Jumat, 11 Maret 2016

KEDATUAN LOMBOK MIRAH SASAK ADI

                                       KEDATUAN LOMBOK MIRAH SASAK ADI
                                         (Oleh: Lalu Husnul Yaqien Juniansyah)





Pada abad ke-4 M di Kutai (Tenggarong), Kalimantan Timur berdiri sebuah kerajaan Hindu dengan Rajanya bernama Kudungga. Menurut beberapa ahli sejarah, Kudungga adalah penduduk asli, kepala suku Kutai. Ia mengawini seorang putri dari Campa (Muangthai) keturunan Raja Bhadawarman. Karena cintanya yang kuat, Kudungga mengikuti agama istrinya, dan ketika anak lelakinya lahir dinamai Aswawarman, mengambil nama marga “Warman” dari leluhur mertuanya di Campa.
Selanjutnya Aswawarman berputra tiga lelaki yakni: Mulawarman beristana tetap di Kutai (Tenggarong), sedangkan kedua adiknya yakni Purnawarman mendirikan Kerajaan Tarumanegara di Jawa-Barat (dekat Bogor) dan Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan (dekat Palembang). Pada abad ke-10 salah seorang keturunan Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa datang ke Bali, dan mengalahkan raja yang berkuasa saat itu: Sri Ratu Ugrasena yang dikenal dalam mitologi sebagai Mayadenawa.

Sri Kesari Warmadewa kemudian menobatkan diri sebagai Raja dengan gelar: Sri Wira Dalem Kesari. Selama kurun waktu hampir 100 tahun, dinasti Warmadewa memegang tampuk pimpinan, walaupun dibeberapa periode pernah direbut oleh Raja-Raja dari dinasti lain.Darma Udayana Warmadewa adalah keturunan Sri Kesari Warmadewa. Ia memerintah bersama-sama istrinya: Gunapria Darmapatni atau juga bernama Mahendradata, yakni putri Mpu Sindok, Raja Mataram (Jawa Tengah). Dari perkawinan ini mereka mempunyai dua anak lelaki yakni Erlangga dan Anak Wungsu. Anak Wungsu tetap di Bali menggantikan kedududkan ayahnya, sedangkan Erlangga pergi ke Jawa Timur dan pada tahun 1016 menikahi putri Darmawangsa (Raja Medangkemulan di Pasuruan). Pada tahun 1019 Erlangga menjadi Raja menggantikan mertuanya dengan gelar: Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Teguh Wikramottunggadewa.Adik Airlangga bernama Anak Wungsu kemudian menjadi raja di Bali menggantikan ayahnya. Karena Anak Wungsu tidak ada kaitan dengan keturunan arya di bali, maka di sini tidak diuraikan lebih lanjut.

Airlangga mempunyai putra mahkota dua orang; oleh karena itu kerajaan Kahuripan dipecah dua,

A-Kerajaan Kediri dipimpin Sri Jaya Baya/Sri Samarawijaya beribu kota di Daha dan memiliki putera bernama

1-Sri Dangdang Gendis
2-Sri Jaya Katowang ( yang memberontak kepada Singosari di zaman Prabu Kertanegara).
3-Sri Jayakatha

B- Kerajaan Jenggala dipimpin Sri Jaya Sabha/Mapanji Garasakan beribu kota di Kahuripan Sidoarjo.-memiliki putera bernama Adwaya Brahma yang menjadi seorang Mahamenteri pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara di Singosari yang menikah dengan Dara Jingga,

Pada prasasti Padangroco tertulis bahwa, arca Amoghapasa dikawal dari Jawa oleh 14 orang, termasuk Adwayabrahma yang ditulis paling awal. Adwayabrahma sendiri menjabat sebagai Rakryan Mahamantri pada pemerintahan Prabu Kertanagara. Pada zaman itu, jabatan ini merupakan jabatan tingkat tinggi atau gelar kehormatan yang hanya boleh disandang oleh kerabat raja.karena Adwayabrahman adalah merupakan kerabat raja Singosari yang berasal dari Kerajaan Kesari yang bergelar Sri Jayasabha adalah adik dari Prabu Jayabaya Raja Kediri,istilah “Dewa” dalam Pararaton adalah jabatan Rakryan Mahamantri pada sebuah Kerajaan.Dara Jingga adalah putri dari Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa, raja Kerajaan Dharmasraya dan juga merupakan kakak kandung dari Dara Petak. Dara Jingga memiliki sebutan Sira Alaki Dewa, dia yang dinikahi orang yang bergelar Dewa,oleh sebab itu maka Dara Jingga dinikahi oleh Adwaya Brahman yang disebut juga dengan nama Sri Jayasabha.Adwaya Brahman adalah pembesar Shingoshari dan pada zaman Kerajaan Majapahit juga berpangkat “Maha Menteri”.memperistri Putri Dara Jingga yang dalam lontar Arya Damar disebutkan : "Dara Jingga arabi Dewa Sang Bathara Adwaya Brahma yang selanjutnya menurunkan putra sebanyak enam orang laki-laki yaitu:

1-Sri Cakradara,( suami Tribuana Tunggadewi )
2-Arya Dhamar (yang disebut juga dengan Arya Teja alias Kiayi Nala yang melakukan exspedisi ke Lombok tahun 1343 M),
3-Arya Kenceng ( yang menurunkan raja Tabanan Bali },
4-Arya Kuthawaringin,
5-Arya Sentong
6--Arya Pudak


Dalam babad Arya Kenceng Tabanan disebutkan,Dara Jingga” dan adiknya “Dara Petak” (Putih), keadatangan Putri ini pada zaman Kerajaan Singhasari yaitu pada masa pemerintahan Sri Kerthanegara/Bathara Siwa tahun isaka 1190-1214 atau tahun (1268-1292 Masehi).

Putri Dara Petak bergelar “Maheswari” diperistri oleh Sri Jayabaya atau Prabu Brawijaya I/Bhre Wijaya/Raden Wijaya, Raja Madjapahit pertama yang juga bergelar “Sri Kertha Rajasa Jaya Wisnu Wardana” pada tahun isaka 1216-1231 atau tahun (1294-1309 Masehi) yang selanjutnya menurunkan Prethi Santana/keturunan bernama “Kala Gemet” yang menjadi Raja Madjapahit kedua pada tahun 1309-1328 M, yang bergelar “Jaya Negara”. Sedangkan Putri Dara Jingga yang bergelar Indreswari atau Sri Tinuhanengpura (yang dituakan di Pura Singosari dan Madjapahit) diperistri oleh Sri Jayasabha yang bergelar Sri Wilatikta Brahmaraja I atau Hyang Wisesa. Sri Jayasabha adalah pembesar Singosari dengan pangkat “Maha Menteri”. Putri Dara Jingga dalam lontar dikenal, yang berbunyi: Dara Jingga arabi Dewa Sang Bathara Adwaya Brahma yang selanjutnya menurunkan putra sebanyak enam orang laki-laki yaitu: Sri Cakradara, Arya Dhamar (yang disebut juga dengan Arya Teja alias Kiyai Nala atau Adityawarman), Arya Kenceng, Arya Kuthawaringin, Arya Sentong dan Arya Pudak yang kemudian menjadi Penguasa/Raja Di Bali



Bersama dengan keempat belas pengiringnya dan saptaratna, dibawa dari Bhumi Jawa ke Swarnnabhumi" dan bahwa "Rakyan Mahamantri Dyah Adwayabrahma" adalah salah seorang pengawal arca tersebut. Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Petak kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Prabu Kertanagara yaitu raja yang mengutusnya.Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Prabu Kertanagara telah tewas dan Kerajaan Singhasari telah musnah oleh Jayakatwang, Raja Kadiri. Jayakatwang itu sendiri telah tewas dibunuh pasukan Mongol yang akhirnya diserang oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit yang merupakan lanjutan dari Kerajaan Singhasari.Oleh karena itu, Dara Petak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanagara,yaitu yang menjadi raja Majapahit ke Dua.

Setelah itu Airlangga mengundurkan diri menjadi pendeta dengan bhiseka Rsi Jatayu.Dengan seorang gadis pegunungan Airlangga mempunyai putra bernama Sira Arya Buru (Arya Timbul). Arya Buru hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Nyi Gunaraksa, dikawini oleh Ki Pasek Tutuan, dengan syarat Ki Pasek Tutuan seketurunan menyembah roh Arya Buru.

Keturunan Erlangga yang datang ke Bali dan Lombok adalah: Sire Arya Buru, Sire Aryeng Kepakisan juga disebut Arya Kepakisan atau Nararya Kepakisan dan di Lombok dikenal dengan nama Bathara Indra Sakti( yang dilantik menjadi Raja Klungkung Bali oleh Gajah Mada tahun 1352 M), Sira Arya Kutawaringin, Sira Arya Gajahpara, Sira Arya Getas( salah satu keturunannya bernama Arya Sudarsana/Banjar Getas di Lombok ),sira Kebo Anabrang,Sira Arya Tunggul Nala ( yang dilantik oleh Gajahmada menjadi Raja Lombok tahun 1352 M ) ,Sira Arya Kertha Jala ( dilantik menjadi Raja Gowa ) Sira Arya Teja,dll

Sri Jaya Sabha Raja Jenggala memiliki tiga orang cucu yang dilantik menjadi Raja di Klungkung Bali,Lombok dan Gowa yaitu

1-Sira Aryeng Kepakisan dilantik oleh Gajahmada menjadi patih agung di Puri Samprangan, sebagai tangan kanan raja Bali pertama yang diangkat oleh Majapahit pada tahun 1352 M yaitu Sri Aji Kresna Kepakisan yang dikenal dalam babad lombok dengan nama Bethare Indra Sakti .

2-Bethara Tunggul Nala yang dilantik oleh Gajahmada pada tahun 1352 M ketika Gajah Mada mengadakan inspeksi langsung ke Lombok menjadi Raja Lombok di Pelabuhan Kayangan Lombok .

3-Bethara Kertha Jala dilantik menjadi Raja Gowa ..


Nama Arya Damar dikenal pada salah satu babad Arya Damar dari sekian versi babad tentang Arya Damar menyebutkan Arya Damar mempunyai nama lain yaitu Aditiyawarman,dan dalam babad Arya Kenceng di Tabanan Bali Arya Damar dikenal juga dengan nama Sira Arya Teja dan dikenal pula dengan nama Kiyai Nala. Dengan adanya nama Kiyai Nala yang mengadakan ekspedisi ke Lombok tahun 1343 M ,maka yang sebenarnya datang ke Lombok tersebut ialah Aditiyawarman sendiri yang bergelar Kiyai Nala,Di dalam babad Lombok disebutkan Kiyai Nala menjadikan tiga orang putera yang dijadikan sebagai Raja Klungkung Bali.Raja Lombok dan Raja Gowa.
Dari sumber babad Erlangga,dikatakan bahwa Sri Krisna Kepakisan itu merupakan cucu buyut dari dari Sri Jaya Sabha raja Jenggala yang dilantik oleh Gajah Mada menjadi Raja Klungkung Bali pada tahun 1352 M.Dari sumber babad Lombok disebutkan Raja Klungkung Bali bersaudara dengan Raja Lombok dan Raja Gowa.Babad Lombok menyatakan bahwa Kiyai Nala dalam ekspedisinya ke Lombok tahun 1343 M menurukan tiga tokoh yang bersaudara tiga orang yang nantinya dilantik menjadi raja Klungkung Bali,Lombok dan Gowa oleh Gajah Mada tahun 1352 M.



Pada tahun 1343 Kiyai Nala atau Sira Arya Teja atau di Bali lebih dikenal dengan Arya Dhamar/Adityawarman yang diberikan tugas untuk menaklukkan Nusantara bagian timur pulau Jawa , mengadakan ekspedisi ke Lombok dan menurunkan tokoh yang disebut Datu Besanakan Telu / Tiga Bersaudara yaitu :

(1)- Betara Mas Kerta Jala dilantik menjadi Raja Gowa
(2)- Betara Mas Indra Sakti/Sri   Aji Krisna Kepakisan dilantik menjadi Raja Klungkung Bali,
(3) -Betara Mas Tunggul Nala dilantik menjadi Raja di Lombok.
.
Betara Mas Tunggul Nala menurunkan datu-datu Lombok seperti Bayan,
Selaparang Pejanggik.Langko,Sokong,Mambalan.

Betara Mas Tunggul Nala mempunyai dua orang putra yaitu

1.- Deneq Mas Muncul yang menurunkan datu-datu Bayan.Sokong dan Mambalan.
2.- Deneq Mas Putra Pengendengan Segara Katon mendirikan Kedatuan
Kayangan (Labuan Lombok) menurunkan datu-datu Selaparang dan Pejanggik yaitu

(a) Sri Dadelanatha,menjadi Datu Langko
(b) Deneq Mas Komala Dewa Sempopo menjadi Datu Pejanggik
(c) Deneq Mas Komala Jagat menjadi Datu Selaparang


A-KEDATUAN BAYAN


Pada tahun 1352 M, Gajah Mada datang ke Lombok untuk melihat sendiri perkembangan daerah taklukannya. Ekspedisi Majapahit ini meninggalkan jejak Kerajaan Gelgel di Klungkung di Bali dan di Lombok, pada waktu itu berdiri empat kerajaan utama yang saling bersaudara, yaitu:

1. Kedatuan Bayan di barat
2. Kedatuan Selaparang di Timur
3. Kedatuan Langko di tengah
4. Kedatuan Pejanggik di selatan.

Selain keempat kerajaan tersebut, terdapat beberapa kerajaan kecil, seperti Parwa/Purwadadi ,Sokong Samarkaton ,Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan, dan Kentawang. Seluruh kedatuan ini takluk di bawah Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, kedatuan kedatuan ini kemudian menjadi wilayah yang merdeka.

Bayan merupakan kecamatan yang terletak di Kabupaten Lombok Utara yang masyarakatnya masih tetap memegang teguh tradisi ,adat ,budayanya sebagai warisan dari leluhurnya,terbukti hingga sampai saat ini komunitas yang tinggal di Bayan masih tetap memegang dan mempraktekkan kegiatan tradisi,adat-istiadat dan nilai-nilai budayanya tetap dijunjung tinggi oleh masyarakatnya, termasuk hukum adat yang mengatur dan mengikat secara keseluruhan komunitas adat Bayan. Hukum adat juga mengatur hubungan antar masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan alam lingkungannya, dan masyarakat dengan Tuhannya.yang merupakan tiga pondasi pokok keseimbangan dan keselarasan jasmani dan rohani.

Ditinjau dari sistem kekuasaan,pengemban utama dalam pelaksanaan adat-istiadat yang ada di Komonitas Bayan Kabupaten Lombok Utara,yatu dapat dilihat dari pelaksanaan gundem (musywarah adat), seperti pengangkatan Mak Lokak Perumbak Daya yang memiliki tugas dan fungsi menjaga hutan adat, selalu diawali dengan komunikasi para pemangku adat, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan para pejabat adat (tetua adat) lainnya yang berasal dari Desa Bayan, Desa Karang Bajo dan Desa Loloan, serta diiukti oleh para prusa atau tokoh adat lainnya.
Babad Bayan menyebutkan, bahwa Bayan pernah dipimpin oleh seorang raja “Datu Bayan”. Datu Bayan ini bergelar Susuhunan Ratu Mas Bayan Agung, yang dalam silsilahnya datu tersebut bersaudara 18 orang dari hasil perkawinannya dengan beberapa permaisuri dan selir. Saudara Datu Bayan ini menyebar ke seluruh Pulau Lombok. Sejarah juga mencatat, dari hasil perkawinan pertama Datu Bayan, dia memperoleh dua orang putra yang bergelar Pangeran Mas Mutering Langit dan Pangeran Mas Metering Jadad.

Dan kedua pangeran inilah yang melanjutkan kepemimpinan kejarajaan Bayan.

1-Datu Pangeran Mas Mutering Langit sebagai saudara tertua berkedudukan di Bayan Timur dengan tugas menjalankan adat gama, yaitu sebuah lembaga adat yang mengatur hubungan vertikal dengan sang pencipta Allah SWT. Sementara
2-Datu Pangeran Mas Mutering Jagad berkedudukan di Bayan Barat, yang bertugas menjalankan adat Luir Gama yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, lingkungan dan adat-istiadat lainnya.

Kedua Datu Bayan tersebut dalam menjalnkan tugasnya dibantu oleh keluarga kerajaan, antara lain:

1-Titi Mas Rempung yang tinggal di Desa Loloan,
2-Titi Mas Puncan Surya yang tinggal di Desa Karang Bajo,
3-Titi Mas Pakel yang tinggal di Karang Salah.
4-Sedangkan dalam menjalankan tugas dibidang keagamaan dibantu oleh Titi Mas Pengulu, Mudim, Ketip dan Lebe Antassalam.

Kata “Bayan” berasal dari bahasa Arab yang berarti penerangan atau penjelasan. Nama ini dikenal setelah Islam masuk ke Bayan sekitar abad ke 16, yang dibawa oleh para ulama dan pedagang yang singgah di Pelabuhan Carik. Labuhan Carik sendiri kala itu adalah pelabuhan yang cukup strategis, karena tempat persinggahan para pedagang yang datang dari pulau Jawa, Sulawesi dan pulau Sumbawa. Dan pelabuhan itu sendiri sebagai bagian wilayah yang dikelola Kerjaan Bayan. Dan untuk menjaga Pelabuhan Carik diangkatlah Mak Lokak Sahbandar yang diberi tugas khusus mengelola Pelabuhan Carik.

Kerajaan Bayan terbentang sepanjang pantai utara Pulau Lombok dengan batas kerajaan Bayan saat itu adalah sebelah timur: Tal Baluk (berbatasan dengan Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur-sekarang), sebelah barat berbatasan dengan Menanga Reduh yang berada di Desa Melaka Kecamatan Pemenang, sementara sebelah utara: laut lepas dan sebelah selatan Gunung Rinjani

B-KEDATUAN SELAPARANG

Kerajaan Majapahit melalui exspedisi di bawah Mpu Nala pada tahun 1343, sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa Maha Patih Gajah Mada yang kemudian diteruskan dengan inspeksi Gajah Mada sendiri pada tahun 1352.Ditandai dengan berdirinya Kerajaan Lombok Di Kayangan Labuan Lombok,dan selanjutnya berdiri Kerajaan Selaparang,Bayan dan Pejanggik. Selaparang Pejanggik dan Bayan sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen. Dengan Modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi, atau menyalin manusia Jawa kuno ke dalam lontar-lontar Sasak. Lontar-lontar dimaksud, antara lain Kotamgama, lapel Adam, Menak Berji, Rengganis, dan lain-lain. Bahkan para pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim, dan sebagainya.

Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, kerajaan-kerajaan kecil di pulau Lombok seperti kerajaan Selaparang, Langko, Pejanggik, Sokong dan Bayan dan beberapa desa kecil seperti Pujut,Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan, Kentawang merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang merdeka. Dalam babad Lombok disebutkan batas-batas wilayah kekuasaan Selaparang meliputi:sebelah utara berbatasan dengan Sokong dan Bayan, sebelah selatan berbatasan dengan Kokok Belimbing, sebelah barat berbatasandengan Tegal Sampopo ke arah utara sampai Denek Mingkar (sebelah barat daerah ini ditemukan Sari Kuning) sedangkan batas timur tidak disebutkan. Dengan demikian wilayah Selaparang pada waktu itu meliputi sebagian besar Lombok Timur. Disebutkan pula bahwa Lombok dan Sumbawa berada di bawah kekuasaan seorang raja di Lombok.

Kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Sokong, Bayan,Langko, Kedaro, Parwa, Sarwadadi, dan Pejanggik mengakui Selaparang sebagai induk atau kakaknya. Hubungan di antara mereka penuh dengan persaudaraan, hidup rukun dan damai, tak ada gesekansehingga mereka tidak membutuhkan tentara reguler yang dipersenjatai. Apabila situasi membutuhkan pertahanan, maka rakyatsiap bangkit membela negara. Pejabat yang mengurusi masalah pertahanan dan keamanan disebut Dipati. Dengan demikian, persekutuan hukum masyarakat yang tertinggi di Lombok telah adasejak tahun 1543M.Sebagai kerajaan yang kuat, Selaparang juga melakukan hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di luar pulau Lombok seperti dengan beberapa kerajaan di Kalimantan. Dalam Hikayat Banjarmasin disebutkan bahwa seorang bangsawan Banjar bernama Raden Subangsa pergi ke Selaparang mengawini seorang putri raja.Dari perkawinan tersebut lahir Raden Mataram. Setelah istrinya meninggal, Raden Subangsa kawin lagi dengan Putri Selaparang di Sumbawa dan melahirkan Raden Banten.Selanjutnya tahun 1618M kerajaan Goa menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumbawa Barat yang kemudian dipersatukandengan kerajaan Selaparang. Sejak keberhasilan Gowa merebut Lombok dari Bali pada tahun 1640 M, maka proses Islamisasi pun berjalan semakin mantap. Dalam usaha mengembangkan pengaruhnya di Lombok, masing-masing kerajaan meningkatkanhubungan melalui perkawinan antara kedua belah pihak (kerajaanSelaparang dan kerajaan Gowa). Hal ini dapat diketahui dari nama-nama gelar seperti Pemban Selaparang, Pemban Pejanggik, Pemban Parwa. Sedangkan kerajaan kecil lainnya yang bersifat otonom,rajanya disebut Datu seperti Datu Bayan, Langko, Sokong, Kuripan,Pujut dan lain-lainnya.

Setelah masuknya agama Islam, kerajaan Selaparang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Hal ini rupanya menjadihambatan bagi ekspansi sosial-ekonomi kerajaan Gelgel di Bali.
Pada tahun 1520 M, Gelgel mencoba melakukan penyerangan tetapi tidak berhasil. KeberhasilanSelaparang menghambat laju masuknya kerajaan Gelgel salahsatunya juga karena mendapatkan perlindungan dari kerajaan Gowadi Makassar.Ditandatanganinya Perjanjian Bongaya di Klungkung Balitahun 1667 M menyebabkan pulau Lombok dan Sumbawadinyatakan lepas dari pengaruh Goa dan Tallo. Makakerajaan¬kerajaan di Bali pun kembali mencurahkan perhatiannya ke pulau Lombok dengan mengirim ekspedisi tahun 1667 M dan 1668 M. Tetapi kedua invasi tersebut dapat dipukul mundur olehSelaparang dengan bantuan dari prajurit Sumbawa.Kekalahan yang dialami oleh Gelgel tidak membuatnya berputus asa. Pada tahun 1690 M, Gelgel membuat pangkalan militer di Pagutan dan Pagesangan yang dikoordinasi oleh kerajaan Karangasem. Strateginya yaitu dengan mengirimkan utusan berupa pasukan pendahulu yang beragama Islam yang dipimpin oleh Patih Arya Sudarsana (beragama Islam). Patih Arya Sudarsana berhasil menyusup ke Selaparang sehingga terjadi konflik antar kedua-belah pihak. Dalam peperangan tersebut, pasukan Arya Sudarsana berhasil didesak sampai Suradadi, tepatnya di daerah Reban Talat, tetapi Arya Sudarsana tidak berhasil ditangkap. Dalam peperangan inipun kerajaan Selaparang mendapatkan bantuan dari kerajaan Sumbawa dibawah pimpinan Amasa Samawa (1723-1725 M). Sebagian Bekas prajurit Sumbawa itu kemudian menetap di Lombok dan menjadicikal-bakal atau nenek moyang dari penduduk desa Rempung,Jantuk, Siren Rumbuk, Kembang Kerang Daya, Koang Berora,Moyot dan yang lainnya. Para penduduk tersebut sebagian besar berbahasa Taliwang hingga saat ini.

Kekalahan Gowa oleh Belanda memaksa Gowa menandatangani "Perjanjian Bongaya" pada tanggal 18 November 1667 M. Sejurus kemudian VOC mengusir kekuasaan Goa dariLombok dan Sumbawa. Pada tahun 1673M Belanda memindahkan pusat kerajaan dari pulau Lombok ke Sumbawa untuk memusatkankekuatan. Hal ini diketahui dari berita-berita tahun 1673M dan 1680M tentang pertanggungjawaban raja Sumbawa atas daerah Lombok.Kemudian pada tahun 1674 M, Sumbawa mendandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya bahwa Sumbawa harusmelepaskan Selaparang.Setelah Selaparang lepas dari kekuasaan Sumbawa, makaVOC menempatkan regent dan pengawas. KetidaksetujuanSelaparang terhadap VOC yang menempatkan regent dan pengawasini telah menyebabkan terjadinya pemberontakan Selaparang padatanggal 16 Maret 1675 M. Untuk memadamkan pemberontakantersebut, VOC di bawah Kapten Holsteiner menangkapi para pemimpin Selaparang. Mereka masing-masing adalah: Raden Abdi Wirasentana, Raden Kawisangir Koesing, dan Arya Boesing. Merekadihukum denda dengan membayar 5.000 sampai 15.000 batang kayusepang dalam jangka waktu 3tahun.Sejak kedatangan VOC ke Lombok hingga tahun 1691 M,akhirnya kerajaan Selaparang mengalami kemunduran. KarangasemBali bersama Arya Banjar Getas berperang melawan raja-raja diLombok. Pada tahun 1740 M terjadi peperangan di Tanaq Beaq yang dimenangkan oleh pihak Karangasem. Sejak saat itu maka tamatlah riwayat kerajaan Selaparang.


C-KEDATUAN PEJANGGIK


Selain kerajaan Selaparang yang memiliki jangkauan kekuasaan relatif luas di Gumi Sasak, terdapat pula kerajaanPejanggik. Di sisi lain, berdirinya kerajaan Pejanggik lebih disebabkan karena kerajaan Selaparang yang dianggap mampu mengayominya ternyata tidak mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan wilayah sekitar. Maka kerajaan Pejanggikpun melepaskan diri dari Selaparang.Berbeda dengan Selaparang yang merupakan daerah pesisir,maka Pejanggik merupakan kerajaan yang berada di wilayah pedalaman. Kerajaan Pejanggik yang terletak di daerah pedalaman memang cenderung statis, akan tetapi kondisinya lebih tenang dan penuh dengan kewibawaan. Daerah kekuasaan Pejanggik meliputi pantai barat sampai pantai timur pulau Lombok, dari Belongas hingga Tanjung Ringgit.



Dalam ekspedisinya ke Lombok Kiyayi Nala yang sudah berusia 49 tahun saat itu,menjadikan puteranya yang bernama Bethara Mas Tunggul Nala menjadi Raja di Pelabuhan Kayangan Lombok,dan pada tahun 1352 M ketika Mahapatih Gajah Mada mengadakan inspeksi ke Lombok melatik Bethara Mas Tunggul Nala yang saat itu berusia 35 tahun menjadi Raja Lombok,dan puteranya Bethara Mas Tunggul Nala yang bernama Deneq Mas Muncul yang baru berusia 18 tahun dilantik menjadi Raja Bayan,dan adiknya Deneq Mas Muncul yang bernama Deneq Mas Pengendengan Segara Katon yang masih kecil pada waktu itu yaitu masih berumur 3 tahun tinggal bersama bapaknya di Labuhan Kayangan Lombok .Selama 40 tahun Bethara Mas Tunggul Nala memerintah 1352-1394 M,dan digantikan oleh Puteranya Deneq Mas Pengendengan Segara Katon yang pada waktu itu berusia 43 tahun,( 1394 -1417 M ),disebut Deneq Mas Pengendengan Segara Katon,karena setelah lahirnya Deneq Mas Muncul pada tahun 1334 M sampai tahun tahun 1349 M Deneq Mas Muncul belum juga memilki adik,maka Bethara Tunggul Nala mengadakan persembahan untuk meminta berkah dari Tuhan Yang Maha Esa dengan mengadakan upacara di pantai untuk memohon agar dikarunia anak lagi,dan permohonan tersebut dikabulkan dan lahirlah seorang putera pada tahun 1349 M yang dinamakan Deneq Mas Pengendengan Segara Katon.Pada tahun 1417 M Deneq Mas Pengendengan Segara Katon melepaskan jabatannya,dan digantikan oleh Puteranya Deneq Mas Komala Jagat ( 1417-1462 M ).yang nantinya Deneq Mas Komala Jagat mendirikan Kerajaan Selaparang.

Dalam usia 63 tahun ( tahun 1417 M) Deneq Mas Pengendengan Segara Katon pergi menyepi ke Rembitan bersama seorang puteranya yang masih kecil bernama Deneq Mas Komala Sempopo berusia 7 tahun.Selama 35 tahun melakukan Tapa Brata di Rembitan dan usia 98 tahun ( 1453 M ) Deneq Mas Pengendengan Segara Katon tutup usia,sesuai dengan keyakinan agama yang dianut pada waktu itu maka Deneq Mas Pengendengan Segara Katon dipelebon dengan upacara ngaben.Pada tahun 1458 M dan 5 tahun sesudah wafatnya Deneq Mas Pengendengan Segara Katon ,Deneq Mas Komala Sempopo mendirikan Kerajaan Pejanggik yang mempunyai urutan pemerintahan sebagai berikut :


1-Deneq Mas Komala Sari.pada generasi kelima ( 1458-1586 M )
2-Deneq Mas Unda Putih pada generasi keenam ( 1586-1649 M )
3-Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari pada generasi ketujuh.( 1649-1667 M )

Kakak Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari yang bernama Pemban Mas Aji Komala dilantik sebagai raja muda dan mewakili Gowa di Sumbawa pada tangga13 November 1648 M. Sejak itulah tercatat bahwakerajaan Pejanggik mulai mengalami perkembangan.

Kerajaan Pejanggik mengalami perkembangan yang semakin pesat setelah bertahtanya Pemban Mas Meraja Sakti. Beliau kawin dengan putri Raden Mas Pamekel (Raja Selaparang) bernama Putri Mas Sekar Kencana Mulya. Dewa Mas Pakel sebagai raja diSelaparang menyadari kekeliruannya selama ini yang terlalu banyak memperhatikan Sumbawa dan melupakan Pejanggik yangmerupakan saudaranya. Selanjutnya raja Selaparang menyerahkan berbagai benda pusaka dalem ke Pejanggik yang merupakan pertanda bahwa Pejanggik menjadi penerus misi pemersatu di Gumi Sasak.Hal ini membuat raja muda Raja Mas Kerta Jagat yang merupakan pengganti selanjutnya di kerajaan Selaparang semakin tersinggung.

Bergabungnya Arya Banjar Getas membuat Pejanggik semakin kuat. Tetapi hal ini justra menyebabkan semakin renggangnya hubungan antara Selaparang-Pejanggik. KerajaanPejanggik pun mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Langko, Sokong, Bayan, Tempit dan Pujut. Kerajaan lainnya dijadikan kedemungan dengan gelar kerajaan seperti Datu Langko, Datu Sokong, Datu Pujut dan lain-lainnya. Sedangkan raja Pejanggik sendiri memakai gelar yang sama dengan kerajaan Selaparang yaitu Pemban. Semua. itu juga merupakan basil kepiawaian Arya Banjar Getas dalam menjalankan tugas-tugasnya dalam peperangan. la pun mendapat gelar tanirihan yaitu "Surengrana" dan "Dipati Patinglanga". Secara bertahap, strategi-strategi yang digunakan oleh Arya Banjar Getas adalah sebagai -berikut:

1-.Melakukan konsolidasi ke dalam Pejanggik.
2-Mengisolir Selaparang dengan mendekati kerajaan-kerajaan keluarga Bayan.
3-Menggerogoti kerajaan Selaparang dengan menguasai wilayahseperti Kopang, Langko, Rarang, Suradadi, Masbagik, Dasan Lekong; Padamara, Pancor, Kelayu, Tanjung. Kalijaga, barukemudian masuk ke Selaparang.

Arya Banjar Getas melakukan sebuah strategi konsolidasi dengan menyerahkan keris sebanyak 33buah kepada raja Pejanggik,lalu mengarak berkeliling dan menyerahkannya kepada para prakanggo untuk kemudian ditukar dengan keris pusaka masing-masing. Penukaran tersebut merupakan suatu bentuk kesetiaan dan loyalitas tunggal kepada raja Pejanggik. Keberhasilan Arya Banjar Getas melakukan berbagai gerakan tersebut langkah demi langkah disebut Politik Rerepeq.
Bila ditinjau dari segi kekuasaan, kerajaan Pejanggik sangat solid, akan tetapi langkah-langkah yang ditempuh oleh Arya Banjar Getas dianggap merombak tatanan hubungan yang merupakan jalinan yang telah dibina secara turun-menurun.

 Jika kita melihat generasi Kerajaan Pejanggik terdapat Delapan Generasi yaitu:

1-Kiyai Nala /Aditiyawarman adalah generasi ke satu datang ke Lombok tahun 1343 M
2-Bethara Tunggul Nala generasi ke dua ( 1343-1394 M )
3-Deneq Mas Pengendengan Segara Katon Generasi ke tiga ( 1393-1457 M )
4-Deneq Mas Dewa Komala Sempopo Generasi ke empat ( 1458-1518 M )
5-Deneq Mas Komala Sari Generasi ke lima ( 1518-1586 M )
6-Deneq Mas Unda Putih generasi ke enam ( 1586-1649 M )
7-Deneq Bekem Buta Intan Komala Sari Generasi ke tujuh ( 1649-1667 )
8-Maspanji Meraja Komala Sakti Generasi ke delapan ( 1667-1696)

Apabila kita melihat dari ke delapan Generasi tersebut dapat ditentukan lama dari satu generasi memerintah dalam satu priode pemerintahan,jika kita kembali priode datangnya Kiyai Nala ke Lombok tahun 1343 M,dan runtuhnya Kerajaan Pejanggik 1696 M,maka dapat dihitung Kerajaan Pejanggik berkuasa di Lombok bagian tengah selama 1696-1343=353 tahun,dan 353 tahun dibagi oleh delapan Generasi atau tujuh generasi ,karena Kiyai Nala /Aditiyawarman kembali ke Majapahit dan menjadi Raja Damasraya di Hulu Sungai Batang Hari dekat Palembang,maka tiap tiap generasi rata rata memerintah selama 40 sampai 50 tahun.

Dengan melihat hal tersebut di atas berdirinya Pejanggik tahun 1458 M oleh Deneq Mas Dewa Komala Sempopo,yang bercorak Hindu.Paada  zaman Deneq Komala Sari ( 1518-1578 M ),islam mulai tersebar di Lombok pada awal abad ke 16 M yaitu sekitar tahun 1506 M,dengan melihat hal tersebut Islam masuk ke Pejanggik pada masa pemerintahan Deneq Mas Komala Sari ( 1518 M, dan pusat Pemerintahan Pejanggik sudah dipindah ke Desa Pejanggik yang Sekarang.Adapun raja raja Pejanggik yang dulu masih beragama hindu mereka tidak memiliki bukti kuburan/makam ,karena mereka pada saat itu masih menggunakan pembakaran mayat/ngaben.Oleh sebab itu jejak tilas yang masih di makam Serewe adalah makam makam dari raja Pejanggik seperti  Deneq Mas Komala Sari,Deneq Mas Unda Putih,Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari yang sudah memeluk agama islam,dan Maspanji Meraja Komala Sakti dimakamkan di Ujung Karang Asem Bali setelah Pejanggik runtuh tahun 1696 M.

Pada tahun 1692-1696 M terjadi pemberontakan Banjar Getas. dalam pemberontakan tersebut Arya Banjar Getas meminta bantuan kerajaan Karangasem Bali, sehingga Pejanggik dapat dikalahkan. Raja Pejanggik Maspanji Meraja Sakti  ditawan dan diasingkan, kemudian wafat di Ujung Karangasem. Sedangkan para bangsawan Pejanggik diantara Maspanji Meraja Kusuma mengungsi ke Sumbawa yang nanti pulang kembali ke Sakre Lombok Timur,dan keturunan Pejanggik lainnya mengungsi ke tempat tempat yang aman di Pulau Lombok.Salah Seorang keturunan Datu Pejanggik bernama Maspanji Komala Patria adiknya dari Maspanji Meraja Sakti  mengungsi ke tempat yang dianggap aman,yaitu sebuah tempat di dekat Batu Dendeng yaitu yang dikenal dengan daerah Penenges.Setelah beberapa tahun di Penenges dekat Batu Dendeng , dia menikahi seorang putri dari Kateng yaitu Putrinya Denek Laki Ukir yang dulu menjadi salah seorang patih Pejanggik .Dari pernikahan Maspanji Patria dengan Putrinya Denek Laki Ukir,dia menpunyai seorang putra yang bernama Maspanji Turu.

Setelah beranjak Dewasa Maspanji Turu pun menikah dan menpunyai tiga orang putra yaitu:
1-Denek Laki Nanggali menetap di Kateng dan beranak pinak di Kateng.
2-Denek Laki Suwa menetap di Mangkung dan beranak pinak di Mangkung
3-Denek Laki Paritu menetap di Ketangga dan beranak pinak di Ketangga.

D.KEDATUAN LANGKO

Pada pertengahan abad ke 16 M, Selaparang mencapai puncak kejayaannya, rakyatnya hidup tenang dan damai, antara satudesa, dukuh dengan desa, serta dukuh yang lainnya, hidup dalam nuansa persaudaraan, hukum Islam dijalankan secara murni. Dalam naskah Kotaragama yang berisi tentang peraturan-peraturan yang berlaku di kerajaan Surya Alam (kerajaan yang dimaksudkan adalah Selaparang) tarcantum bahwa sifat seorang raja harus selalu berpedoman pada syariat agama Islam, bersedekah (sosial), memberi pengayoman, tidak ingkar (disiplin), menuntut ilmu pengetahuan. Siapapun yang bersalah harus dihukum sesuai dengan ketentuan hukum Islam meskipun pada anaknya sendiri; (putra mahkota).

Suatu ketika, saat sedang berjalan, di halaman, secara tidak sengaja permaisuri raja bersenggolan dengan Raden Mas Panji (Ntramahkota). Raden Mas Panji kemudian memukul kaki ibu tirinya dan peristiwa itu menyebabkan kematian sang permaisuri. Hukum harus di tegakkan, maka raja memanggil seluruh pembesar kerajaan untuk memutuskan hukuman. Prabu Anom memberikan hukuman mati kepada putra mahkota tercinta. Prosesi hukuman mati kepada putramahkota dipercayakan kepada Patih Singarepa, tetapi sang patiht idak kuasa dan tiada mampu menjalankannya. Akhirnya oleh Patih Singarepa, Raden Mas Panji diseberangkan ke Alas dan dititip kepada salah seorang Demung Alas yang menjadi sahabatnya. Itulah sebabnya bergelar Raden Mas Panji Tilar Negara (Tilar Negara artinya meninggalkan negaranya). Sekembalinya Patih Singarepa menjalankan tugas kemudian disampaikan kepada sang raja bahwa prosesi telah dilaksanakan sebagaimana petunjuk yang dititahkan.Raja Prabu Anom pun menangis sedih karena sangat sayangnya kepada sang putra mahkota.

Setelah wafatnya Prabu Anom kemudian Patih Singarepa meminta kembali Raden Mas Panji Tilar Negara untuk kembali keSelaparang. Patih Singarepa menyampaikan bahwa sebelummeninggal baginda mewasiatkan Raden Mas Pamekel sebagai pemegang tahta kerajaan. Mengetahui kejadian itu, Raden Mas Panji menerima keputusan dengan ikhlas dan merelakan adiknya menduduki tahta kerajaan. Setelah sampai di Lombok, Raden MasPanji Tilar Negara tidak ke Selaparang supaya adiknya mendapatkan ketenangan dalam memimpin kerajaan. la kemudian membuat pemukiman di Hutan Saba di atas Gunung Tembeng (sebelah selatanKopang sekarang). Patih Singarepa dengan setia mendampingi Pangeran Raden Mas Panji Tilar Negara. Pemukiman tersebut kemudian berubah menjadi pedukuhan yang disebut PedukuhanTembeng. Penduduknya hidup dengan tenang dan damai.Raden Mas Panji Tilar Negara dikawinkan dengan puteri Patih Singarepa. Dalam perkawinannya itu, Raden Mas Panji memperoleh dua orang putera, yaitu Raden Pringganala dan RadenTerunajaya. Setelah dewasa kedua putra tersebut memiliki sifat dankegemaran yang bertolak belakang: Raden Pringganala sangat gemar mengumpulkan dan memelihara berbagai jenis burung, sementara Rade n Terunajaya sangat gemar mengumpulkan berbagai macamsenjata.Ketika Raden Mas Panji Tilar Negara meninggal dunia, beliau dimakamkan di daerah Tembeng. Sedangkan pemimpin pedukuhan digantikan oleh Raden Pringganala. Suatu hari RadenTerunajaya menasehati kakaknya supaya mau ikut mengumpulkansenjata, akan tetapi ditolak sehingga menimbulkan perselisihanantara keduanya. Raden Pringganala kemudian mengusir RadenTerunajaya dari Tembeng. Raden Terunajaya pun meninggalkanPedukuhan Tembeng dan membuat pemukiman di hutan Lengkukun.Di pemukiman tersebut beliau beserta para pengikutnya membangun masjid dan pasar. Pemukiman inilah yang kemudian berubah menjadi Kedatuan Langko dengan Raden Terunajaya sebagai pemimpinnya .

Raden Terunajaya berniat hendak memberikan pelajarankepada kakaknya akan arti pentingnya persenjataan. Maka disusunlah rencana penyerangan ke pedukuhan Tembeng. Teknik penyerangan diserahkan sepenuhnya ke Patih Singarepa. Strategi yang digunakan sangat sederhana yaitu mengumpulkan semuawanita, anak-anak, orang dewasa sebagai pembawa hewan piaraanseperti sapi, kambing, kerbau, kuda dan lain-lain. Sebagai lapisan terakhir adalah pasukan bersenjata lengkap dengan bedil, tombak, panah dan sebagainya. Strategi ini dilakukan karena RadenTerunajaya memang tidak menginginkan adanya korban jiwa. Hal ini juga sebagai rasa hormat dan sayang masih sangat mendalam kepada kakaknya.Pada tengah malam semua pasukan harus segeradiberangkatkan agar tiba di pintu gerbang Tembeng. PedukuhanTembeng dikuasai tanpa adanya perlawanan yang berarti. RadenPringganala pun menyerah. Beliau beserta para pengikutnya yangsetia disarankan untuk pergi dari Tembeng dan mencari pemukiman baru. Mereka pun mendirikan perkampungan Praubanyar di Lombok Timur sekarang.

Setelah menguasai Tembeng, maka Kedatuan Langko semakin luas dan meningkat menjadi kerajaan. Raden Terunajaya menjadi rajanya dan bergelar Prabu Langko. Raden Terunajaya mempunyai empat orang putera yang semuanya laki-laki. Masing-masing bernama: Raden Putra, Raden Natadiraja, Raden Ajiwayah dan RadenAjiundak. Sementara itu diberitakan juga bahwa sangkakak Raden Pringganala di Praubanyar juga sudah mempunyai 4(empat) orang putri yang masing-masing bernama: Denda Suparta,Denda Suparah, Denda Supadan dan Denda Supayang. Patih Singarepa menyarankan agar menyambung kembali persaudaraan yang lama terputus dengan jalan mengawinkankeempat putra Raden Terunajaya dengan keempat putri dari Raden Pringganala, Anjuran tersebut diterima dengan lapang dada.Akhirnya bertautlah persaudaraan Kerajaan Langko dan Praubanyar.Keempat pasangan tersebut adalah:- Raden Ajiundak beristrikan Denda Supayang.- Raden Ajiwayah beristri Denda Supadan.- Raden Natawijaya beristri Denda Suparah.- Raden Putra beristri Denda Suparta.

Raden Ajiwayah diangkat sebagai putra mahkota danmenggantikan Raden Terunajaya sebagai Prabu Langko. Kemudian raja ini mempunyai anak bernama Raden Suryanata. RadenTerunajaya dan Path Singarepa meninggal dan dimakamkan diLangko. Pada masa kekuasaan Raden Ajiundak pemerintahansemakin mundur sehingga penyerangan Karangasem yang bergabungdengan Arya Banjar Getas tidak dapat ditangkal. Akhirnya kerajaan Langko pun menyerah kalah.

E-KEDATUAN SOKONG

Penetapan nama desa Sokong, Nama sokong yang awalnya bernama SUKUN, setelah pase pengembangannya pada tahun 1343 Kiyai Nala/Empu Nala atau di Bali lebih dikenal dengan Arya Dhamar datang ke Lombok dan menurunkan bagian dari tokoh yang disebut Datu Besanakan Telu / Tiga Bersaudara yaitu :

(1)- Betara Mas Kerta Jala di Sulawesi,
(2)- Betara Mas Indra Sakti di Klungkung, Bali,
(3) -Betara Mas Tunggul Nala di Lombok.
.
Betara Mas Tunggul Nala menurunkan datu-datu Lombok seperti Bayan,
Selaparang dan Pejanggik. Betara Mas Tunggul Nala mempunyai dua orang putra
yaitu
1.- Deneq Mas Muncul yang menurunkan datu-datu Bayan.
2.- Deneq Mas Putra Pengendengan Segara Katon mendirikan Kedatuan
Kayangan (Labuan Lombok) menurunkan datu-datu Selaparang dan Pejanggik yaitu

(a) Sri Dadelanatha,menjadi Datu Langko
(b) Deneq Mas Komala Dewa Sempopo,menjadi Datu Pejanggik
(c) Deneq Mas Komala Jagat menjadi Datu Selaparang

Pada Awalnya Sokong dikenal nama SUKUN berubah menjadi nama SOKONG.Di dalam Kitab Negarakertagama karangan Empu Pranpanca pada pupuh ke 14 yang berbunyi "Sawetan ikanaɳ tanah jawa muwah ya warnnanen, ri balli makamukya taɳ badahulu mwan i lwagajah, GURUN makamukha SUKUN / ri taliwaɳ ri dompo sapi, ri saɳhyan api bhima çeran i hutan kadaly apupul.Muwah tan i GURUN sanusa manaran ri lombok mirah, lawan tikan i SAKSAK adinikalun / kahajyan kabeh, muwah tanah ibanatayan pramukha banatayan len / luwuk, tken uda makatrayadinikanaɳ sanusapupul.." Yang artinya sebagai berikut,

"Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah, GURUN serta SUKUN, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo, Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.PULAU GURUN, yang juga biasa disebut LOMBOK MIRAH, Dengan daerah makmur SAKSAK diperintah seluruhnya, Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk, Sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk"

Laksamana angkatan laut Majapahit Empu Nala datang tahun 1343 M untuk melakukan expedisi ke Lombok,melalui Lombok Utara dan dilanjutkan dengan ekspedisinya ke bagian timur ke Sumbawa dan Sulawesi.Ketika pemerintahan Ratu Ramadha Wardani (Majapahit). Maha Patih Gajah Mada melakukan inspeksi ke Lombok untuk melaksanakan Sumpah Amukti Palapanya pada tahun 1352M (sumber Piagam Manggala). Sokong juga dikenal sebagai wilayah tengah yang dikenal dengan nama Lombok Tengah pada waktu itu. Gajah Mada melakukan perjalanan dari Labuhan Carik Bayan .Penjor dan dilanjutkan ke barat lewat darat .

Pada saat inspeksi tersebut Gajah Mada meresmikan berdirinyabeberapa kedatuan di Lombok Utara, antara lain :

1- Kedatuan bayan
2-Kedatuan Sokong,

Kedatuan Sokong berpusat di Dusun Selelos/Bebekek yaitu berada di wilayah Kecamatan Gangga.Adapun petilasan dari Kedatuan Sokong saat ini masih tersisa di Hutan Bebekek (Bebengkek atau Blengkek)..Pada perkembangannya Kedatuan Sokong ini dibagi menjadi dua bagian yang menjadi pemisahnya adalah kali sokong. Dari timur kali sokong sampai ke Desa Bebekek adalah “Sokong Belimbing”, sedangkan dari barat kali sokong sampai daerah Mambalan (kecamatan Gunung sari) adalah Sokong “Kembang Dangar”.
Gajah Mada melanjutkan perjalanan ke barat yaitu ke keluak (sungai Keluak di desa sokong sekarang),Ampenan,Perigi (Gerung) ,Sedau (narmada).Teros (Lombok timur),Pulau Sumbawa dan tercatat dalam kitab Kertagama. Sepanjang perjalanan Gajah Mada meresmikan berdirinya kedatuan-kedatuan seperti

1- Kedatuan Selaparan
2-Kedaro
3-Batu Dendeng
4-Teros
5-Sumbawa
6-DLL

F-KEDATUAN BANJAR GETAS

Sri Airlangga kemudian menurunkan

1-Sri Jayabaya menjadi Raja Kediri yang terkenal dengan ramalannya dalam kitab Jangka Jayabaya.

2- Sri Jayabasha menjadi Raja Jenggala  yang keturunannya menjadi seoarang Maha Menteri di Kerajaan Majapahit yang bernama Adwaya Brahma yang menikahi Dara Jingga yang melahirkan enam orang putra diiantarannya Arya Damar /Kiyai Nala yang menurunkan raja Selaparang,Pejanggik,Bayan dan Langko di Lombok.

Sri Jaya Baya memiliki tiga orang putera yakni

1-Sri Dangdang Gendis,
2-Sri Jayakatong
3-Sri Jayakatha.

Selanjutnya dari Sri Jayakatha menurunkan tiga orang anak yaitu:

1-Arya Wayahan Dalem Menyeneng,
2-Arya Katnagaran
3-Arya Nudhata.

Dari keturunan inilah kemudian menurunkan Arya Gajah Para dan Arya Getas yang kemudian di dalam babad Arya Gajah Para disebutkan setelah kembali dari Jawa, menetap hingga memiliki keturunan 3 (tiga) orang, oleh raja Gelgel kemudian Arya Getas diperintahkan menyerang Seleparang.

Merunut hirarki generasi raja-raja Singasari-Majapahit .maka keturunan ke empat atau kelima dari Tunggul Ametung),yang setara dengan Arya Getas adalah Jayanegara dengan angka tahun saka (1231-1250 Ck/1309-1389 M) .

Dalam catatan sejarah, pada abad ke-14 adalah masa pemerintahan Raja Hayamuruk,dan terdapat informasi, bahwa sekembalinya dari sebuah pertemuan dengan raja-raja se Nusantara di kerajaan Majapahit, Raja Gelgel di berikan 40 orang pakadan (orang biasa) yang beragama Islam.oleh Raja Hayamuruk.Orang-orang tersebut selanjutnya ditempatkan di Desa Gelgel (Wawancara dengan tokoh agama Islam Desa Gelgel. Apakah Arya Getas adalah salah satu yang ikut diantara 40 orang yang kini menurunkan warga Desa Gelgel, tentu hal ini memerlukan penelitian lebih jauh.
Dari sumber yang termuat dalam babad Arya Gajah Para, ada beberapa hal yang perlu untuk diperjelas. Masa sebagaimana perkiraan tahun yang dibuat berdasarkan urutan geneologi merujuk pada genealogi raja Singasari-Majapahit menunjukkan bahwa masa Arya Getas dalam Babad tersebut adalah sekitar abad ke 14, sementara keruntuhan Pejanggik dan Seleparang yang melibatkan Arya Banjar Getas terjadi antara tahun 1722-1725. Sumber lain, dikemukakan oleh Agung , yang sepertinya merujuk kepada Babad Arya Gajah Para “Treh dari Arya Gajah Para (Arya Getas-pen-) di Bali. Keberadaannya di Lombok ialah menjadi telik tanem (mata-mata) raja Bali (dalem) Gelgel untuk mengetahui keadaan dan perkembangan di Lombok.

Arya Banjar Getas datang ke pulau Lombok dari Jawa Timur dengan membawa pengiringnya. Mula-mula mereka singgah dikerajaan Sokong Tanjung di Lombok Utara sekarang. Arya Banjar Getas ditugaskan untuk membuat patung, akan tetapi patung yang dibuat menimbulkan kecurigaan Datu Sokong. Arya Banjar Getas pun disingkirkan dari Sokong. Kemudian Arya Banjar Getas bergerak ke timur hingga sampai di Wanasaba (itulah sebabnya diWanasaba ada sebuah desa bernama Banjar Getas). Di Wanasaba ia sakit, kemudian ia pun bernazar jika ia sembuh kelak maka ia akan menghadap ke raja Selaparang. Di kerajaan Selaparang ia pun jugamenemukan nasib yang kurang baik. Akhirnya Arya Banjar Getas juga disingkirkan dari Selaparang. Hal itulah yang membuat Selaparang benci terhadap Pejanggik karena menerima Arya Banjar Getas sebagai ptih.
Kerajaan Selaparang bersama Amasa Samawa berhasil mengusir Arya Banjar Getas (Aria Sudarsana) sampai di Pagutan. Dari Pagutan Arya Banjar Getas bergabung dengan kerajaan Pejanggik. la kemudian banyak membantu Pejanggik dalam melebarkan sayap kekuasaannya dengan menggunakan politik Rerepeq. Politik Rerepeq yang dijalankan terus berlanjut hingga ke Mambalan dan Sokong. Sebelum politik Repepeq sampai ke Bayan, raja Pejanggik justru mengambil kebijakan untuk membersihkan wilayahnya dari pengaruh Pagesangan dan Pagutan.Kerajaan KarangAsem Bali yang memang ingin menguasai kerajaan-kerajaan di Lombok mendarat di Pantai Padang Reak. Hal ini dimanfaatkan oleh Arya Banjar Getas dengan meminta bantuan Karang Asem untuk menyerang Pejanggik dan Selaparang.Kemenangan Arya Banjar Getas dan Karangasem dalam peperangandi Tanaq Beaq menyebabkan hubungan keduanya semakin baik.Hubungan baik tersebut dituangkan dalam sebuah sumpah bahwamereka akan selalu bergandengan tangan secara damai turun-temurun. Kemudian keduanya membuat perjanjian yang dikenal dengan "Perjanjian Timur dan Barat Juring". Isi perjanjian tersebut adalah, untuk bagian barat dimiliki dan dikuasai oleh Karangasemsedangkan bagian sebelah timur dimiliki dan dikuasai oleh Arya Banjar Getas.Batas antara kedua bagian tersebut adalah Sungai Pandan,Sweta Penanteng Aik, Pelambik, Ranggagata, dan Belongas. Raja Karangasem menempatkan wakilnya I Wayan Tegeh dengan ibu kotaTanjung Karang, kemudian dipindah ke Mataram. Sedangkan Arya Banjar Getas mendirikan kerajaannya di Memelaq dan menguasai wilayah Batu Kliang, Puyung serta Praya.

Langkah Awal yang dilakukan Arya Banjar Getas adalah mengkonsolidasikan kekuasaannya ke wilayah-wilayah kedemunganyang semula dikuasai raja Pejanggik dan dijadikan sebagai pemegang kekuasaan di daerahnya dengan sebutan "Perkanggo"(penguasa). Kemudian kebijakan Arya Banjar Getas adalah membangun masjid, pasar serta pelaksanaan syariat Islam secaramurni, rakyatnya tidak dipunguti pajak.Selama pernerintahannya, Arya Banjar Getas membagi wilayah kekuasaan kepada putra-putrinya maupun menantunya yaitu:

1.-Dende Wirachandra dikawinkan dengan Panji Langko dan diberiwilayah kekuasaan meliputi Mujur, Marong, Ganti hingga ke lautsebelah timur.

2.-Raden Juruh diberi kekuasaan untuk memerintah di Batukliang akan tetapi, kerjasama Arya Banjar Getas dengan Karangasem Bali tidak mendapatkan restu dari datu-datu di daerah Lombok.

Oleh sebab itu, dalam pemerintahannya banyak datu-datuyang melakukan pemberontakan, antara lain:

1-Pemberontakan Datu Bayan dan Datu Buluran. Kedua raja ini menyerbu Pringgabaya namun serangan itu dapat ditahan dan keduanya tewas dalam pertempuran tersebut.
2- Pemberontakan Datu Kadinding tetapi juga dapat dipatahkan.
3- Pemberontakan Datu Semong Moh Jalaluddin, raja Sumbawa. Datu Semong tewas karena pengkhianatan saudaranya. Perang ini dilanjutkan oleh pembantu-pembantunya sampai tahun 1725 M.
4-Pemberontakan Selaparang, yang juga dapat dipatahkan dan sebagian rakyatnya diboyong ke Sekarbela, Dasan Agung dan Rembiga.Keberhasilan Arya Banjar Getas dalam menangkal setiap serangan dari luar memang lebih dikarenakan bantuan Gusti Ketut Karangasem.

Adapun penyebab keruntuhan Kerajaan Arya Banjar Getas adalah:

1- Banyak kekacauan terjadi sehingga tidak berkesempatan untuk membangun dan menata wilayah kekuasaannya sebagaimanamestinya.
2- Karangasem ingkar janji terhadap sumpah yang pernah dilakukan. Banyak wilayah kekuasaan Arya Banjar Getas yang diambil alih.
3- Ketika Arya Banjar Getas meninggal, putra-putra penggantinya kurang memiliki kemampuan dalam menata kerajaan.Sedangkan yang menjadi raja selanjutnya adalah:

1-Raden Ronton.Dalam kepemimpinannya, Raden Ronton memindahkan ibu kotake hutan Berora yang berubah menjadi Praya.

2-Raden Lombok Raden Lombok memperistri puteri raja Sokong Prawira. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putera bernama Dene' Bangli. Pada masa pemerintahan Deneq Bangli terjadi pemberontakan Demung Selaparang yang dibantu oleh komplotan bajak laut. Untuk menumpas pemberontakan itu diperintahkanlah paman Deneq Bangli untuk mengejar komplotan bajak laut itu sampai ke Sumbawa. Dalam pengejaran ini, sesampai di Labuan Lombok, paman Deneq Bangli menderita sakit kemudian meninggal duniadi Ketangga. Beliau disebut Raden Hang Ketangga. Dene' Banglidiganti oleh puteranya bernama Raden Mumbul.

3-Raden Mumbul Raden Mumbul gugur dalam suatu perang tanding denganDemung Bone Mamben memperebutkan seekor kuda belang panji. Setelah Raden Mumbul meninggal maka ia digantikan Raden Wiratmaja.

4-Raden Wiratmaja Pada masa pemerintahan Raden Wiratmaja daerahnya banyak mendapatkan tekanan dari Karangasem. Karangasem memaksarakyat membayar upeti sehingga timbullah Perang Praya pertama. Peperangan Praya I ini merupakan titik awal berakhirnya kerajaan Arya Banjar Getas tepatnya pada tahun 1841 M. Dengan demikian, pada akhir abad ke-18 sampai permulaan abad ke 19 M,kerajaan Karangasem berhasil menjadi kerajaan terkemuka di Bali. Kerajaan Karangasem Lombok Bagian Barat membentuk kerajaan Mataram dan kerajaan Singasari. Pada era inilah terjadi migrasi besar-besaran orang-orang Bali ke pulau Lombok.


G-KEDATUAN SAKRA

Perang Pejanggik Mas Meraja Sakti, dengan pihak Banjar Getas yang di bantu Anak Agung Karangasem berlangsung pada tahun 1692 M,dengan runtuhnya Pejanggik ,dan Pemban Maspanji Meraja Sakti ( Datu Pejanggik ) ditawan dan di buang ke Ujung Karangasem Bali . Sedangkan seorang puteranya yang Maspanji Meraja Kusuma tidak diperkenankan ikut berperang oleh ayahandanya,Maspanji Meraja Kusuma,tidak berani membantah perintah ayahnya. dan la menyelamatkan dirinya ke Sumbawa,dan banyak dari keturunan Pejanggik yang mengungsi ke daerah daerah aman di di Pulau Lombok,

Maspanji Meraja Kusuma bercita cita dapat merebut kembali tongkat kekuasaannyayang hilang. Beliau diiringi oleh sebagian pengawalnya, dan secara khusus dilindungi oleh benteng Petak Purwadadi yang kuat. Beliau menetap dan membuka pemukiman baru sebagai perintis imigranLombok di pulau Sumbawa bagian barat dan mendirikan desaJelenga di wilayah kecamatan Jereweh sekarang.Merasa telah dilecehkan, beliau sendiri bersumpah tidak akanmenginjakkan kakinya di pulau Lombok. Tetapi beliaumempersiapkan generasi penerusnya, Pemban Penganten Purwadadi sebagai putra mahkota pada generasi ke XI. la dinobatkan sebagairaja dalam pengasingan didampingi oleh adiknya,

Deneq Laki MasOrpa, dan saudara dari selir, Rade Nune Ratmaja Tember.Setelah kerajaan Purwadadi sebagai benteng terakhir Pejanggik dapat dihancurkan oleh Karangasem dan Banjar Getas, para prajurit melarikan diri ke hutan-hutan sekitarnya, sebagian lagi menyusul ke Sumbawa.Merasa sudah mapan, pihak Karangasem merasa curiga atas perkembangan Banjar Getas. Mereka mengetahui bahwa dendam Pejanggik lebih besar kepada Banjar Getas daripada Karangasemsendiri. Maka mereka pun mengirimkan utusan untuk mempersilahkan Pemban Penganten Purwadadi kembali ke Lombok dengan syarat mau menjalin hubungan baik dengan Karangasem dan bila suatu saat diperlukan bersedia untuk bersama-sama menghadapi Banjar Getas.Pada mulanya Pemban Penganten Purwadadi menolak rencana tersebut. Akan tetapi, mengetahui mulai adanya persaingan antara Banjar Getas dengan Karangasem, maka secara diam-diam beliau mengirimkan para pengiringnya, termasuk ibu tirinya dengan membawa serta Raden Nuna Ratmaja Tember yang masih kecilsebagai lambang dan wakil sementara. Mereka mengambil tempat diGawah Pengkalik Tanaq, di seberang kali utara Purwadadi. Tempatinilah yang dianggap sebagai cikal bakal berdirinya kerajaan baru yang sekitar tahun 1870 M diberi nama Sakra.

Didukung oleh para demung yang di zaman Pejanggik dulu merasa kecewa tetapi akhirnya merasa prihatin karena kehilangan pemimpin, dengan cepat daerah Sakra pun berkembang.Beberapa tahun kemudian Pemban Penganten Purwadadimemerintahkan adiknya Deneq Laki Mas Orpa menyusul pulang keLombok, menempati sisi selatan yakni di daerah Pijot yang dianggap lebih mudah untuk menjalin hubungan ke Sumbawa. Terakhir baru putra Pemban Penganten sendiri, Pemban Ilang Mudung yang juga menjaga dan menempati pesisir timur.Sebelum kembali ke Lombok, Pemban Ilang Mudung telahkawin dengan seorang putri bangsawan Sumbawa. Perkawinan tersebut melahirkan dua orang putra yakni Lalu Jelenga dan Lalu Centung yang tetap tinggal di Sumbawa menemani ibu beserta kakeknya yang sudah sepuh, Pemban Penganten Purwadadi.Sedangkan dari hasil perkawinan di Lombok, beliau belum berputra.Raden Dirangsa menemani ayahnya di Mudung Korleko. Adik-adiknya yang memperkuat Sakra terdiri dari Raden Gde Angir,Raden Nuna Gde Lancung dan Raden Pagutan.Sedangkan Deneq Mas Orpa, mempunyai seorang putri hasil perkawinannya dengan bangsawan Sumbawa. putri itu bernama putri Bini Ringgit yang nantinya cukup memberikan peranan dalamsejarah Sakra, bahkan Lombok pada umumnya.Pada tahun 1800 M datanglah rombongan dari Gowa di bawah pimpinan Karaeng Manajai, menapaktilasi dan menilik keadaan bekas wilayah kekuasaan Gowa, Manggarai, Bima, Dompu,Sumbawa dan Lombok. Di Lombok, beliau menemukan Selaparang yang sudah runtuh dan menyaksikan jejak jejak kerajaan Pejanggik yang masih mempunyai hubungan darah dengan Selaparang. DariLabuan Lombok beliau kemudian berlayar menuju Labuan TanjungLuar menemui Deneq Laki Mas Orpa. Terjadilah kesepakatan perkawinan yang berbau politik antara Pemban Bini Ringgit, putridari Deneq Laki Mas Opra dengan Karaeng Manajai. Sebelum perkawinan itu dilangsungkan, Karaeng Manajai kembali dulumenyelesaikan urusannya di Goa

Pada tahun 1805 M iakembali untuk menetap di Lombok dan kawin dengan Pemban BiniRinggit. la ditugaskan di wilayah Ganti yang berbatasan dengan Banjar Getas. Perkawinan tersebut menghasilkan seorang putra bernama Dewa Mas Panji Komala yang nantinya dalam usia yangsangat muda, memimpin perlawanan pertama Sakra terhadapkekuasaan Karangasem. Seorang lagi putri hasil perkawinan KaraengManajai dan Pemban Bini Ringgit bernama Denda Bini Nyanti.Sebagai keturunan seorang pengembara, sejak muda DewaMas Panji Komala sudah memisahkan diri dan tinggal di Beleka. Halitu dilakukan juga atas perasaan kecewanya akibat ketegangan antara orang tuanya. Ibunda Dewa Mas Panji Komala, Pemban BiniRinggit, merasa dilecehkan atas pernikahan Karaeng Manajai denganseorang gadis dari Gelanggang bernama La Bunga.Perkawinan antara Pemban Bini ringgit dengan Karaeng Manajai dari Goa ternyata cukup meresahkan para musuh bebeyutannya, yakni kerajaan-kerajaan di Bali. Mereka resah dan sangat mengkhawatirkan kondisi Karangasem yang sedang dilanda persoalan internal antar puri dan berpotensi terjadi perang saudaraantara Mataram, Pagesangan, Pagutan dan Singasari yang dianggaplebih tua. Oleh karena itulah pihak Karangasem segera mendekatiSakra serta menuntut perlakuan yang sama melalui perkawinan politik. Agaknya yang diincarnya adalah Dende Bini Nyanti. Tetapi pihak Sakra justru hanya mengirimkan puluhan gadis dari kalanganorang biasa saja untuk dipilih, semuanya pun lantas ditolak dan dikembalikan.
Raja Karangasem kemudian menyatakan akan datang sendiri dengan segala kehormatan dan kebesarannya.Menyikapi rencana raja Karangasem tersebut, terjadilah silang pendapat dan pengelompokan. Mereka yang moderat darikalangan para tetua, terutama Karaeng Manajai sendiri, berpendapatsebaiknya tawaran raja Karangasem tersebut diterima dengan sikap politis juga. Hal itu dilakukan untuk mempersiapkan diri terhadapkemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Apabila memang sudahwaktunya untuk merebut kembali tongkat yang hilang bisa denganmudah merebutnya dari pihak karangasem yang terancam perangsaudara, bila perlu meminta bantuan Sumbawa dan Goa untuk mencapai tujuan itu. Disamping itu, jika Karangasem benar-benar dilanda perang saudara, siapa tahu melalui perkawinan bisaditaklukkan tanpa kekerasan.Di lain piha lk-, terutama di kalangan orang-orang muda,muncul sikap militansi yang justru dluukung oleh Pemban BiniRinggit yang kecewa terhadap suaminya. Bahkan karenakejengkelannya tersetut, ia menyebut suaminya orang luar yang tidak tahu perasaan rakyat dan kawula bala yang setia dan siap matimembela kehormatan kerajaan Sakra penerus Pejanggik.
Menurut Pemban Bini Ringgit, sekaranglah waktu yang tepat memanfaatkan tidak rukunnya puri Singasari dengan para saudaranya.Demikianlah, diam-diam Sakra mempersiapkan diri menghubungi berbagai pihak yang , diharapkan akan memberidukungan. Bahkan untuk bisa menarik dukungan Sumbawa, Gowa dan orang-orang pesisir pantai, Dewa Mas Panji Komala bersama ibudan adiknya ditarik masuk , Sakra. Dalam usianya yang sangat muda,sekitar 16 tahun, Dewa Mas Panji Komala diangkat menjadi raja,sebagai lambang pemersatu sekaligus sebagai senopati perang.Gerakan dimulai dengan membersihkan wilayah timur. Desa-desa yang bersikap setengah hati dalam memberikan dukungan,digempur dengan kekerasan, para pemimpin beserta anak¬istrinya disandera dan dibawa ke Sakra. Meskipun kaget, Karangasem bergerak cepat. Mereka berhasil meredam dan menunda perselisihansesama mereka. Jika benar-benar menang, pihak Sakra tidak akan pilih bulu untuk menghancurkan saudara-saudara kerajaan Karangasem yang ada.
Pihak Karangasem menduduki Mendana,Mujur dan Kopang. Meskipun Mendana, Mujur dan wilayah selatan berhasil dibersihkan kembali, akan tetapi Kopang dibuat sebagai benteng pertahanan yang sangat kuat, sehingga Raden Bendesa diKopang tidak dapat berkutik.Terlalu muda sebagai pemimpin dan tanpa wawasan sertastrategi perang yang mapan memang sangat berpengaruh terhadapkualitas kepemimpinan Dewa Mas Panji Komala, terutama di dalam pengambilan keputusan. Desa-desa yang telah dibebaskan tidak diduduki, dan ketika gagal menembus Kopang, para pasukan Sakramalah kembali pulang.Konsolidasi kekuatan hanyalah berbentuk mengumpulkanorang sebanyak-banyaknya bertumpuk di desa Sakra tanpa gerakanlanjutan. Bebasnya wilayah timur dan terkumpulnya kekuatan yang besar membuat mereka puas dan merasa diri telah menang. Nasihatyang tua-tua karena terlanjur bergerak haruslah terus menyerangtidak digubris bahkan dijawab: "Kalau memang benar Bali itu jantan,silahkan dia datang, kita tunggu disini saja".Pusat desa memang ditata, dilengkapi petak jonggah yangkuat. Puri yang ada sebelumnya diperbaiki, begitupula tempat tinggalibu suri Pemban Bini Ringgit bersama sang raja Dewa Mas PanjiKomala. Memang benar, Dewa Mas Panji Komala mempunyaikharisma yang sangat kuat, berwibawa dan pemberani, namuncenderung nekat tanpa perhitungan. Terpaksalah yang tua-tua bergerak sendiri dengan kekuatan terbatas mengusir kelompok-kelompok kecil prajurit, Karangasem yang masuk mengganggu desa-desa yang telah dibersihkan.Gangguan-gangguan itu merupakan strategi yang tepat agar Sakra terus sibuk, sementara Karangasem mempersiapkan diri untuk serangan balik yang mematikan. Sebaliknya di pihak Sakra malahmerasa puas, sibuk berpesta pora mabuk-mabukan. Beberapa kali serangan besar yang dicoba Karangasem memang selalu dapatdipatahkan, tetapi mereka tidak tahu bahwa pihak Karangasemsedang mempersiapkan diri dengan prajurit yang lebih teratur dan profesional serta dilengkapi dengan taktik dan strategi yang cukup jitu.
Karangasem menyadari, kendati pun Sakra yang semulahanya daerah kecil di wilayah kekuasaannya, akan tetapi memilikiketangguhan yang lebih dibandingkan Pejanggik.
Sakra sangat solid,merupakan pedaleman tunggal dan tidak memiliki pedaleman lain di bawahnya, oleh karena itu wilayahnya sangat utuh. Maka tidak mudah mengalahkan Sakra dengan kekuatan konvensional. Dengan demikian Karangasem benar-benar mempersipakan diri. Berbagai perlengkapan senjata seperti bedil dan kapal (dengan nama Sri Cakra dan Sri Mataram) dibeli dari Singapura. Selain itu, untuk menambah kekuatan didatangkan pasukan dari Karangasem dan Kelungkung.Karangasem memerlukan persiapan sekitar tiga tahun untuk dapatmelawan Sakra sambil melancarkan serangan-serangan kecil kewilayah Sakra. Seolah-olah hanya kekuatan kecil itu yang dimiliki Karangasem, hingga saat itu pun tiba.Serangan balik dilancarkan oleh Raja Muda Mataram A.A Gde Karangasem. Satu demi satu desa diserang oleh Karangasem yang dilengkapi senjata bedil. Tiap desa yang dilalui penduduknya dipaksa menjadi tameng. Sebagai prajurit profesional, mereka tidak langsung menusuk ke jantung pertahanan Sakra, melainkan mengggelar strategi Sapit Urang untuk mengepung Sakra.Setelah melalui Rarang, Suradadi, Padamara, maka pangkalan di Kopang dipindahkan ke Masbagik. Setelah itu menaklukan Penede Gandor, mereka pun memasuki wilayah Surabaya. Meskipun PeSiraga Perkanggo Surabaya yang perkasa itu melakukan perlawananyang gagah berani, akan tetapi tidak berdaya menghadapi pasukanyang lengkap bersenjata bedil. Keadaan itu memaksa Pe Siraga Lokasi desa Sakra memang dipilih dengan pertahanan dikelilingi oleh kali yang dalam di sebelah timur, sisi selatan dan barat. Sedangkan di sebelah utara berderet bukit-bukit sebagai benteng alam.
Pasukan dari Kelungkung setelah menyapu Mujur, Ganti, dan Beleka maju terus melalui Jerowaru dan Mendana. Lalu berhenti berkemah di sebelah barat sebelah kali Palung yang dalam.Di sebelah timur tepatnya di bukit Selong, berkemah para prajurit Pagutan dan Pagesangan. Barulah kemudian pasukan induk menduduki bukit-bukit di sebelah utara untuk perang urat saraf dimalam hari dengan menggelar pesta dan mendatangkan penari Joget.A.A. Gde Karangasem menerapkan strategi Gelar Perang Garuda Ngelayang. Para prajurit tameng yang terdiri dari orang-orang Sasak,mereka juga ditugaskan untuk terus menerus membuat gangguandengan serbuan setiap hari. Pengepungan yang berbulan-bulan tanpaserangan besar-besaran benar-benar menyebabkan prajurit Sakramen jadi frustasi. Orang Sakra yang tidak mengerti strategi perangmerasa tak habis pikir ketika siang dan malam pihak Bali terusmenerus menembakkan bedilnya, Pipian Langit, dan ditertawakan sebagai orang kaya yang membuang-buang mesiu. Mereka tak mengerti strategi perang urat saraf sementara bantuan yang diharapkan dari Goa dan Sumbawa tak kunjung datang karena kurang koordinasi.
Akhirnya prajurit Sakra tak punya pilihan lain kecuali keluar mengamuk tanpa aturan melawan prajurit-prajurit Sasak sendiri yangdipergunakan sebagai tameng hidup oleh prajurit Bali. Sementara orang Bali sendiri berada pada barisan belakang mempergunakan senjata lengkap. Pada pertempuran tersebut, Raden Nuna Gede Lancung beserta saudaranya gugur di sisi barat. Sementara di sebelah timur yang dipertahankan oleh Raden Benta, Raden Mombek, dan Raden Bentabonter juga mengalami nasib yang sama. Begitu pula dengan pasukan induk di sebelah utara, meskipun mampu merobohkan begitu banyak prajurit-prajurit Bali akan tetapi juga mengalami nasib yang sama.Setelah banyak prajurit-prajurit tangguh Sakra yang tewas, barulah prajurit-prajurit Bali maju dan memasuki Sakra dengan membawa perlengkapan senjata lengkap. Puri yang hanya tinggaldan dipertahankan oleh Pe' Siraga juga jebol dan diratakan dengantanah. Seluruh bangsawan Sakra mati, kecuali para kanak-kanak yang sebelumnya telah diungsikan ke Korleko. Pe Siraga sendiritewas sementara Raden Bini Ringgit menyiapkan pusakanya danuntuk pertama kalinya meminta ampun kepada suaminya sebelum puputan sabil. Raden Bini Ringgit meminta bantuan pada suaminya untuk menyelamatkan anaknya yang masih bertempur di dalam desa,akan tetapi Karaeng Manajai menemukan putranya sudah tewas.Pemban Bini Ringgit karena sudah sepuh dan tua gagal puputan sabil, dengan mudah ia ditangkap dan ditahan sebagai sandra yang sangat berharga di Taman Kelepug (Mayura) dan didampingi oleh anak tirinya. Perang Sakra ini berlangsung padatahun 1824-1828M meluluh lantakkan Sakra. Perang ini disebut "Peresak". Kerajaan Sakra dianggap runtuh dan hanya berumur 50 tahun, terhitung sejak 1780 M hingga dengan 1828M. Setelah kekalahannya, pihak Sakra kemudian menjalin dan membina hubungan baik dengan kerajaan Karangasem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar