Minggu, 13 Maret 2016

MENELUSURI KETURUNAN ADHITIYAWARMAN DI BALI DAN LOMBOK

                          
                    MENELUSURI KETURUNAN ADITIYAWARMAN DI BALI DAN LOMBOK
                                      ( OLEH: LALU HUSNUL YAQIEN JUNIANSYAH)




Adityawarman/ Arya Damar yang kenal juga nama Sira Arya Teja alias Kiyai Nala nama nama tersebut tertulis pada salah satu babad Arya Damar  dan Babad Arya Kenceng Tabanan Bali . Adityawarman yang bergelar Udayadityawarman Prataparakramarajendra Mauliwarmadewa, adalah seorang panglima Majapahit abad ke-14 yang kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit untuk wilayah Sumatera. Arya Damar menjadi Raja Hulu Batang Hari Jambi, tepatnya di Kerajaan Darmasraya yang merupakan kerajaan kakeknya yaitu Prabu Mauliwarmadewa yang merupakan ayah dari Dara Jingga ibu dari Adityawarman.
Adityawarman adalah pendiri Kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat pada tahun 1347,Aditiyawarman adalah seorang panglima Kerajaan Majapahit yang berdarah Melayu. Ia adalah anak dari Adwaya Brahman seorang kerabat Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari yang memangku jabatan sebagai Menteri Hino yaitu jabatan tertinggi setelah Raja pada masa pemerintahan Kerajaan Singhasari.Adwaya Brahma dikenal juga denga sebutan Sri Jaya Sabha,karena Sri Jaya Sabha adalah ayahnya yaitu Raja Jenggala yang merupakan keturunan dari Raja Erlangga.
Dalam beberapa babad di Jawa dan Bali, Adityawarman juga dikenal dengan nama Arya Damar dan merupakan sepupu sedarah dari pihak ibu dengan raja Majapahit kedua, yaitu Sri Jayanagara atau Raden Kala Gemet karena ibu mereka bersaudara yaitu Dara Petak dan kakaknya bernama Dara Jingga .Dara Petak dinikahi oleh Raden Wijaya dan memiliki putra bernama Kala Gemet atau Sri Jaya Negara,dan Dara Jingga dinikahi oleh Adwaya Brahma melahirkan enam orang putra yaitu
31-Sira Arya Cakradara ( menikah dengan Sri Gitarja/Tri Buana Tunggadewi yaitu putrinya Prabu Sri Jayanegara yang melahirkan Prabu Hayamwuruk ) ,
2-Arya Damar /Aditiyawarman/Sira Arya Teja/Kiyai Nala ( menjadi Raja Damasraya Hulu Batang Hari Sumatera,menggantikan kakeknya,Arya Damar ikut dalam penaklukan wilayah timur jawa ,yaitu Bali,Lombok ,Sumbawa dan Sulawesi pada tahun 1342 M )
3-Sira Arya Kenceng ( diangkat menjadi Raja Tabanan oleh Gajah Mada)
4-Sira Arya Kuntawaringin
5-Sira Arya Belong
6-Sira Arya Pudak
Nama Adityawarman sendiri berasal dari kata bahasa Sansekerta, yang artinya kurang lebih ialah "Yang berperisai matahari" (adhitya: matahari, varman: perisai). Adityawarman dibesarkan di lingkungan istana Majapahit, yang kemudian membuatnya memainkan peranan penting dalam politik dan ekspansi Majapahit. Hal ini antara lain terlihat bahwa setelah dewasa, ia diangkat menjadi Wrddhamantri atau menteri senior, bergelar "Arrya Dewaraja Pu Aditya"..
Asal-usul Adityawarman
Untuk mengetahui siapa sebenarnya Adityawarman, perlu kita tinjau kembali hasil dari ekspedisi Pamalayu oleh Kartanegara pada tahun 1275 dibawah pimpinan Mahesa Anabrang , Setelah ekspedisi itu berhasil, maka sewaktu rombongan ekspedisi kembali ke Jawa, mereka membawa dua orang putri dari Prabu Sri Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa yaitu Dara Jingga dan Dara Petak dari kerajaam Damasraya. Sesampai di Jawa kerajaan Singasari telah runtuh dan telah muncul kerajaan baru sebagai penerus kerajaan Singhasari yaitu kerajaan Majapahit. Raden Wijaya yang bergelar Sri Rajasa Jayawardhana adalah raja Majapahit pada waktu itu sehingga kedua putri tersebut diserahkan kepada Raden Wijaya. Oleh Raden Wijaya, Dara Petak kemudian diambil sebagai selir dengan gelar Indreswari. Dari perkawinan tersebut lahir Jayanegara yang menjadi Raja Majapahit ke dua,
Sedangkan Dara Jingga kemudian menikah dengan Adwaya Brahman seorang kerabat Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari yang memangku jabatan sebagai Menteri Hino yaitu jabatan tertinggi setelah Raja pada masa pemerintahan Kerajaan Singhasari. Dari pernikahan tersebut lahir putra yang bernama Adityawarman . Nama kecil Adityawarman yaitu “Tuhan Janaka“ atau Aji Mantrolot. Dengan demikian Adityawarman merupakan keturunan dari dua darah kaum bangsawan, satu darah bangsawan Sumatera dan satu darah bangsawan Majapahit. Raja Majapahit yang kedua yaitu Jayanegara adalah saudara sepupu dari Adityawarman.
Adityawarman sendiri menggunakan gelar Mauli Warmadewa. Hal ini menunjukkan kalau ia adalah keturunan Srimat Tribhuwanaraja. Maka, dapat disimpulkan kalau Dara Jingga dan juga Dara Petak adalah putri dari raja Dharmasraya tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa keduanya lahir dari permaisuri raja Malayu bernama Putri Reno Mandi.
Adityawarman lahir tepatnya di Siguntur dekat nagari Sijunjung. Setelah dewasa Adityawarman kembali ke Majapahit, tempat dia dididik disekeliling pusat pemerintahan dalam suasana keraton Majapahit. Kesempatan yang didapatkan karena Adityawarnan masih bersaudara sepupu dengan Jayanegara yang merupakan Raja Majapahit pada waktu itu. Mengenai tempat kelahiran Adityawarman dan hubungan kekeluargaannya dengan Kerajaan Majapahit diperkuat oleh Pinoto yang mengatakan, bahwa Adityawarman adalah seorang putera Sumatera yang lahir di daerah aliran Sungai Kampar dan besar kemungkinan dalam tubuhnya mengalir darah Majapahit. Hubungan dengan kerajaan Majapahit bersifat geneologis dan politis.
Adityawarman dididik ilmu perang dan ilmu kertatanegaraan oleh Majapahit sehingga di keraton Majapahit kedudukan Adityawarman sangat tinggi, yaitu berkedudukan sebagai salah seorang menteri atau perdana menteri yang diperolehnya bukan saja karena hubungan darahnya dengan raja Majapahit tetapi juga berkat kecakapannya sendiri. Adityawarman mempunyai kedudukan sebagai Panglima Perang Majapahit yang mendampingi Mahapatih Gajah Mada menaklukan daerah di sebelah timur pulau Jawa.
Tahun 1325 raja Jayanegara mengirim Adityawarman sebagai utusan ke negeri Cina yang berkedudukan sebagai duta. Bersama dengan Patih Gajah Mada, Adityawarman ikut memperluas wilayah kekuasaan Majapahit di Nusantara. Tahun 1331 Adityawarman memadamkan pemberontakan Sadeng dengan suatu perhitungan yang jitu. Tahun 1332 dia dikirim kembali menjadi utusan ke negeri Cina dengan kedudukan sebagai duta.
Setelah Bali,Lombok,Sumbawa,Sulawesi berhasil ditundukkan, Adityawarman akhirnya kembali ke Majapahit dan atas jasa-jasanya oleh Ratu Tribuana Wijaya Tunggadewi pada tahun 1347 Adityawarnan diangkat sebagai wakil (uparaja) Kerajaan Majapahit di Sumatra untuk menanamkan pengaruh Majapahit di Sumatra. Adityawarman memutuskan pergi ke Sumatra karena dengan lahir dan semakin dewasanya Hayam Wuruk tidak ada lagi kesempatan bagi Adityawarman untuk menjujung mahkota kerajaan Majapahit sebagai ahli waris yang terdekat. Pada sisi lain, kedatangan Adityawarman ke Darmasraya selain menemui kakeknya, juga mempunyai tugas khusus yaitu merebut kembali daerah Lada Sungai Kuntu dan Sungai Kampar.
Dahulu sesudah “Pamalayu” menurut ceritanya, daerah kaya ini tunduk pada kekuasaan Singosari. Setelah Kerajaan Singosari runtuh dan Majapahit belum lagi begitu kuat, daerah-daerah Kuntu / Kampar tersebut dapat direbut oleh Kesultanan Aru-Barumun yang telah memeluk agama Islam.
Pada tahun 1347 Adityawarman dinobatkan menjadi Raja Minangkabau bergelar Dang Tuanku (Sutan Rumandung). Pernikahan Adityawarman dengan Puti Bungsu melahirkan anak yang bernama Ananggawarman. Hal ini dapat dibuktikan dengan prasasti yang dipahatkan pada bagian belakan arca Amogapasa dari Padang Candi. Dalam Prasasti itu Adityawarman memakai nama :
“Udayadityawarman Pratakramarajendra Mauliwarmadewa” dan bergelar “Maharaja Diraja”
Adityawarman dididik dan dibesarkan di Majapahit dan pernah menjabat beberapa jabatan penting di kerajaan Majapahit, sehingga paham betul dengan seluk beluk pemerintahan di Majapahit. Dengan demikian corak pemerintahan kerajaan Majapahit sedikit banyaknya berpengaruh pada corak pemerintahan Adityawarman di Pagaruyung. Hal ini dibuktikan pada prasasti yang ditinggalkan Adityawarman terdapat nama Dewa Tuhan Perpatih dan Tumanggung yang oleh Pinoto dibaca Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan.
Istana Pagaruyung
Selama pemerintahannya Adityawarman berusaha membawa kerajaan Pagaruyung ke puncak kejayaannya. Dalam usaha memajukan kerajaan itu Adityawarman mengadakan hubungan dengan luar negeri, yaitu dengan Cina. Tahun 1357, 1375, 1376 Adityawarman mengirim utusan ke negeri Cina. Pemerintahan Adityawarman Pagaruyung yang berlangsung dari tahun 1349 sampai 1376, kerajaan Pagaruyung berada di puncak kejayaannya. Bahkan dapat dikatakan pada waktu itu Indonesia bagian barat dikuasai kerajaan Pagaruyung dan Indonesia bagian Timur berada di bawah pengaruh kekuasaan Majapahit. Kalau dizaman Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang, kerajaan Minangkabau terkenal dengan aturan adat dan filsafahnya, maka dizaman Bundo Kanduang, Adityawarman dan Ananggawarman kerajaan Minangkabau terkenal dengan keahlian Cindur Mato sebagai panglima perangnya.
Adityawarman Penganut Budha Tantrayana
Adityawarman adalah tokoh pen­ting dalam sejarah Minangkabau. Di samping memperkenalkan sistem pe­merintahan dalam bentuk kerajaan, dia juga membawa suatu sumbangan yang besar bagi alam Minangkabau. Kon­tribusinya yang cukup penting itu adalah penyebaran agama Budha. Agama ini pernah punya pengaruh yang cukup kuat di Minangkabau. Ter­bukti dari nama beberapa nagari di Sumatera Barat dewasa ini yang berbau Budaya atau Jawa seperti Saruaso, Pariangan, Padang Barhalo, Candi, Bia­ro, Sumpur, dan Selo.
Adityawarman diperkirakan penganut yang taat dari agama sinkretis Buddha Tantrayana dan Hindu Siwa, sebagaimana yang banyak dianut oleh para bangsawan Singhasari dan Majapahit. Ia diperlambangkan dengan Arca Bhairawa Amoghapasa. Selama masa pemerintahannya di Pagaruyung, Adityawarman banyak mendirikan biaro (bahasa Minang, artinya Vihara) dan Candi sebagai tempat pemujaan Dewa Yang Agung. Sampai sekarang, masih dikenal nama tempat Parhyangan yang kemudian berubah tutur menjadi Pariangan, yaitu di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat
Arca Bhairawa memegang mangkuk dan belati
Arca Bhairawa Museum Nasional di Jakarta ditemukan di kawasan persawahan di tepi sungai di Padang Roco, Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat. Arca Bhairawa dengan tinggi hampir 3 meter ini merupakan jenis arca Tantrayana. Arca Bhairawa tidak dalam kondisi utuh lagi, terutama sandarannya. Arca ini tidak banyak dijumpai di Jawa, karena berasal dari Sumatera. Sebelum ditemukan hanya sebagian saja dari arca ini yang menyeruak dari dalam tanah. Masyarakat setempat tidak menyadari bahwa itu merupakan bagian dari arca sehingga memanfaatkannya sebagai batu asah dan untuk menumbuk padi. Hal ini dapat dilihat pada kaki sebelah kirinya yang halus dan sisi dasar sebelah kiri arca yang berlubang.
Arca Bhairawa tangannya ada yang dua dan ada yang empat. Namun arca di sini hanya memiliki dua tangan. Tangan kiri memegang mangkuk berisi darah manusia dan tangan kanan membawa pisau belati. Jika tangannya ada empat, maka biasanya dua tangan lainnya memegang tasbih dan gendang kecil yang bisa dikaitkan di pinggang, untuk menari di lapangan mayat damaru/ ksetra. Penggambaran Bhairawa membawa pisau konon untuk upacara ritual Matsya atau Mamsa. Membawa mangkuk itu untuk menampung darah untuk upacara minum darah. Sementara tangan yang satu lagi membawa tasbih. Wahana atau kendaraan Syiwa dalam perwujudan sebagai Syiwa Bhairawa adalah serigala karena upacara dilakukan di lapangan mayat dan serigala merupakan hewan pemakan mayat. Walaupun banyak di Sumatera, beberapa ditemukan juga di Jawa Timur dan Bali. Bhairawa merupakan Dewa Siwa dalam salah satu aspek perwujudannya. Bhairawa digambarkan bersifat ganas, memiliki taring, dan sangat besar seperti raksasa. Bhairawa yang berkategori ugra (ganas).
Siwa berdiri di atas mayat bayi korban dan tengkorak
Arca ini berdiri di atas mayat dengan singgasana dari tengkorak kepala. Arca Siwa Bhairawa ini konon merupakan arca perwujudan Raja Adithyawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat pada tahun 1347. Nama Adityawarman sendiri berasal dari kata bahasa Sansekerta, yang artinya kurang lebih ialah “Yang berperisai matahari” (adhitya: matahari, varman: perisai).
Di dekat Istano Basa, Batusangkar, ada sekelompok batu prasasti yang menceritakan tidak saja sejarah Minang, tapi sepenggal sejarah Nusantara secara utuh. Dari buku panduan disebutkan bahwa batu-batu prasasti yang disebut “Prasasti Adityawarman” itu menghubungkan Nusantara secara keseluruhan berkaitan dengan Kerajaan Majapahit.
Bukit Siguntang
Bukit Siguntang dikeramatkan sejak jaman Sriwijaya Kemasyhuran Bukit Siguntang tidak hanya berkutat di Palembang, tetapi menyebar hingga ke seluruh Sumatera, Malaysia, dan Singapura. Kawasan perbukitan di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, Sumatera Selatan, itu menjadi cikal bakal pertumbuhan Kerajaan Melayu. Hingga kini Bukit Siguntang merupakan cikal bakal Kerajaan Malaka. Bukit Siguntang pernah menjadi pusat Kerajaan Palembang yang dipimpin Parameswara, adipati di bawah Kerajaan Majapahit.Sekitar tahun 1511, Parameswara memisahkan diri dari Majapahit dan merantau ke Malaka. Di sana dia sempat bentrok dengan pasukan Portugis yang hendak menjajah Nusantara. Adipati itu menikah dengan putri penguasa Malaka, menjadi raja, dan menurunkan raja-raja Melayu yang berkuasa di Malaysia, Singapura, dan Sumatera. Sekitar tahun 1554 muncul Kerajaan Palembang yang dirintis Ki Gede Ing Suro, seorang pelarian Kerajaan Pajang, Jawa Tengah. Kerajaan ini juga mengeramatkan Bukit Siguntang dengan mengubur jenazah Panglima Bagus Sekuning dan Panglima Bagus Karang.
Situs Bukit Siguntang di Kelurahan Bukit Lama, Ilir Barat I, Palembang, tidak dilengkapi teks yang menjelaskan sejarah kompleks itu. Kondisi itu membuat sejarah keberadaan bukit yang dikenal pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Palembang itu kabur dan pengunjung kebingungan. Situs Bukit Siguntang merupakan kawasan perbukitan yang memiliki tujuh makam tokoh yang terkenal dalam cerita tutur rakyat. Ketujuh makam itu adalah Makam Raja Sigentar Alam, Panglima Tuan Djundjungan, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Pangeran Raja Batu Api, Panglima Bagus Sekuning, dan makam Panglima Bagus Karang. Makam-makam itu berbentuk bangunan makam dari tembok atau batu yang berada dalam rumah. Pada makam itu hanya diberi keterangan nama tokoh yang terkubur, tanpa satu teks yang menjelaskan siapa tokoh itu, riwayat hidupnya, dan perannya dalam sejarah Palembang. Sebagian besar pengunjung yang mendatangi situs kebingungan. Apalagi, beberapa juru kunci menceritakan versi sejarah yang berbeda-beda.
Kedua tokoh itu berjasa memimpin pasukan kerajaan saat menundukkan pasukan Kasultanan Banten yang menyerang Palembang. Sultan Banten, Sultan Hasanuddin, tewas dalam pertempuran sengit itu. Tetapi, ada juga versi sejarah yang menyebutkan, makam Bagus Sekuning yang sebenarnya justru ada di kawasan Bagus Kuning, di Plaju, Palembang. Jauh sebelum itu, Bukit Siguntang menjadi pusat keagamaan pada masa Kerajaan Sriwijaya yang berkembang sampai abad ke-14. Sejumlah peninggalan dari kerajaan yang didirikan Dapunta Hyang Srijayanasa itu ditemukan di sini. Ada kemudi kapal Sriwijaya yang ditemukan di kaki bukit, ada arca Buhda Amarawati, dan prasasti Bukit Siguntang yang menjadi bukti penting keberadaan Sriwijaya. "Jadi, Bukit Siguntang itu memang kawasan yang dikeramatkan sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, pemerintahan perwakilan Majapahit, dan Kerajaan Palembang. Sampai sekarang pun bukit itu masih dikeramatkan dengan diziarahi banyak pengunjung,"
Sosok Adityawarman dari penerawangan beberapa sumber yang telah didatangi beliau dalam mimpinya, menyatakan bahwa Adityawarman berperawakan tinggi besar, berpakain serba hitam dan rambut panjang serta dikiri kanannya terselip pedang dengan ukuran panjang dan pendek. Dalam kaitannya dengan Adityawarman , Bukit siguntang diyakini sebagai tempat disimpannya salah satu senjata andalan beliau yaitu pecut yang selalu dibawa dalam setiap pertempuran yang dilaluinya. Pada hari hari tertentu paranormal banyak berdatangan ke daerah tersebut untuk memohon berkah dan berkeinginan memiliki senjata tersebut, namun untuk memilikinya bukan hal yang mudah karena dibutuhkan syarat syarat tertentu dan orang tersebut harus keturunan langsung dari Adityawarman. Adapun senjata pecut tersebut secara kasat mata tidak kelihatan namun bagi orang orang tertentu yang memiliki tingkat ilmu kebatinan yang tinggi pecut tersebut berwarna keemasan dan melingkar ditopang oleh dua buah penyangga. Pecut tersebut terakhir kali di pegang oleh Kyai Jambe Pule yang menjadi raja di Kerajaan Badung dan setelah beliau wafat pecut tersebut kembali lagi keasalnya yaitu Bukit Siguntang.
Penaklukan Bali.dan Lombok
Nama Arya Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan di Palembang yang membantu Majapahit menaklukkan Bali dan Lombok pada tahun 1343. Dikisahkan, Arya Damar memimpin 15.000 prajurit menyerang Bali dari arah utara, sedangkan Gajah Mada menyerang dari selatan dengan jumlah prajurit yang sama. Di dalam beberapa babad di Jawa dan Bali, Adityawarman juga dikenal dengan nama Arya Damar. Adityawarman turut serta dalam ekspansi Majapahit ke Bali pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada. Dalam catatan Babad Arya Tabanan, disebutkan bahwa Gajah Mada dibantu seorang Ksatria bernama Arya Damar, yang merupakan nama alias Adityawarman.

Dalam babad Arya Kenceng Tabanan Bali disebutkan Dara Jingga dan adiknya “Dara Petak” (Putih), keadatangan Putri ini pada zaman Kerajaan Singhasari yaitu pada masa pemerintahan Sri Kerthanegara/Bathara Siwa tahun isaka 1190-1214 atau tahun (1268-1292 Masehi).Putri Dara Petak bergelar “Maheswari” diperistri oleh Sri Jayabaya atau Prabu Brawijaya I/Bhre Wijaya/Raden Wijaya, Raja Madjapahit pertama yang juga bergelar “Sri Kertha Rajasa Jaya Wisnu Wardana” pada tahun isaka 1216-1231 atau tahun (1294-1309 Masehi) yang selanjutnya menurunkan Prethi Santana/keturunan bernama “Kala Gemet” yang menjadi Raja Madjapahit kedua pada tahun 1309-1328 M, yang bergelar “Jaya Negara”. Sedangkan Putri Dara Jingga yang bergelar Indreswari atau Sri Tinuhanengpura (yang dituakan di Pura Singosari dan Madjapahit) diperistri oleh Sri Jayasabha yang bergelar Sri Wilatikta Brahmaraja I atau Hyang Wisesa. Sri Jayasabha adalah pembesar Singosari dengan pangkat “Maha Menteri”. Putri Dara Jingga dalam lontar dikenal, yang berbunyi: Dara Jingga arabi Dewa Sang Bathara Adwaya Brahma yang selanjutnya menurunkan putra sebanyak enam orang laki-laki yaitu: Sri Cakradara, Arya Dhamar (yang disebut juga dengan Arya Teja alias Kiyai Nala atau Adityawarman), Arya Kenceng, Arya Kuthawaringin, Arya Sentong dan Arya Pudak yang kemudian menjadi Penguasa/Raja Di Bali
Nama Arya Damar dikenal pada salah satu babad Arya Damar dari sekian versi babad tentang Arya Damar menyebutkan Arya Damar mempunyai nama lain yaitu Aditiyawarman,dan dalam babad Arya Kenceng di Tabanan Bali Arya Damar dikenal juga dengan nama Sira Arya Teja dan dikenal pula dengan nama Kiyai Nala. Dengan adanya nama Kiyai Nala yang mengadakan ekspedisi ke Lombok tahun 1343 M ,maka yang sebenarnya datang ke Lombok tersebut ialah Aditiyawarman sendiri yang bergelar Kiyai Nala,Di dalam babad Lombok disebutkan Kiyai Nala menjadikan tiga orang putera yang dijadikan sebagai Raja Klungkung Bali.Raja Lombok dan Raja Gowa.
Dari sumber babad Erlangga,dikatakan bahwa Sri Krisna Kepakisan itu merupakan cucu buyut dari dari Sri Jaya Sabha raja Jenggala yang dilantik oleh Gajah Mada menjadi Raja Klungkung Bali pada tahun 1352 M.Dari sumber babad Lombok disebutkan Raja Klungkung Bali bersaudara dengan Raja Lombok dan Raja Gowa.Babad Lombok menyatakan bahwa Kiyai Nala dalam ekspedisinya ke Lombok tahun 1343 M menurukan tiga tokoh yang bersaudara tiga orang yang nantinya dilantik menjadi raja Klungkung Bali,Lombok dan Gowa oleh Gajah Mada tahun 1352 M yaitu.
1-Bethara Indra Sakti dilantik menjadi Raja Klungkung Bali ( dikenal dengan nama Sri Aji Krisna Kepakisan di Bali )
2-Bethara Tunggul Nala dilantik menjadi Raja di Labuhan Kayangan Lombok
3-Bethara Kertha Jala dilantik menjadi Raja Gowa Sulawesi.
Dengan melihat sumber dari babad Arya Damar,Babad Erlangga,Babad Lombok dapat kita tariK benang merah bahwa yang menjadi Raja Klungkung Bali,Lombok dan Gowa adalah keturunan Aditiyawarman,yang merupan cucu buyut dari raja Jenggala Sri Jaya Sabha yang merupakan garis keturunan darah Raja Erlangga yang dikenal sebagai darah Raja Kesari .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar