi terbatas kepada desa di wilayah Timur Juring. Setiap desa mengangkat para pemuka desa untuk memungut upeti dan pajak, tetapimereka mendapat pengawasanlangsung dari seorang Bali.Untuk memantapkan danmenegakkan kekuasaannya, Anak Agung membuat peraturan- peraturan sebagai berikut:
1- Peraturan tentang pertanahan.
2- Menghapus gelar "Raden" bagiorang Sasak.
3- Menghapus prasasti dan silsilah bagi orang Sasak
4- Memperluas perjudian sabung Ayam. Pembagian harta peninggalan didasarkan patriarkat dalam pengertian bahwa jika seseorang meninggal dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka harta peninggalannya itu menjadi hak milik raja).
5- Pemberian gelar "Jero" bagi pimpinan Sasak.
6- Pemerasan tenaga kerja untuk pengabdian kepada raja.


N-RUNTUHNYA MATARAM

Atas Kondisi tersebut, parapemuka SasakmemintapemerintahHindia-Belanda untuk ikut campur dalam menangarii perangLombok. Setelah menerima permintaan bantuan persenjataan bagirakyat Sasak, pemerintah Belanda mengirimkan utusannya untuk melihat secara langsung keadaan orang-orang Sasak. Dalam peninjauannya di Pulau Lombok itu, Liefrinck melaporkan keadaanyang sesungguhnya, yaitu terjadi berbagai penderitaan sepertiterjadinya bencana kelaparan dan wabah penyakit yang menimpaorang-orang Sasak.Laporan dari Liefrinck, utusan pemerintah Belanda tersebut,sangat berpengaruh atas pemerintahan dan kekuasaan Bali diLombok. Laporan ini ditanggapi dengan sangat teliti oleh pemerintahBelanda di Batavia. Belanda pun sangat perlu untuk ikut campur menyelesaikan perang Lombok.Belanda berupaya untuk mempertemukan orang Sasak danMataram, akan tetapi menemui jalan buntu. Akhirnya Belandamengeluarkan ultimatum yang memberatkan Mataram. Padamulanya Mataram menolak permintaan tersebut, akan tetapikemudian meminta menunda jawaban. Pihak Mataram selalumengulur-ulur waktu. Melihat gelagat tersebut, Belanda mendaratkan pasukannya di Ampenan. Maka man tidak mau, ultimatum tersebutharus diterima.Setelah itu, Belanda menggelar pasukannya danmemindahkan markasnya di tanah lapang di muka Pura Meru agar pembicaraan berjalan cepat dan lancar. Belanda memaksa pihak Mataram untuk menandatangani surat perjanjian yang disaksikan oleh pemuka-pemuka Sasak. Jenderal Van Ham menemui para pemuka Sasak tersebut di Sisik Labuhan Haji, dan meminta mereka agar datang ke Cakranegara. Akan tetapi pemuka-pemuka Sasak menolak undangan tersebut. Setelah mendapat penjelasan secara langsung dari Panglima pasukan, akhirnya para pemuka Sasak menyepakati untuk datang ke Mataram dengan mengirim dua orang utusan.Adapun isi perjanjian antara Mataram dan Belanda yangtertanggal 7 Juni 1843M sebagai berikut:
1- Mataram mengakui kedaulatan Belanda atas pulau Lombok.
2- Mataram tidak lagi melakukan hak adat tawan karang.
3- Mataram akan melindungi kepentingan perdagangan Belanda
4- Mataram tidak lagi kontak atau melakukan perjanjian dengan bangsa kulit putih lainnya.
5- Sebagai imbalan-Mataram diberi hak otonomi penuh oleh Belanda dalam melaksanakan pemerintahan di Lombok.Kedatangan utusan Sasak tersebut justru meninggalkan permasalahan baru. Mereka justru meninggalkan tempat perundingandan memulai peperangan. 
Keadaan ini menyebabkan banyak pasukan Belanda meninggal, salah satunya Jenderal Belanda adalah Jenderal Van Ham.Pada tahap selanjutnya, Belanda mengirim ekspedisi yang sempurna dan melakukan penyerangan terhadap Mataram dari berbagai penjuru. Serangan Pada tahun 1894 M tersebut berhasil menghancurkan dan membakar puri hingga hampir rata dengan tanah. Mataram kemudian dapat ditaklukkan.Peristiwa penting yang terjadi pada waktu itu ialah ditemukannya keropak(naskah lontar) Desa warnama yang kemudian terkenal dengan nama Negarakertagama. Menurut Brandes, naskahini diketahui sebagai satu-satunya naskah yang berisi gambaran paling lengkap tentang kerajaan Majapahit.

O-PERANG LOMBOK.

Latar Belakang Perang Lombok
Dikeluarkannya berbagai peraturan oleh kerajaan Mataram yang bertujuan untuk memantapkan dan menegakkan kekuasaannya, telah membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi rakyat Sasak. Adapun peraturan tersebut di antaranya
:(1) peraturan tentang pertanahan, 
(2) MENGHAPUS GELAR "RADEN" BAGI ORANGSASAK, 
(3) MENGHAPUS PRASASTI DAN SILSILAH BAGI ORANG SASAK, 
(4)Memperluas perjudian sabung ayam, 
(5) Pembagian harta, peninggalan, 
(6) Pemberian gelar "Jero" bagi pimpinan Sasak, 
(7) pemerasan tenaga kerja untuk pengabdian kepada raja.

Sebelumnya, peperangan demi peperangan dilakukan oleh orang Sasak untuk menyerang orang Bali tetapi tidak pernah berhasil karena tidak ada persatuan. Peperangan tersebut adalah:
1-.Peperangan Praya I, yang dipelopori oleh keturunan Arya Banjar.
2-Peperangan Kopang dengan gugurnya seorang pahlawan Sasak Mamiq Mustiasih, adik dari Mamiq Mustiaji.
3-.Peperangan Batukliang dengan gugurnya pemuka desa Batukliang Jero Ginawang.
4-.Peperangan Sakra yang dipimpin oleh Mamiq Nursasih dan TuanGuru Haji Ali.Peristiwa-peristiwa tersebut mengakibatkan kekuasaan Bali diLombok semakin melemah, karena di sisi lain mereka juga disibukkan dengan mengirim bala bantuan ke Karangasem Bali yang sedang berperang dengan kerajaan Klungkung.

P.PERLAWANAN PRAYA

Pada tangga l8Agustus 1891 M (2Muharram 1309 H) Mataram Guru Bangkol (Guru Ismail) bergerak menuju medan pertempuran di Pakukeling dekat Kediri. Adapun sebab-sebab pemberontakan Praya adalah: 
(1) pemerintahan Mataram semakin sewenang-wenang, 
(2) dendam sejak Perang Praya I, 
(3)terbunuhnya seorang ulama bernama Guru yang oleh perbekel Bali di Praya tanpa kesalahan yang nyata. 
Dari sebab tersebut, yang palingmenyakitkan adalah sebab yang ketiga, ketika Guru Bangkol meminta keadilan, ditolak oleh raja Mataram, maka diputuskan untuk mengangkat senjata.Pertempuran di Pakukeling, pasukan Guru Bangkol berhadapan dengan pasukan A.A. Made Karangasem, putra sulung Anak Agung Gde Ngurah Karangasem. Pada pertempuran tersebut pasukan Bali dengan persenjataan yang lengkap dapat menghalau Guru Bangkol sampai ke Praya (H. Lalu Lukman,2007). Pasukan Bali melanjutkan penyerangan, akan tetapi Praya telah dikosongkan.Semua pasukan mengungsi ke desa-desa di sekitamya, kecuali: GuruBangkol, Mami, Sapian, Haji Yasin, Mami' Diraja, Amaq Gewar,Amaq Semain, dan seorang lagi, Amaq Tombok yang tetap mempertahankan masjid Praya.Kota Praya tetap dikepung, namun ketujuh orang yang menjaga masjid berganti-ganti untuk memerangi musuh yang mengepung masjid. Jika sudah lelah melayani musuh, lalu diganti dengan yang lain. Selama berminggu-minggu orang Bali mengepung masjid Praya, namun tidak dapat juga direbut. Orang-orang Bali tidak berani maju dan selalu mengandalkan orang-orang Sasak yang masih setia kepada mereka untuk menjadi pemuka dalam pertempuran.Sebuah keanehan terjadi, meskipun dikepung selama berminggu-minggu oleh pasukan Bali beserta bantuan pasukanSasak, mereka tetap tidak mampu menguasai Praya. Sebenarnya strategi yang dipergunakan oleh tujuh pahlawan tersebut adalahdengan membuat sebuah bubungan yang digerak-gerakkan olehorang-orang bersenjata, sehingga semuanya tampak bergoyangdahsyat.Akhirnya secara berangsur-angsur, rakyat yang telahmengungsi kembali memasuki kota untuk mempertahankan kotaPraya. Hal ini menimbulkan kecurigaan Anak Agung Made terhadap kesetiaan pasukan Sasak yang membantunya.Karena kesal, ia mengeluarkan ancaman: jika pemberontakan Praya selesai, maka semua Haji, semua Guru, dan semua pemuka Sasak akan dimusnahkan. Sedangkan yang lainnya akan diseberangkan ke Bali dan ditempatkan di lereng-lereng gunung dan hutan di Bali. Ancaman tersebut secara berturut-turut dilakukan terhadap:
1.Praya.Memanggil Mamiq Ardita yaitu keluarga dari Guru Bangkol dengan tuduhan yang dibuat-buat kemudian disingkirkan.
2-Batukliang.Memanggil Mamiq Wirata (Jero Buru) keluarga Mamiq Ginawang karena tidak lagi dianggap setia kepada raja Bali, laludibawa ke Cakranegara dan semuannya dibunuh.
3. Kopang.Mamiq Mustiaji dari Kopang dan Mamiq Mustiasih besertadua orang pengikutnya yang bernama Haji Husen alias GuruImam dan Jero Ginawa alias Mamiq Ramelah. Tetapi merekadapat meloloskan diri pulang kembali ke Kopang.
4.Sakra.Tuan Guru Haji Ali dari Sakra, yang setia membantu Anak Agung Made dalam menyerang Praya, tetapi beliau mampu meloloskan diri pulang ke Sakra.

Q-PERSATUAN SASAK

Kegagalan-kegagalan yang selama ini dialami oleh rakyat Sasak ternyata karena memang belum adanya persatuan. Melalui perundingan di Kopang akhirnya mereka mau bersatu untuk menata dan menyusun strategi serta melakukan perlawanan secara menyeluruh terhadap kekuasaan Bali. Para pemuka Sasak yang mengadakan pertemuan di desa Kopang dan sekaligus bertanggungjawab atas wilayahnya antara lain:
1. Mamiq Mustiaji dari Kopang.
2. Guru Bangkol dariPraya.
3. Mamiq Ginawang*dariBatuliang.
4. Mamiq Nursasih dariSakra.
5. Raden Melaya Kusumadari Masbagik.
6. Raden Wiranom dari Pringgabaya.
Dalam musyawarahtersebut diputuskan untuk membantu Praya dan mengangkat. TuanGuru Haji Ali Batu dari Sakra sebagai panglima perang. Kemudian para pemuka Sasak mengalihkan perhatian Anak Agung memperluasmedan perang, bukan saja di kota Praya. Aturan penyerangan ditetapkan sebagai berikut:
1-Penyerangan ke Pringgarata dilakukan oleh pasukan Masbagik, Rarang dan Kopang. Pertempuran pun berkecamuk di sebelah barat Pringgarata, di desa Sintung. Di desa Sintung tersebut Pewanga Anak Agung dan pengiringnya diserang sampai kocar-kacir. Tetapi Anak Agung dapat meloloskan diri., Sebuah pecanangan direbut oleh pasukan Kopang yang dipimpin oleh Haji Abas, lalu dibawa ke Kopang sebagai bukti.
2- Penyerangan pasukan Bali di Praya ditangani oleh pasukan Sakradi bawah pimpinan Tuan Guru Haji Ali. Setelah berhasil merebut Puyung, tepatnya di desa Peku Keling dekat Kediri, Tuan GuruHaji Ali terluka. Beliau lalu dibawa kembali ke Sakra. Anak Agung berhasil meloloskan diri ke Narmada. Semua orang Bali ditugaskan oleh Anak Agung menjadi pengamat dan pengawas di setiap desa. Semua orang dibunuh, kecuali beberapa penduduk desa yang karena hubungan baik dibiarkan tetap hidup, namun haru~,meninggalkan desa itu.Pihak Bali di Lombok kemudian mendatangkan sebanyak 1.200 orang dibawah pimpinan Gusti Jelantik, putra dari Raja Karangasem Bali. Pasukan inilah yang balik menyerang dengar.Menguasai desa demi desa hingga jauh masuk ke Timur Juring,kecuali Praya yang sulit dijebol. Serangan juga diarahkari sampai ke Mujur dengan sasaran akhir Sakra. Sedangkan di sebelah utara, prajurit Mataram memporak-porandakan Mantang, Kopang, Rarang,Suradadi hingga ke Kotaraja dengan sasaran akhir Masbagik dan Pringgabaya. Akibat serangan pasukan Bali ini, seorang pahlawan Sasak yang bernama Mamiq Mustiasih, adik dari Mamiq Mustiaji gugur. Setelah itu pertempuran agak mereda, namun masing-masing pihak tetap dalam keadaan waspada.Dengan luasnya wilayah yang terlibat sehingga peperanganini disebut Perang Lombok Pada masa ini penderitaan panjangdialami oleh masyarakat Sasak. Sawah ladang terbengkalai. sehinggaterjadi kekurangan bahan makanan dan kelaparan pun terjadid imana-mana.
R-MINTA BANTUAN
Dalam Pertemuan pemuka-pemuka Sasak di Kopang tanggal9 Desember 1891 M (bulan ketujuh Jumadil Awal 1309 H) juga memutuskan untuk minta bantuan persenjataan ke Belanda yang adadi Bali, karena terbukti bahwa pihak Mataram melakukan kontak dengar Inggris di Singapura untuk pembelian senjata dalam melawan orang-orang Sasak. Adapun sura tersebut ditandatangani padatanggal 9 Desember 1891 M oleh ketujuh pemuka Sasak yaitu Djero Mudtiadji, dari Kopang, Guru Bangkol dari Praya, Mamiq Noersasih dari Sakra, Mamic Ginawang dari Batukliang, Raden Ratmawa dari Rarang, Mamiq Wiranom dari Pringgabaya dan Raden Malaya Koesoema dari Masbagik Surat tersebut semakin memperkuat alasan Belanda untuk ikut campur menyelesaikar permasalahan di Lombok. Akan tetapi pihak Belanda di bawah pimpinan GGMC. Pijnacker Hordijk tidak dapat berbuat apa-apa. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal:
1-Padahal perjanjian 7 Juni 1843M menyatakan bahwa "pulau Selaparang adalah milik dan kepunyaan Gubernemen Belanda"
2-Sibuk menghadapi perang Aceh dan takut kepada Inggris.Sementara pelanggaran-pelanggaran pihak Mataramdibiarkan seperti:
· 
Tahun 1891 M Mataram mengirim bantuan ke Bali untuk membantu Karangasem melawan Klungkung tanpa pemberitahuan Gubernur Jenderal.
1-Pemberontakan2Agustus 1891 M tidak dilaporkan oleh Mataram kepada Belanda.
2-Februari 1892M, kontrolir Liefrinck bermaksud datang keMataram, tetapi ditolak oleh raja.
3-Anjuran Belanda supaya Mataram tidak mengimpor senjatadengan menggunakan kapal laut tidak dihiraukan.
4-Mei 1982M residen Bali dan Lombok datang ke Lombok meminta keterangan tentang pengaduan orang Sasak ditolak oleh raja. .
5-Raja Mataram berusaha agar Inggris turut campur ke dalammasalah kontrak tahun 1843M. 
Kemudian kembali lagi Belanda ikut campur tahun 1893M yang diwakili oleh Hordijk untuk mendamaikan rakyat Sasak dengan Mataram. Tetapi ditolak oleh Mataram. Kali ini Raad van Indie marah dan menempuh jalan kekerasan.Kontrolir Liefrinck kemudian mengambil inisiatif dengan mendarat lewat Labuhan Haji (sebuah pantai di sebelah selatan Lombok Timur). kemudian melaporkan bahwa:
1-Di Lombok rakyat Sasak terancam kelaparan
2-Aktivitas penyerangan dari rakyat Sasak sudah berkurang danhanya bertahan di pos masing-masing.
3-Pos-pos rakyat di Praya setiap hari mendapat serangan dari Mataram sementara rakyat kelaparan.
5-Pemimpin-pemimpin dan rakyat Sasak telah bertekad tidak akan menyerah terhadap Mataram.
6-Di pihak A.A. Made bertekad sehabis perang akan membunuh semua pemimpin Sasak terkemuka dengan keluarganya serta parahaji agar tidak ada yang menganjurkan pemberontakan.
7-Menurut Liefrinck rencana A.A. Made pasti akan dilaksanakan,terbukti dengan pemanggilan dua orang pemuka Sasak dibunuh oleh A.A. Made.
S-TUNTUTAN BELANDA
Mengetahui laporan tersebut, Gubernur Jenderal memutuskan untuk ikut campur yang tidak dapat ditunda lagi. Pada tanggal22 Mei 1894 M, Gubernur Jenderal mengirim surat kepada menteri koloni Bergsma bahwa Belanda akan campur tangan untuk memperbaiki nasib rakyat Sasak. Akan tetapi sebelum menggunakankekerasan Gubernur Jenderal Van Der Wijck memerintahkan residen Bali dan Lombok untuk menuntut Mataram sebagai berikut:
1-Raja Mataram minta maaf dan menyatakan penyesalannya atas perbuatan raja yang tidak senonoh kepada Gubernur Jenderal.
2-Raja Mataram akan menuruti perintah Gubernur Jenderal dengan tepat
3-Penerimaan campur tangan dalam keadaan yang rumit diLombok.
Berdasarkan laporan dari J.H. Liefrinck, Gubernur Jenderal diBetawi memerintahkan residen di Singaraj a untuk datang sendiri keMataram membawa surat tuntutan (ultimatum) yangkeberangkatannya terjadi pada tanggal 27 Mei 1894 M. Upaya perundingan yang diprakarsai oleh Belanda untuk mempertemukan orang Sasak dengan Mataram Berakhir buntu. Orang-orang Sasak meminta orang-orang Bali dipulangkan ke negerinya. Kemudian pada tanggal 9 Juni 1894 M residen menyerahkan tuntutan yang bunyinya:
1. Permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas sikap yang kurang pantas yang selalu diambil terhadap Gubernemen dan petugas- petugasnya.
2. Jaminan terhormat, agar pemerintah kerajaan (Vorsten Bestuur)selalu ditaati pihak Mataram. Pihak Mataram harus mengikutisegala "perintah dari Gubernur Jenderal sebagai pelaksana dari pemerintah atas seluruh Hindia Belanda, Di Mana Lombok Termasuk Bagian Dari Kekuasaannya.
3. Anak Agung Made Diminta Untuk Bertanggungjawab Dan Bersedia Untuk Diasingkan Ke Pulau Lain.
4. Menggunakan Perantara Residen Untuk Mengakhiri Kekacauan Dilombok Dan Berjanji Akan Tunduk Dibawah peraturan yangdikehendaki oleh residen, demi kepentingan tugas.
5. Peletakan jabatan raja yang sudah tua digantikan oleh penggantinya yang sah.
6. Kesediaan untuk melaksanakan penandatanganan kontrak politik yang baru, sesuai dengan kehendak Gubernur Jenderal.
Pembayaran semua ongkos ekspedisi.Tuntutan-tuntutan tersebut di atas harus dijawab oleh raja dalam waktu 3hari. Pada tanggal 11 Juni 1894 M, raja meminta penundaan jawaban dalam waktu yang tidak terbatas. Permintan iniditolak pihak Belanda, karena pada tanggal 13Juni 1894 M, residen berangkat meninggalkan Lombok dan kembali ke Singaraja dengan tidak membawa hasil apapun. Belanda kemudian mengirimkan pasukan untuk memerangi kerajaan Mataram di Lombok. Dalam bulan agustus 1894 M, Belanda mengirimkan kapal perang-dengan pasukan bersenjata lengkap di bawah pimpinan Jenderal Van Ham, para perwira kebanyakan terdiri dari orang-orang Belanda,sedangkan serdadunya terdiri dari orang Jawa, Ambon dan Manado.

T-TERBUNUHNYA ANAK AGUNG MADE.
Dalam Keadaan siap gempur tersebut, pasukan Belanda diturunkan dari kapal ke pantai sebelah utara Ampenan, di sekitar Pondok Prasi. Sedangkan para pemimpinnya menghadap raja dengan permintaan supaya.pihak kerajaan takluk dan menandatangani surat penyerakan. Melihat kekuatan pihak Belanda yang tidak mungkinterkalahkan, maka raja terpaksa menyetujui untuk berdamai, dengansyarat diantaranya bahwa pihak Belanda masih mengakui kedaulatan kerajaan Mataram atas Pulau Lombok. Kerajaan Mataramdibebankan ganti rugi sebesar 1 juta Gulden, sedangkan penyerahanAnak Agung Made Karang Asem tidak terlaksana karena ketika terjadi pergolakan politik itu ia meninggal dunia.Berita tentang kematian Anak Agung Made sendiri mengandung teka-teki sampai kini. Di masyarakat beredar beberapa spekulasi tentang kejadian yang menyebabkan tewasnya anak rajayang saat itu menjadi incaran Belanda tersebut. Berikut akandiuraikan secara garis besar beberapa versi tersebut:
1. Anak Agung Made telah melakukan Gamia Gamana (melakukanhubungan badan dengan salah satu anggota keluarganya), makamenurut hukum kerajaan mereka harus dihukum mati, meskipun pelakunya anggota keluarga raja.
2. Menurut Belanda dalam buku "Lombok Expeditie" tulisan W.Cool tahun 1896 M, bahwa Anak Agung Made tewas karena terbunuh dengan keris.
3. Anak Agung Made Karangasem, tidak rela diserahkan keBelanda, karena ia adalah seorang kasta ksatria, maka lebih baik mati. la diduga bunuh diri.Dengan demikian terjadilah perdamaian itu, maka kedua belah pihak bersepakat untuk mengadakan upacara peringatan yang juga dihadiri oleh pemuka-pemuka Sasak yang dilangsungkan padatangga126 Agustus 1894 M. Pasukan Belanda yang diturunkan dari kapal membuat perkemahan di sebelah barat Karang Jangkong dansebagian menduduki posisi di tanah lapang di muka Pura Meru yang berhadapan dengan Puri Ukir Kawi di Cakranegara.

U-SEBAB SEBAB KERUNTUHAN MATARAM


1- Mulai tumbuh kesadaran di kalangan orang Sasak akan pentingnya makna persatuan.
2- Sejak terjadi peperangan antara Mataram-Sasak, kerajaan Mataram tidak pemah mendapat bantuan secara tulus dari para pendukungnya.
3- Pada akhir pemerintahan raja tua, A.A. Gde Ngurah Karangasem tidak mampu mengendalikan salah seorang anaknya, A.A. Made,yang terlalu memburu harta. Sedangkan putra mahkota, A.A.Ketut Karangasem, tidak berdaya.
4- A.A. Made dan A.A. Ketut Karangasem merasa malu. Kenyataan bahwa ketika perang di Praya selama tiga bulan melawan tujuh orang saja mereka tidak mampu menang, padahal pihak Matarammenggunakan berbagai persenjataan modem, hal itu menurunkan moral pihak Mataram.
5-Orang-orang Sasak yang membantu Bali tergetar hatinya uanruntuh moralnya ketika mendengar kumandang jihad fisabilillah.Akibatnya banyak orang Sasak yang berbalik haluan danmembangun Sasak bersatu.
6- Orang Sasak keberatan dikirim berperang melawan KlungkungBali.
7- Dalam beberapa peperangan yang mendatangkan malapetaka, pihak Mataram selalu meminta bantuan dari Bali. Di sisi lain, diBali sendiri terjadi perang antar kerajaan.
8- Jasa jasa baik Belanda untuk menawarkan perdamaian ditolak oleh Mataram.